RSS

Bangsaku Bangkit

01 Jan
Bangsaku Bangkit

Spoiler for penting:

cerita ini akan aku buat menjadi 3 sesi untuk sementara ini:

  • bangsaku bangkit
  • bangsaku membara
  • bangsaku bagaikan api dalam sekam

Bahtera keluarga kakek-nenekku dikayuh di masa bangsa kita masih dalam cengkeraman penjajah Belanda. Ketika itu semangat untuk merdeka telah mulai membara di dada para pemimpin pergerakan bangsa. Yordan, seorang ahli purbakala bangsa Jerman yang belajar di Negeri Belanda dengan mengambil studi khusus mengenai Rantaian Kepulauan Hindia-Belanda, menamakan kepulauan tersebut dengan “Indusnesos” atau Kepulauan dari India, yang akhirnya menjadi “Indonesia”. Untuk mengetahui gambaran kondisi Indonesia di masa tersebut, saya cukilkan penuturan beberapa tokoh pergerakan yang berkesempatan memaparkan pengalaman maupun pemikiran dan menerbitkannya –ditulis sendiri atau oleh orang lain– sehingga dapat dibaca oleh kita generasi yang kemudian.
Penuturan Sukarno (Surabaya, 6 Juni 1901 – Bogor, 21 Juni 1970):

bung-karno-bersepeda…………………..Aku berumur 20 tahun ketika suatu ilham politik yang kuat menerangi pikiranku. Mula-mula ia hanya berupa kuncup dari suatu pemikiran yang mengorek-orek otakku, akan tetapi tidak lama kemudian ia menjadi landasan tempat pergerakan kami berdiri…………….. Di suatu pagi yang indah aku bangun dengan keinginan untuk tidak mengikuti kuliah – ini bukan tidak sering terjadi. Otakku sudah terlalu penuh dengan soal-soal politik, sehingga tidak mungkin memusatkan perhatian pada studi……………

Sementara mendayung sepeda tanpa tujuan – sambil berpikir— aku sampai di bagian selatan kota Bandung, suatu daerah pertanian yang padat di mana orang dapat menyaksikan para petani mengerjakan sawahnya yang kecil, yang masing-masing luasnya kurang dari sepertiga hektar. Oleh karena beberapa hal perhatianku tertuju pada seorang petani yang sedang mencangkul tanah miliknya. Dia seorang diri. Pakaiannya sudah lusuh. Gambaran yang khas ini kupandang sebagai perlambang daripada rakyatku. Aku berdiri di sana sejenak memperhatikannya dengan diam. Karena orang Indonesia adalah bangsa yang ramah, maka aku mendekatinya. Aku bertanya dalam bahasa Sunda, “Siapa yang punya semua yang engkau kerjakan sekarang ini ?”.

Dia berkata kepadaku, “Saya, juragan…….saya sendiri yang punya ……warisan bapak kepada anak turun-temurun.”

“Bagaimana dengan sekopmu ? Sekop ini kecil, tapi apakah kepunyaanmu juga ?…..Dan cangkul ? …Bajak ?”

“Saya punya, gan.”

“Untuk siapa hasil yang kau kerjakan ? ……Apakah cukup untuk kebutuhanmu ?”

“Untuk saya, gan.” …………. Ia mengangkat bahu sebagai membela diri. “Bagaimana sawah yang begini kecil cukup untuk seorang isteri dan empat anak ?”

“Apakah ada yang dijual dari hasilmu ? ….. Kau mempekerjakan orang lain ? ……Apakah engkau pernah memburuh ?”

“Tidak, gan. Saya harus membanting-tulang, akan tetapi jerih-payah saya semua untuk saya.”

Aku menunjuk ke sebuah pondok kecil, “Siapa yang punya rumah itu ?”

“Itu gubuk saya, gan. Hanya gubuk kecil saja, tapi kepunyaan saya sendiri.”

“Jadi kalau begitu ……Semua ini engkau punya?”

“Ya, gan.”

Kemudian aku menanyakan nama petani muda itu. Ia menyebut namanya, “Marhaen”. Marhaen adalah nama yang biasa seperti Smith dan Jones. Di saat itu sinar ilham menggenangi otak-ku. Aku akan memakai nama itu untuk menamai semua orang Indonesia bernasib malang seperti itu ! Semenjak itu ku namakan rakyatku rakyat Marhaen. (untuk ajaran marahen itu sendiri akan coba saya tuturkan di postingan selanjutnya)

(CinddyAdams, Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, 2000)
Penuturan Iskaq Tjokrohadisurjo (Ngepeh, Jombang, 11 Juli 1896)


ketika Iskaq datang ke Belanda, organisasi mahasiswa Indonesia itu masih bernama Indische Vereeniging…….. Mereka diilhami oleh seruan pemimpin-pemimpin dunia yang dikumandangkan pada akhir perang dunia (1914-1918) yaitu: right of self determination bagi bangsa-bangsa di dunia. Pada tahun 1918 mereka mendiskusikan kebijakan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Mr. J.P.Graaf van Limburg Stirum (1916-1921) yang disebut November Belofte (Janji November) berupa pemberian perbaikan-perbaikan kepada penduduk bumi-putera, yang tidak pernah direalisasikan. …….. Pada tahun 1922 nama organisasi tersebut oleh para pengurusnya kemudian diganti menjadi Indonesische Vereeniging yang serta merta menunjukkan semangat juang lebih nyata untuk persatuan dan kemerdekaan bangsa…………… Pengurus baru Indonesische Vereeniging periode dengan Iwa Kusumasumantri sebagai Ketua, mempertegas asasnya bercorak nasional-radikal, yang menghendaki persatuan rakyat Indonesia dan pemerintahan yang bertanggungjawab terhadap rakyat Indonesia. Mereka mencela kebijakan Gubernur Jenderal Mr. D.Fock yang bertindak keras terhadap aksi pemogokan para buruh di bawah naungan Sarekat Islam dan PKI. Banyak aktivis buruh dibuang ke Digul, ke negara lain atau dipenjarakan………………………..

rapat yang diadakan pada tanggal 8 Februari 1925 dan dipimpin oleh Ketuanya Soekiman WirjosandjojoRapat yang diadakan pada tanggal 8 Februari 1925 dan dipimpin oleh Ketuanya Sukiman Wiryosanjoyo, memutuskan program dasar organisasi sebagai berikut:

1. Hanya satu Indonesia yang merasa bersatu, dengan menyampingkan perbedaan-perbedaan golongan yang dapat mematahkan kekuasaan penjajahan. Tujuan bersama yakni memerdekakan Indonesia dan menghendaki supaya dibangun suatu aksi massa yang nasionalistis yang sadar dan bersandar pada kekuatan diri sendiri……………………. tanggal 30 Juni 1925 Iskaq lulus dengan memperoleh gelar meester in de rechten, dan selanjutnya kembali ke Indonesia. Iskaq dipesan oleh teman-temannya yang masih tinggal di negeri Belanda agar setibanya di Indonesia, mengusahakan berdirinya suatu partai nasional yang akan menjadi penopang dalam gerakan kebangsaan……………………….

Sukiman Wirjosandjojo

Pemuda Indonesa pertama yang diselenggarakan pada tanggal 30 April sampai 2 Mei 1926 di Jakarta…………….. Tujuan kongres ialah: “Menggugah semangat kerjasama di antara bermacam-macam organisasi pemuda di Tanah Air kita, supaya dapat mewujudkan dasar pokok untuk lahirnya persatuan Indonesia di tengah bangsa di dunia.”…… Menurut Muhammad Tabrani, Muhammad Yamin yang ditugaskan membuat rumusan……….. Rumusan Muhammad Yamin tersebut tidak mendapat persetujuan dari kongres pemuda pertama ini karena Muhammad Yamin dan kawan-kawannya mempertahankan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan nasional, sedang kelompok Muhammad Tabrani berpendapat bahwa bahasa persatuan ialah bahasa Indonesia. Terbentur pada perbedaan pendapat tentang soal bahasa tadi, maka kongres tidak mengeluarkan sesuatu ikrar …………………………

Jong Java bersama organisasi pemuda lainnya seperti Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia, Jong Bataks Bond, Sekar Rukun, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon dan Jong Minahasa mengadakan rapat bersama pada tanggal 20 Februari 1927 dan memutuskan bahwa “Persatuan Indonesia” dan “Kemerdekaan Indonesia” sebagai cita-cita bersama…..

(Drs. R.Nalenan, Iskaq Tjokrohadisurjo,Alumni Desa Bersemangat Banteng, 1982)

Penuturan Sukarno :

Dalam setahun Belanda mengkhianati kami dengan mengangkat Gubernur Jenderal Dirk Fock, yang paling reaksioner dari segala jaman. ………………………

jendral dirk fock:

sikapnya lebih menindas dan mengurangi hak-hak yang telah pernah diberikan. Ia menekan, mengejar-ngejar dan mengadakan undang-undang yang mengurangi kebebasan apa pun juga yang kami peroleh sebelumnya………….. Undang-undang itu memberi kekuasaan untuk menginternir atau mengeksternir seorang Bumiputera masuk penjara atau pengasingan tanpa diadili terlebih dulu. Pada waktu Negeri Belanda memperoleh kekuatan, maka keadaan semakin memburuk. Fock yang keterlaluan itu digantikan oleh De Graeff yang lebih jahat lagi.

Waktunya sudah datang untuk mendesakkan nasionalisme. Tapi bagaimana? Kami tidak mempunyai satu partai pun yang kuat. Sarekat Islam pecah dua. Pak Cokro tetap memegang kendali dari bagian yang sudah lemah, sedang bagian yang lain mengubah namanya menjadi Sarekat Rakyat. Dengan dalih perselisihan maka Komunisme menyusup ke dalam Sarekat Rakyat. Dalam tahun 1926 mereka merencanakan dan menjalankan “Revolusi Fisik Besar untuk Kemerdekaan dan Komunisme”

Pemberontakan ini menemui kegagalan yang menyedihkan. Belanda menindasnya dengan serta merta dan lebih dari 2.000 pemimpin diangkut dengan kapal ke pelbagai tempat pengasingan. 10.000 orang lagi dipenjarakan. Akibat selanjutnya adalah chaos. Sarekat Rakyat dinyatakan terlarang……………………. Dalam pada itu aku sudah menemukan pegangan dalam bidang politik. Pada setiap cangkir kopi tubruk, di setiap sudut di mana orang berkumpul nama Bung Karno menjadi buah-mulut orang. Kebencian umum terhadap Belanda dan kepopuleran Bung Karno memperoleh tempat yang berdampingan dalam setiap buah-tutur …………………

(Cindy Adams, Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, 2000)[/
Di Bandung, Iskaq bersama-sama dengan teman-teman lainnya menyewa rumah di Regentsweg No. 22, sekarang jalan Dewi Sartika………….. Sebelum mereka berlima berdiam di Bandung, udara kota sejuk itu sudah dihangati gejolak Pergerakan Nasional. Penduduk kota kembang itu sudah mengenal pemuda Sukarno sebagai singa podium. Mereka sudah membaca tulisan-tulisan Sukarno dalam majalah Suluh Indonesia Muda, majalah yang diterbitkan di Bandung oleh Algemene Studie Club.……….. Ia menyadari bahwa untuk Indonesia diperlukan kehadiran suatu partai politik nasional yang akan membawa Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan nasional. …………Cita-cita kaum nasionalis dari Indonesia berpadu dengan cita-cita kaum nasionalis dari negeri Belanda. Karena itu mereka merintis suatu pertemuan untuk mendirikan suatu partai nasional. Pertemuan itu diadakan di Regentsweg no. 22 Bandung, tanggal 4 Juli 1927. Rapat untuk mendirikan PNI itu dihadiri oleh Mr. Iskaq Tjokrohadisurjo, Mr. Sartono, Mr. Budiarto Martoatmojo, Mr. Sunario, Dr. Samsi Sastrowidagdo, Ir. Sukarno, Ir. Anwari dan dr. Cipto Mangunkusumo.
Mr.Sunario:
cipto mangunkusumo:
soenario:

Juga baik Bung Karno, maupun Sunario dan Iskaq, setuju nama Jan Tilaar dan Sujadi dicantumkan sebagai pendiri PNI., meskipun mereka tidak hadir dalam rapat pembentukan tersebut……………. Sujadi waktu itu bekerja sebagai pegawai Departemen Keuangan di Jakarta, yang banyak berkorespondensi dengan Muhammad Hatta, Ketua Perhimpunan Indonesia di Nederland. Ia termasuk seorang pengedar majalah Indonesia Merdeka yang diselundupkan dari Nederland ke Indonesia…………….

Kongres pertama diadakan setahun sesudah berdirinya PNI yakni tanggal 28 sampai 30 Mei 1928 di Surabaya……..di gedung Stadstuin-Theater. ……… Hasil kongres yang penting ialah mengganti nama Perserikatan Nasional Indonesia menjadi Partai Nasional Indonesia……. Kongres kedua dari PNI diselenggarakan setahun sesudah kongres pertama………..

(Drs. R.Nalenan, Iskaq Tjokrohadisurjo,Alumni Desa Bersemangat Banteng,

Penuturan Sukarno pada penutup artikelnya di “Suluh Indonesia Muda” berjudul: “Indonesianisme dan Pan-Asiatisme”, tahun 1928:

bung karno:

……………… Sebab zaman itu sebentar lagi akan memanggil kita menjadi saksi atas terjadinya perkelahian yang maha-haibat di lautan Teduh antara raksasa-raksasa imperialis Amerika, Japan dan Inggeris yang berebutan mangsa dan berebutan kekuasaan. Zaman itu sebentar lagi boleh jadi akan membawa-bawa kita ke dalam gelombang hamuknya angin-taufan yang akan embanking di lautan Teduh itu. Sekarang sudahlah terdengar mulai gemuruhnya angin ini, sebagai seekor maha-raja-singa yang mengulurkan kukunya untuk menerkam Japan pada tiap-tiap saat yang dikehendakinya, sebagai raksasa Dasamuka yang memasang mulutnya yang banyak itu untuk menelan musuhnya, maka dari lima penjuru, yakni dari Dutch Harbour, dari Hawaii, dari Tutuila, dari Guam dan dari Manilla, Amerika sudahlah mengelilingi Japan dengan benteng-benteng-laut yang kuat dan sentausa. Dan Japan-pun memperlengkap senjata-senjatanya, diikuti oleh Inggeris yang mendirikan benteng-benteng laut di Singapura!

Tidakkah negeri kita yang letaknya dipinggir benar lautan Teduh itu, akan terbawa-bawa dalam perkelahiannya raksasa-raksasa ini? Tidakkah kita dari sekarang harus bersedia-sedia oleh karenanya? … Janganlah hendaknya kita terperanjat, kalau nanti perang Pasifik ini mengobarkan lautan Teduh. Janganlah hendaknya kita belum sedia, kalau nanti musuh-musuh kita berkelahi satu sama lain dengan cara mati-matian di dekat negeri kita dan barangkali di dalam daerah negeri kita juga. Janganlah hendaknya kita kebutaan sikap, kalau lain-lain bangsa Asia dengan merapatkan diri satu sama lain tahu menentukan sikapnya di dalam keributan ini! ……………………………………..

(Ir. Sukarno, Dibawah Bendera Revolusi, 1963)

Penuturan Iskaq Tjokrohadisurjo:

Quote:

Kogres Pemuda kedua yang diselenggarakan pada tanggal 27 dan 28 Oktober 1928 di Jakarta, hanya satu tahun sesudah PNI berdiri dan hanya lima bulan sesudah Kongres PNI pertama di Surabaya. PPPI yang merupakan motor dari kongres itu, tokoh-tokohnya dikenal sebagai anggota ataupun pimpinan PNI –sebelum dan sesudah kongres– …………Menurut Sunario, pimpinan pemuda ketika itu banyak meminta nasihat tokoh-tokoh PNI seperti Sukarno, Iskaq, Sunario dan lain-lain, dalam hubungan dengan penyelenggaraan kongres……………………. Sidang terakhir tanggal 28 Oktober bertempat di gedung Indonesisch Clubgebouw, yang sekarang dikenal dengan gedung Sumpah Pemuda, jalan Kramat Raya 106, Jakarta Pusat. Sebelum sidang diakhiri, Pengurus membicarakan keputusan kongres yang dirumuskan oleh Muhammad Yamin. Rumusan Yamin itu disetujui sepenuhnya oleh Panitia Kongres. Sugondo kemudian membacakan keputusan kongres dimana hadirin menyambutnya dengan tepuk tangan…….

Spoiler for wr supratman:

Wage Rudolf Supratman, seorang wartawan Sin Po yang gemar musik datang kepada Ketua Sidang, Sugondo Joyopuspito dan meminta agar memeperkenalkan sebuah lagu yang sudah disiapkannya kepada peserta kongres………. Sugondo mengambil kebijaksanaan tidak ditunjukkan kepada polisi lagi melainkan lagu itu akan dibawakan dengan biola tanpa diperdengarkan syairnya. Ternyata tanpa syair pun lagu itu dapat memukau peserta. Mulai saat itu lagu Indonesia Raya sering dinyanyikan pada upacara, rapat-rapat umum terutama dalam rapat umum PNI. Kongres Pemuda yang menurut tuduhan pihak Pemerintah kolonial Hindia Belanda adalah hasutan radikalis Sukarno dan teman-temannya –meskipun Sukarno dan Iskaq tidak hadir dalam kongres itu……………

(Drs. R.Nalenan, Iskaq Tjokrohadisurjo,Alumni Desa Bersemangat Banteng, 1982)
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: