RSS

Semaoen

05 Jan
Semaoen lahir di kota kecil Curahmalang, Mojokerto, Jawa Timur sekitar tahun 1899.
Kemunculannya di panggung politik pergerakan dimulai di usia belia, 14 tahun. Saat itu, tahun 1914, ia bergabung dengan Sarekat Islam (SI) afdeeling Surabaya. Setahun kemudian, 1915, bertemu dengan Sneevliet dan diajak masuk ke Indische Sociaal-Democratische Vereeniging, organisasi sosial demokrat Hindia Belanda (ISDV) afdeeling Surabaya yang didirikan Sneevliet dan Vereeniging voor Spoor-en Tramwegpersoneel, serikat buruh kereta api dan trem (VSTP) afdeeling Surabaya. Pekerjaan di Staatsspoor akhirnya ditinggalkannya pada tahun 1916 sejalan dengan kepindahannya ke Semarang karena diangkat menjadi propagandis VSTP yang digaji. Penguasaan bahasa Belanda yang baik, terutama dalam membaca dan mendengarkan, minatnya untuk terus memperluas pengetahuan dengan belajar sendiri, hubungan yang cukup dekat dengan Sneevliet, merupakan faktor-faktor penting mengapa Semaoen dapat menempati posisi penting di kedua organisasi Belanda itu.
Di Semarang, ia juga menjadi redaktur surat kabar VSTP berbahasa Melayu, dan Sinar Djawa-Sinar Hindia, koran Sarekat Islam Semarang. Semaoen adalah figur termuda dalam organisasi. Di tahun belasan itu, ia dikenal sebagai jurnalis yang andal dan cerdas. Ia juga memiliki kejelian yang sering dipakai sebagai senjata ampuh dalam menyerang kebijakan-kebijakan kolonial.
Pada tahun 1918 dia juga menjadi anggota dewan pimpinan di Sarekat Islam (SI). Sebagai Ketua SI Semarang, Semaoen banyak terlibat dengan pemogokan buruh. Pemogokan terbesar dan sangat berhasil di awal tahun 1918 dilancarkan 300 pekerja industri furnitur. Pada tahun 1920, terjadi lagi pemogokan besar-besaran di kalangan buruh industri cetak yang melibatkan SI Semarang. Pemogokan ini berhasil memaksa majikan untuk menaikkan upah buruh sebesar 20 persen dan uang makan 10 persen.
Bersama-sama dengan Alimin dan Darsono, Semaoen mewujudkan cita-cita Sneevliet untuk memperbesar dan memperkuat gerakan komunis di Hindia Belanda. Sikap dan prinsip komunisme yang dianut Semaoen membuat renggang hubungannya dengan anggota SI lainnya. Pada 23 Mei 1920, Semaoen mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia. Tujuh bulan kemudian, namanya diubah menjadi Partai Komunis Indonesia dan Semaoen sebagai ketuanya.
PKI pada awalnya adalah bagian dari Sarekat Islam, tapi akibat perbedaan paham akhirnya membuat kedua kekuatan besar di SI ini berpisah pada bulan Oktober 1921. Pada akhir tahun itu juga dia meninggalkan Indonesia untuk pergi ke Moskow, dan Tan Malaka menggantikannya sebagai Ketua Umum. Setelah kembali ke Indonesia pada bulan Mei 1922, dia mendapatkan kembali posisi Ketua Umum dan mencoba untuk meraih pengaruhnya kembali di SI tetapi kurang berhasil.
Berikut ringkasan salah satu karyanya pada tahun 1920 berjudul :
” HIKAYAT KADIROEN “
IA bernama Kadiroen, anak seorang lurah yang beruntung bisa meniti karir di pemerintahan Hindia Belanda. Kadiroen adalah seorang pemuda yang sempurna, dan segala sosokpositif melekat pada dirinya. “Kadiroen memiliki perawakan yang sedang, tidak besar tidak juga kecil, tetapi di dalam tubuhnya tampak tersimpan kekuatan yang besar. Wajahnya ganteng. Kulitnya hitam bersemu merah halus. Matanya terbuka lebar, serta bersinar tajam jika memandang. Hal itu menandakan bahwa pemiliknya mempunyai kepribadian yang kuat, berwatak ksatria, dan tidak suka berbuat dosa,” tulis Semaoen.
Jalan hidupnya berubah setelah dia mendengar pidato Tjitro, seorang tokoh Partai Komunis, pada sebuah propaganda vergadering di alun-alun Kota S (Semarang –red.). Isi pidato ini ditempatkan satu bab sendiri oleh Semaoen dan memenuhi 48 halaman buku. Tjitro bicara di hadapan massa Kota S itu tentang kapitalisme dan asal usulnya, tentang perlunya berserikat dan mendirikan koperasi, dan tentu saja tentang komunisme.
Kadiroen merasa menemukan jawaban atas idealismenya selama ini pada konsep perkumpulan itu. Simpatinya itu mendorongnya untuk mendukung partai itu secara diam-diam. Dia memilih jalan hidup lain dengan melepas karirnya di Gupermen (pemerintahan kolonial) dan menjadi penulis pada Harian Sinar Ra’jat, harian partai tersebut, bahkan sempat terkena pasal delik pers.
Seratus halaman pertama buku ini mengisahkan kecemerlangan dan jalan lempang karir Kadiroen, mulai dari mantri polisi hingga akhirnya jadi wedono dan sempat menjadi wakil patih di Kota S.
Pada novel ini juga diselipkan romansa Kadiroen yang jatuh hati kepada Ardinah, istri seorang lurah yang terkena kawin paksa. Kisahnya romantis, malah terkesan cengeng dan menghanyutkan. Meski begitu, kisah ini pula yang jadi penutup seluruh buku.
Cara novel ini bertutur khas realisme sosialis. Dipaparkan bagaimana penderitaan yang dialami rakyat yang ditindas kaum borjuasi. Kadiroen, meski borjuis juga, tapi menjadi pahlawan, karena berupaya memakmurkan kelas proletar yang tertindas oleh budaya feodal itu.
Yang menarik, gagasan ketuhanan menonjol sekali dalam nadi ceritanya. Motif-motif yang melandasi sikap sosial politik Kadiroen adalah motif ketuhanan juga. Sama sekali tidak ada perbenturan antara agama dengan pilihan ideologi Kadiroen, sebagaimana diskusi yang selama ini terjadi mengenai komunisme dan agama. Kalaupun ada goncangan, itu dalam pertimbangan Kadiroen soal karirnya, bukan pada ideologinya.
Apakah ini berhubungan dengan riwayat Semaoen sendiri? Semaoen, sebelum jadi komunis, adalah seorang sosialis. Dia sudah bergabung dengan organisasi politik pribumi terbesar saat itu, Sarekat Islam, di Surabaya sejak usia 13 tahun.
Anak buruh kereta api di Mojokerto, Jawa Timur, ini lalu bergabung dengan Vereeniging van Spoor-en Tramweg Vereeniging (VSTV) dan Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV). VSTV adalah sebuah organisasi buruh kereta api yang dianggap sebagai tonggak gerakan buruh di Indonesia. Sedang ISDV adalah organisasi sosial politik pertama yang cukup berpengaruh masa itu dan kebanyakan anggotanya beraliran sosialisme.
Pada 23 Mei 1920, Semaoen terpilih sebagai Ketua Perserikatan Komunis di Hindia Belanda. Namun, novel ini ditulis pada tahun 1919 dan diperbaharui pada 1920. Novel ini ditulis ketika dia dipenjara selama empat bulan karena terkena delik pers.
Novel yang diterbitkan kali pertama di Semarang pada tahun 1920 itu dengan jelas menunjukkan simpati yang besar kepada komunisme, tepatnya Partai Komunis di Hindia masa itu. Bahkan, di salah satu bagiannya digambarkan dengan gamblang gagasan sosial politik komunisme.
selengkapnya bisa dibuka di link berikut :
 
Leave a comment

Posted by on January 5, 2012 in Bung Karno

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: