RSS

Category Archives: Bung Karno

Spirit Soekarnoisme Warga Tanah Karo

Berdikari Online, Rabu, 4 Agustus 2010 | 15:45 WIB
Opini
Oleh : Hiski Darmayana

Dalam dinamika politik nasional, Kabupaten Tanah Karo memiliki sebuah catatan menarik. Daerah ini merupakan basis massa nasionalis yang berafiliasi pada kekuatan politik Soekarnois sejak Pemilu tahun 1955. Ketika itu Partai Nasional Indonesia (PNI), partai politik yang didirikan Soekarno dan mengusung ideologi Marhaenisme ajaran Soekarno menang mutlak di Kabupaten Tanah Karo.

Prosentase suara yang diraih PNI dari Tanah Karo mencapai sekitar 90% suara. Moment ini dapat dijadikan indikator bagi loyalitas politik warga Karo terhadap Presiden RI pertama tersebut. Soekarno pun digelari ”Bapa Rayat Sirulo” oleh warga Karo, yang artinya pemimpin yang membawa kemakmuran rakyat.

Loyalitas politik warga Karo terhadap Soekarno berlanjut hingga meletusnya pemberontakan PRRI/Permesta di daerah Sumatera. Ketika itu, kaum pemberontak yang terdiri dari panglima-panglima militer daerah dan kekuatan politik Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI) serta disokong oleh anasir-anasir imperialis asing berhasil meraih dukungan yang cukup signifikan dari warga Sumatera. Di masa-masa genting tersebut, warga Karo justru tidak tertarik untuk ikut melakukan pembangkangan terhadap pemerintahan Soekarno dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), seperti yang ditunjukkan warga dari beberapa kawasan lainnya di Sumatera. Pada saat itu muncul tokoh kharismatik dari etnis Karo, yakni Letjen Djamin Ginting, yang menegaskan haluan politiknya untuk berdiri di belakang Pemerintahan Soekarno dan NKRI demi melawan kekuatan pemberontak yang didukung kekuatan imperialis. Karena jasanya itu, Letjen Djamin Ginting diangkat oleh Soekarno menjadi Pangdam Bukit Barisan yang melingkupi seluruh wilayah Sumatera pada tahun 1957-1958. Loyalitas Politik ditengah Badai Loyalitas politik warga Karo terhadap Soekarno berbuah manis dengan diangkatnya seorang putra Karo, Ulung Sitepu, sebagai Gubernur Sumut pada tahun 1963. Namun badai politik yang datang seiring dengan terjadinya peristiwa 30 September 1965 (G30S) seakan turut menghantam partisipasi politik orang Karo.

Ulung Sitepu diberhentikan dari jabatan gubernur pasca G30S karena dituding sebagai tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI), sebuah tudingan yang tak pernah dibuktikan secara hukum hingga kini. Memang ketika menjabat gubernur, Ulung Sitepu banyak menuai dukungan dari massa PKI, dan hal ini adalah sesuatu yang lumrah karena PKI merupakan partai legal dan sah di republik ini sebelum G30S. Namun Ulung Sitepu sendiri tak pernah menjadi anggota PKI secara formal, ia lebih dikenal sebagai gubernur yang loyal pada Presiden Soekarno seperti kebanyakan warga Karo lainnya. Kemungkinan besar hal inilah yang menjadi alasan dari diberhentikannya Ulung Sitepu dari jabatan gubernur Sumut, karena pasca G30S seluruh kekuatan politik Soekarnois disikat habis oleh rezim baru dibawah pimpinan Jenderal Soeharto.

Kendati mengalami represi penguasa, loyalitas warga Karo terhadap Soekarno tak pernah pudar. Hal ini terbukti dari tetap dikuasainya Tanah Karo oleh kekuatan politik yang merupakan ‘reinkarnasi’ dari PNI, yakni Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Loyalitas itu makin ditunjukkan oleh warga Karo ketika putri Soekarno, Megawati, menjadi Ketua Umum PDI di awal decade 90-an. Hal ini dipandang sebagai momentum kebangkitan politik trah Soekarno oleh warga Karo dan kaum Soekarnois lainnya.

Dukungan warga Karo terhadap PDI, yang setelah reformasi bermetamorfosa menjadi PDI Perjuangan (PDIP), termanifestasi pada perolehan suara PDIP di Tanah Karo pada pemilu 1999 yang mencapai 95% suara (mengungguli perolehan suara PNI pada pemilu 1955). Hal yang sama juga terlihat pada pemilu 2004, dimana PDIP kembali mendominasi perolehan suara di Tanah Karo.

Pada pemilu 2009, PDIP kembali meraih mayoritas suara (85%) di Tanah Karo. Meskipun mengalami penurunan, namun hal tersebut menunjukkan loyalitas warga Karo yang tak pernah redup terhadap dinasti politik Soekarno, karena pada saat yang sama banyak daerah basis PDIP dan partai lainnya yang direbut oleh Partai Demokrat, partainya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).Tak Pernah Padam

Masa reformasi yang ditandai dengan keterbukaan politik sesungguhnya dapat menjadi peluang bagi warga Karo untuk berkiprah di berbagai partai politik. Kenyataannya beberapa putra Karo memang memanfaatkan peluang itu dan berhasil menduduki posisi strategis di berbagai partai, seperti Tifatul Sembiring yang berhasil menjadi Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan MS Kaban yang meraih jabatan Ketua Umum di Partai Bulan Bintang (PBB). Namun fakta banyaknya warga Karo yang berpolitik dengan menggunakan instrumen partai yang tidak mengusung ideologi Soekarno ternyata tidak mudah mengubah pilihan politik warga Tanah Karo, dimana leluhur warga Karo berasal. Pemilu-pemilu pada masa reformasi menunjukkan tidak padamnya loyalitas politik warga Tanah Karo terhadap Soekarno dan dinastinya. Kesetiaan warga Karo terhadap Soekarno dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya adalah faktor historis, dimana Soekarno pernah diasingkan Belanda di daerah Tanah karo, tepatnya di Desa Laugumba, Kecamatan Berastagi, pasca agresi militer Belanda terhadap Indonesia di akhir tahun 1948. Ketika itu Soekarno diasingkan oleh Belanda ke Tanah Karo bersama dengan dua pimpinan repiblik lainny; H.Agus Salim dan Sutan Sjahrir. Faktor lainnya adalah faktor ideologis, dimana kondisi sosial ekonomi warga Tanah Karo cocok dengan ideologi PNI, Marhaenisme. Seperti yang dinyatakan oleh seorang Guru Besar dari Universitas Sumatera Utara, Prof.DR. H.R.Brahmana, bahwa mayoritas warga Karo adalah petani yang bercocok tanam pangan hortikultura semenjak era kolonial Belanda dahulu. Dan hal tersebut sesuai dengan ideologi Marhaenisme yang mengangkat problematika kaum petani Indonesia yang telah dimiskinkan oleh sistem ekonomi dan politik yang berlaku.

Loyalitas politik seperti yang dimiliki warga Tanah Karo terhadap Soekarno adalah hal yang agak luar biasa ditengah alam demokrasi liberal kini, yang berbasiskan pada politik uang sebagai instrumen untuk meraih kekuasaan. Kecurangan sistematis yang ditenggarai banyak pihak terjadi pada pemilu 2009 lalu juga tak mampu meruntuhkan spirit Soekarnoisme warga Tanah Karo. Sebuah kenyataan yang dapat dijadikan refleksi bagi kita bersama, bahwa kesetiaan pada ”Bapa Rayat Sirulo” tak akan tergantikan oleh maraknya keculasan politik berbasiskan pragmatisme dan oportunisme, yang banyak
dipertontonkan oleh para elit politik kini.

*) Penulis adalah Aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)
Cabang Sumedang

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on January 5, 2012 in Bung Karno

 

Semaoen

Semaoen lahir di kota kecil Curahmalang, Mojokerto, Jawa Timur sekitar tahun 1899.
Kemunculannya di panggung politik pergerakan dimulai di usia belia, 14 tahun. Saat itu, tahun 1914, ia bergabung dengan Sarekat Islam (SI) afdeeling Surabaya. Setahun kemudian, 1915, bertemu dengan Sneevliet dan diajak masuk ke Indische Sociaal-Democratische Vereeniging, organisasi sosial demokrat Hindia Belanda (ISDV) afdeeling Surabaya yang didirikan Sneevliet dan Vereeniging voor Spoor-en Tramwegpersoneel, serikat buruh kereta api dan trem (VSTP) afdeeling Surabaya. Pekerjaan di Staatsspoor akhirnya ditinggalkannya pada tahun 1916 sejalan dengan kepindahannya ke Semarang karena diangkat menjadi propagandis VSTP yang digaji. Penguasaan bahasa Belanda yang baik, terutama dalam membaca dan mendengarkan, minatnya untuk terus memperluas pengetahuan dengan belajar sendiri, hubungan yang cukup dekat dengan Sneevliet, merupakan faktor-faktor penting mengapa Semaoen dapat menempati posisi penting di kedua organisasi Belanda itu.
Di Semarang, ia juga menjadi redaktur surat kabar VSTP berbahasa Melayu, dan Sinar Djawa-Sinar Hindia, koran Sarekat Islam Semarang. Semaoen adalah figur termuda dalam organisasi. Di tahun belasan itu, ia dikenal sebagai jurnalis yang andal dan cerdas. Ia juga memiliki kejelian yang sering dipakai sebagai senjata ampuh dalam menyerang kebijakan-kebijakan kolonial.
Pada tahun 1918 dia juga menjadi anggota dewan pimpinan di Sarekat Islam (SI). Sebagai Ketua SI Semarang, Semaoen banyak terlibat dengan pemogokan buruh. Pemogokan terbesar dan sangat berhasil di awal tahun 1918 dilancarkan 300 pekerja industri furnitur. Pada tahun 1920, terjadi lagi pemogokan besar-besaran di kalangan buruh industri cetak yang melibatkan SI Semarang. Pemogokan ini berhasil memaksa majikan untuk menaikkan upah buruh sebesar 20 persen dan uang makan 10 persen.
Bersama-sama dengan Alimin dan Darsono, Semaoen mewujudkan cita-cita Sneevliet untuk memperbesar dan memperkuat gerakan komunis di Hindia Belanda. Sikap dan prinsip komunisme yang dianut Semaoen membuat renggang hubungannya dengan anggota SI lainnya. Pada 23 Mei 1920, Semaoen mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia. Tujuh bulan kemudian, namanya diubah menjadi Partai Komunis Indonesia dan Semaoen sebagai ketuanya.
PKI pada awalnya adalah bagian dari Sarekat Islam, tapi akibat perbedaan paham akhirnya membuat kedua kekuatan besar di SI ini berpisah pada bulan Oktober 1921. Pada akhir tahun itu juga dia meninggalkan Indonesia untuk pergi ke Moskow, dan Tan Malaka menggantikannya sebagai Ketua Umum. Setelah kembali ke Indonesia pada bulan Mei 1922, dia mendapatkan kembali posisi Ketua Umum dan mencoba untuk meraih pengaruhnya kembali di SI tetapi kurang berhasil.
Berikut ringkasan salah satu karyanya pada tahun 1920 berjudul :
” HIKAYAT KADIROEN “
IA bernama Kadiroen, anak seorang lurah yang beruntung bisa meniti karir di pemerintahan Hindia Belanda. Kadiroen adalah seorang pemuda yang sempurna, dan segala sosokpositif melekat pada dirinya. “Kadiroen memiliki perawakan yang sedang, tidak besar tidak juga kecil, tetapi di dalam tubuhnya tampak tersimpan kekuatan yang besar. Wajahnya ganteng. Kulitnya hitam bersemu merah halus. Matanya terbuka lebar, serta bersinar tajam jika memandang. Hal itu menandakan bahwa pemiliknya mempunyai kepribadian yang kuat, berwatak ksatria, dan tidak suka berbuat dosa,” tulis Semaoen.
Jalan hidupnya berubah setelah dia mendengar pidato Tjitro, seorang tokoh Partai Komunis, pada sebuah propaganda vergadering di alun-alun Kota S (Semarang –red.). Isi pidato ini ditempatkan satu bab sendiri oleh Semaoen dan memenuhi 48 halaman buku. Tjitro bicara di hadapan massa Kota S itu tentang kapitalisme dan asal usulnya, tentang perlunya berserikat dan mendirikan koperasi, dan tentu saja tentang komunisme.
Kadiroen merasa menemukan jawaban atas idealismenya selama ini pada konsep perkumpulan itu. Simpatinya itu mendorongnya untuk mendukung partai itu secara diam-diam. Dia memilih jalan hidup lain dengan melepas karirnya di Gupermen (pemerintahan kolonial) dan menjadi penulis pada Harian Sinar Ra’jat, harian partai tersebut, bahkan sempat terkena pasal delik pers.
Seratus halaman pertama buku ini mengisahkan kecemerlangan dan jalan lempang karir Kadiroen, mulai dari mantri polisi hingga akhirnya jadi wedono dan sempat menjadi wakil patih di Kota S.
Pada novel ini juga diselipkan romansa Kadiroen yang jatuh hati kepada Ardinah, istri seorang lurah yang terkena kawin paksa. Kisahnya romantis, malah terkesan cengeng dan menghanyutkan. Meski begitu, kisah ini pula yang jadi penutup seluruh buku.
Cara novel ini bertutur khas realisme sosialis. Dipaparkan bagaimana penderitaan yang dialami rakyat yang ditindas kaum borjuasi. Kadiroen, meski borjuis juga, tapi menjadi pahlawan, karena berupaya memakmurkan kelas proletar yang tertindas oleh budaya feodal itu.
Yang menarik, gagasan ketuhanan menonjol sekali dalam nadi ceritanya. Motif-motif yang melandasi sikap sosial politik Kadiroen adalah motif ketuhanan juga. Sama sekali tidak ada perbenturan antara agama dengan pilihan ideologi Kadiroen, sebagaimana diskusi yang selama ini terjadi mengenai komunisme dan agama. Kalaupun ada goncangan, itu dalam pertimbangan Kadiroen soal karirnya, bukan pada ideologinya.
Apakah ini berhubungan dengan riwayat Semaoen sendiri? Semaoen, sebelum jadi komunis, adalah seorang sosialis. Dia sudah bergabung dengan organisasi politik pribumi terbesar saat itu, Sarekat Islam, di Surabaya sejak usia 13 tahun.
Anak buruh kereta api di Mojokerto, Jawa Timur, ini lalu bergabung dengan Vereeniging van Spoor-en Tramweg Vereeniging (VSTV) dan Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV). VSTV adalah sebuah organisasi buruh kereta api yang dianggap sebagai tonggak gerakan buruh di Indonesia. Sedang ISDV adalah organisasi sosial politik pertama yang cukup berpengaruh masa itu dan kebanyakan anggotanya beraliran sosialisme.
Pada 23 Mei 1920, Semaoen terpilih sebagai Ketua Perserikatan Komunis di Hindia Belanda. Namun, novel ini ditulis pada tahun 1919 dan diperbaharui pada 1920. Novel ini ditulis ketika dia dipenjara selama empat bulan karena terkena delik pers.
Novel yang diterbitkan kali pertama di Semarang pada tahun 1920 itu dengan jelas menunjukkan simpati yang besar kepada komunisme, tepatnya Partai Komunis di Hindia masa itu. Bahkan, di salah satu bagiannya digambarkan dengan gamblang gagasan sosial politik komunisme.
selengkapnya bisa dibuka di link berikut :
 
Leave a comment

Posted by on January 5, 2012 in Bung Karno

 

Wawancara dengan Ibu Rusiyati

Ketika beliau berusia 76 Tahun

Pada tanggal 15 dan 16 November 1998 di Belanda

Oleh Kerry Brogan

Disunting oleh MiRa

Ibu Rusiyati, lahir tahun 1922, adalah salah satu bekas Tahanan Politik yang pernah bekerja sebagai wartawan sejak tahun 1954 di Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN), The National News Agency ‘ANTARA’, Jakarta.  Ketika terjadi peristiwa G30S tahun 1965, beliau ditangkap dari tempat kerjanya dan dipenjara selama 13 tahun tanpa proses pengadilan. Sejak saat itu Ibu Rusiyati dipisahkan dari enam anaknya, dimana anak tertua, perempuan, baru berusia 15 tahun dan anak bungsunya berumur 5 bulan.

Di waktu yang sama, suaminya sedang berada di China dalam rangka kunjungan resmi menghadiri ulang tahun kemerdekaan Republik Rakyat China. Kehadiran kunjungannya di China mewakili ‘Generasi Angkatan 1945′ dari delegasi Indonesia, yang dipimpin oleh ketua MPRS Chaerul Saleh (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara). Sejak saat itu suaminya tidak dapat kembali ke tanah airnya, di pengasingan sampai akhir hidupnya dalam usia 67 tahun (1986).

Kisah Hidup Ibu Rusiyati

Saya ditangkap oleh militer pada hari jum’at, tanggal 15 oktober 1965, di Kantor Pusat Berita ‘ANTARA’. Saya masih ingat waktu itu tanggal satu Oktober 1965 siang hari, kantor kami dan beberapa kantor berita harian ibukota lainnya sudah kena pelarangan terbit oleh KODAM V JAYA. Sedangkan bulletin ANTARA terbitan siang hari ketika itu sudah memuat berita mengenai GESTOK (Gerakan Satu Oktober). Bulletin ANTARA merupakan pusat sumber berita nasional  di Indonesia yang terbit dua kali sehari, yaitu pagi dan siang hari.

Pada tanggal 1 Oktober 1965, malamnya pelarangan terbit berlaku untuk semua koran harian yang terbit di Ibu Kota, kecuali koran Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha yang memang diterbitkan oleh pihak militer. Harian Kompas misalnya telah siap cetak malam itu terpaksa membatalkan penerbitan dan baru boleh muncul kembali tanggal 6 Oktober 1965.

Surat Perintah Pangdam VI/Jaya (No. 01/Drt/10/1965) yang dikeluarkan oleh Mayjen Umar Wirahadikusumah berbunyi, ”Dalam rangka mengamankan pemberitaan yang simpang siur mengenai peristiwa pengkhianatan oleh apa yang dinamakan Komando Gerakan 30 September/Dewan Revolusi, perlu adanya tindakan-tindakan penguasaan terhadap media-media pemberitaan”.

Surat perintah itu ditujukan kepada Panglima Daerah Kepolisian VII/Jaya untuk 1) Segera menguasai semua perusahaan percetakan, 2) Melarang setiap penerbitan jang berupa apa pun tanpa izin Pepelrada Jaja c.q. Pangdak VII/Jaya, 3) Khusus terhadap percetakan ”Berita Yudha” yang terletak di Gang Gelap Kota dan Percetakan Harian ”Angkatan Bersenjata” di Petojo supaja diadakan pengamanan physik (pos penjagaan) untuk dapatnya percetakan tersebut berjalan lancar.”

Larangan terbit semua koran itu, meskipun hanya diberlakukan selama lima hari, sangat menentukan karena informasi ketika itu dikuasai dan dimonopoli oleh pihak militer. Apa yang diberitakan oleh dua suratkabar tentara, yaitu Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha, serta dinas informasi ABRI yang memasok suratkabar-suratkabar tersebut telah memberitakan proses kejadian harus disesuaikan dengan sumber informasi yang berpihak pada militer Angkatan Darat . Ketakutan akan dibredel kembali menyebabkan semua media massa hanya menulis atau mengutip pemberitaan sesuai keinginan pemerintah/pihak keamanan.

Kampanye tentang keganasan komunis dengan gencar dilakukan oleh kedua harian militer tersebut, Berita Yudha Minggu 11 Oktober 1965 memberitakan bahwa tubuh para jenderal itu telah dirusak, ”Mata dicungkil dan sementara itu ada yang dipotong kemaluan mereka”. Sementara itu, sukarelawan-sukarelawan Gerwani melakukan hubungan tidak senonoh dengan mayat para Jenderal itu. Padahal menurut visum dokter tidaklah demikian. Para korban itu meninggal dengan luka-luka karena tembakan atau terbentur dinding sumur di Lubang Buaya. Saskia Wieringa mencatat bahwa koran Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha menyiarkan kampanye sadis sejenis ini secara teratur sampai bulan Desember 1965.

Informasi (atau lebih tepat disinformasi) itulah antara lain yang menyulut kemarahan rakyat dan akhirnya melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap mereka yang dicurigai sebagai anggota PKI.

Sejak pelarangan terbit diberlakukan para pegawai dari bagian redaksi maupun bagian administrasi setiap harinya tetap masuk kantor, begitupun dengan saya. Kehadiran kami di kantor dengan maksud tetap siap untuk segera menerbitkan bulletin bilamana pelarangan terbit dicabut kembali.

Tanggal 8 oktober kantor kami didatangi oleh Letnan Kolonel (LetKol) Noor Nasution dari Palembang. Dia menyatakan bahwa kedatangannya atas tugas untuk memimpin Pusat Kantor  Berita ANTARA. Kami sangat heran terhadap penugasan dirinya sebagai pemimpin kami. Dan sejak sa’at itu Pusat Berita ANTARA dibawah pimpinan seorang militer.

Tanggal 11 oktober bulletin ANTARA terbit kembali. Waktu itu saya sebenarnya masih menjabat wakil ketua Desk Dalam Negeri tapi dalam proses penerbitan bulletin tidak dilibatkan. Biar bagaimanapun saya setiap harinya tetap masuk kantor.

Tanggal 15 oktober gedung kantor ANTARA dikepung oleh pasukan militer dari Komando Daerah Militer jakarta, disingkat KODAM Jaya.  26 pegawai kantor ditangkap dengan cara satu persatu dipanggil namanya untuk berkumpul di ruang redaksi. Mereka yang dipanggil untuk ditangkap, yaitu pimpinan umum redaksi bernama Soeroto serta  lainnya yang menduduki posisi ketua dan wakil ketua dari redaksi afdeling Desk Dalam Negeri, Ekonomi, Luar negeri maupun Newsagency. Disamping itu ada satu orang dari bagian administrasi, berfungsi sebagai ketua bagian ketik, bernama Tini juga diikut sertakan.  Dari mereka ternyata hanya dua perempuan, yaitu saya dan Tini yang tertangkap. Saya dengar bahwa tanggal 14 november masih dilakukan pembersihan lagi dibagian Afdeling Luar Negeri dengan 14 orang menjadi korban penangkapan.

Siang harinya kami diangkut dengan mobil militer menuju kompleks KODAM V Jaya . Sesampainya di kompleks tersebut kami disuruh turun dari mobil untuk berjalan menuju ke salah satu gedung bernama Penyelidikan Khusus (LIDIKUS).

KANTOR CORPS POLISI MILITER (CPM)

Keesokan pagi harinya, 16/10/1965, kami dipanggil oleh pimpinan LIDIKUS, Letnan Adil, untuk berkumpul di ruangan besar. Dikatakannya bahwa tempat gedung LIDIKUS kurang memadai buat kami dan untuk itu akan dipindahkan ke tempat yang lebih baik. Dia tidak menyebutkan nama tempatnya tapi ternyata pada siang harinya kami diangkut dengan mobil militer menuju kantor Corps Polisi Militer (CPM) di Jalan Guntur. Sesampainya di CPM-Gundur segera diadakan pemeriksaan barang-barang yang kami bawa. Pada waktu itu saya hanya membawa tas berisi kartu pers, kartu izin masuk istana, surat undangan untuk pertemuan  ‘Angkatan 45′ dan uang. Tas beserta isinya dan jam tangan yang saya pakai disita.  Saya dan Tini dipisahkan dari rombongan laki-laki kemudian disuruh berjalan menuju ruangan gang panjang, corridor,  yang lebarnya kurang lebih 2 meter. Didalam corridor tersebut ada 2 meja dan 2 kursi.

Pada tengah malam ketika saya dan Tini sedang tidur nyenyak di atas meja, saya dibangunkan oleh seorang berpakaian militer. Saya dibawa melalui corridor menuju ke ruangan lain. Ruangannya  besar dan disitu sudah ada 3 orang berpakaian militer sedang di interogasi oleh satu orang militer. Mereka duduk di barisan belakang, sementara itu saya disuruh duduk di barisan paling depan supaya berjauhan dengan 3 orang tersebut.

Dalam proses interogasi, dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan khusus mengenai suami saya. Saya menjawab bahwa suami saya sa’at ini berada di RRT dalam rangka kunjungan resmi sebagai wakil generasi Angkatan ‘45 bersama delegasi MPRS, pimpinan Chaerul Saleh. Disamping itu suami saya juga anggota SOBSI (Sentral Organisasi Seluruh Indonesia). Dalam interogasi dia tidak mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan fungsi kerja saya di ANTARA. Bahkan juga tidak menyinggung masalah penerbitan bulletin terbitan 1Oktober – siang hari, yang memuat berita  mengenai peristiwa GESTOK (Gerakan Satu Oktober). Setelah melalui proses interogasi cukup lama, lantas saya dikembalikan ke tempat semula. Sementara itu Tini kelihatannya sudah tidur nyenyak sedangkan perasaan dan pikiranku hanya terpancang pada anak-anakku karena tidak mengetahui keberadaan saya. Saya berusaha untuk bisa tidur tapi kekhawatiran terhadap anak bungsuku yang masih membutuhkan ASI (Air Susu Ibu) sangat saya rasakan.

Keesokan pagi harinya saya dan Tini dipanggil untuk kembali ke tempat ruangan dimana kami kemarin harinya diterima. Kami berdua disuruh duduk dan tidak lama kemudian rombongan laki-laki datang dari arah ruangan lain memasuki ruangan dimana kami sedang duduk. Lantas mereka disuruh duduk diatas lantai dengan masing-masing kedua tangannya ditaruh dibelakang kepala. Saya sangat kaget dan cemas karena para militer tersebut memperlakukan mereka kasar bahkan bajunya pun sudah penuh dengan lumuran darah dan juga tidak bersepatu. Mereka menceritakan pengalamannya bahwa malam harinya ketika  mereka sedang tidur nyenyak tiba-tiba masuk sekelompok orang berpakaian hitam secara mendadak dan langsung memukuli serta menyiksanya sambil berteriak-teriak “Komunis”.

Kompleks KODAM V Jaya  (17 oktober – Desember 1965)

A. Gedung LIDIKUS – kompleks KODAM V Jaya

Dari kantor CPM-Guntur ternyata kami dibawa kembali ke Kompleks KODAM V Jaya untuk langsung menuju ke gedung LIDIKUS. Kami dipisahkan dari rombongan rekan laki-laki kemudian dibawa kembali menuju kamar, dengan ukuran 4X5 meter, yang sebelumnya pernah kami tiduri. Kami tidur di atas lantai dengan dilapisi tikar. Saya tidak tahu lagi sudah berapa lama kami terisolasi dalam gedung tersebut tapi yang jelas setiap malam saya selalu terbangun dari tidur karena mendengar serombongan orang diturunkan dari mobil truk dengan disertai teriakan dan jeritan.

Setiap harinya kami diijinkan untuk pergi ke kamar kecil. Suatu kali ketika saya jalan menuju kamar kecil, saya berpapasan dengan salah seorang laki-laki berbaju putih. Lantas saya bertanya, “anda dari mana?” Dia menjawab bahwa dia ditangkap dari stasion Kereta Api Gambir. Dengan begitu  saya menjadi punya kesimpulan bahwa setiap hari selalu ada razzia atau pengontrolan serta penangkapan terhadap orang-orang yang dicurigai bahkan dianggap orang komunis.

Disamping itu kami juga mendapat jatah makan satu kali sehari tapi makanannya hanya bisa diambil di ruangan lain dan tentunya ini juga berlaku untuk para penghuni lainnya. Setiap kami  pergi untuk mengambil makanan, itu sangat dirasakan sekali kalau penghuni gedung LIDIKUS semakin hari bertambah dan anehnya penghuni yang perempuan hanya tetap kami berdua.

B. Gedung kedua – kompleks

KODAM V Jaya

Suatu kali kami berdua dipindah ke gedung lain tapi masih tetap didalam kompleks KODAM V Jaya. Mengenai rekan laki-laki lainnya, kami sudah tidak tau lagi nasibnya. Gedung yang kami tuju sangat mendapat penjagaan ketat dan bersenjata. Ketika kami memasuki ruangan, ternyata disitu sudah ada tawanan para pimpinan  perempuan, antara lain ketua umum GERWANI; Umi Sardjono, pimpinan pusat BTI (Barisan Tani Indonesia); Dahliar dan tiga anggota perempuan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) seperti Mudikdio, Salawati Daud dan Kartinah. Ke 5 tokoh perempuan tersebut ditangkap ketika Konferensi Internasional Anti Pangkalan Militer Asing (KIAPMA) sedang berlangsung, yang diadakan di Senayan tanggal 17 Oktober 1965. Masih ada seorang perempuan lain dimana sebelumnya tidak pernah saya kenal. Kelakuannya agak aneh karena setiap malam hari berteriak-teriak dan siang harinya ngomong tidak karuan bahkan terkadang tertawa sendiri tanpa sebab.

Kami tidur dengan menggunakan veldbed (Fielbed). Sore harinya ruangan kami dikunjungi oleh seorang Letnan. Dia mendatangi saya dan mengatakan bahwa Kolonel Latief juga berada dalam gedung yang sama tapi diruangan lain. Kolonel Latief adalah tokoh dituduh sebagai salah satu dalang gerakan 30 September. Ketika itu saya tidak menanggapi secara serius karena pikiran dan perasaan saya tetap pada keluargaku. Untuk itu saya coba memberanikan diri minta tolong supaya diberitahukan ke keluarga mengenai keberadaan saya. Ternyata dia menyanggupinya bahkan juga menawarkan kami semua untuk bisa dibawakan keperluan lainnya dari rumah. Kami semua menanggapi dengan senang hati dan  tentunya pesananku yang utama sikat gigi, odol, handuk, pakaian, sisir rambut, sabun cuci dan sabun mandi. Begitu pula dengan pesanan Ibu-ibu lainnya. Misalnya Ibu Salawati Daud memesan supaya gigi palsunya jangan lupa dibawakan.

Keesokan harinya Letnan yang baik itu datang keruangan kami dengan membawa pesanan keperluan kami. Pada suatu hari perempuan yang bersikap aneh itu diambil dari ruangan kami untuk selanjutnya kami tidak mengetahui nasibnya.

Sekitar 3 hari kemudian, saya dan Tini dibawa kembali menuju gedung LIDIKUS. Lima Ibu-ibu lainnya juga diikut sertakan bersama kami. Pada waktu yang sama saya mendapat surat pemecatan sebagai pegawai ANTARA dan juga dicantumkan pernyataan tidak berhak menerima tunjangan hari tua.

Bukit Duri- Desember 1965

A. Penjara Narapidana G30S sampai TAPOL G30S

Bulan desember 1965 saya, Tini dan 5 ibu-ibu lainnya dipindahkan ke penjara Bukit Duri, yang letaknya di Kampung Melayu. Dengan pemindahan ini saya merasa bahwa penahanan terhadap kami akan berlangsung lama. Ibu Umi Sardjono, sebelum pemindahan, telah mengajukan permohonan kepada komandan LIDIKUS Letnan Adil agar kami di Bukit Duri diperkenankan untuk dijenguk oleh keluarga.

Penjara Bukit Duri adalah penjara berdinding beton bekas peninggalan kolonial Belanda tapi sejak terjadi G30S dipakai selain sebagai tempat penjara perempuan narapidana kriminal juga untuk tempat tahanan politik – perempuan disebut Narapidana G30S.

Untuk memasuki ruangan “Narapidana G30S” harus melalui beberapa pintu lapisan. Lapisan pintu pertama dan ke dua terbuat dari besi baja dan kayu tebal. Pintu ke tiga terbuat dari kawat besi dan pintu ke empat merupakan pintu terakhir terbuat dari jeruji besi dan baja tebal.

Sesampainya kami diruangan “Narapidana G30S”, saya merasakan hirupan udara kotor, lembab dan berbau sangat tidak enak. Penghuninya kebanyakan anak-anak perempuan berumur antara 14 – 16 tahun. Yang termuda dipanggil gendut, karena badannya gemuk sedangkan nama sebenarnya Sukiyah. Anak berumur 14 tahun itu mengerti politik apa? Sepengetahuan saya mereka itu ditangkap di Lubang Buaya kemudian dibawa ke CPM atau rumah tahanan militer lainnya. Setelah itu mereka dibawa ke penjara Bukit Duri. Tidak lama kemudian ruangan “Narapidana G30S” namanya dirubah menjadi ruangan golongan TAPOL G30S. Ruangan kami memang terpisah dari golongan “Narapidana Kriminal”.

Para penjaga penjara kelihatannya berasal dari Corps Polisi Militer (CPM). Jadi kesimpulan ku bahwa masalah penjara  dibawah komando langsung dari militer KODAM V Jaya. Hanya mengenai urusan makanan ditangani oleh pengurus staf penjara Bukit Duri. Makanan yang kami dapat setiap harinya, yaitu nasi dengan sayur tapi kuahnya berwarna hitam.

Kami ditempatkan di sel-kamar dengan berukuran berbeda. Saya sendiri tidur di sel-kamar yang letaknya di pintu masuk untuk menuju ke sel-sel kamar lainnya. Sel-kamar tersebut berdinding beton, ukurannya 2X1,5 meter dimana pintu masuknya ada lobang karena berfungsi sebagai tempat untuk menyampaikan sepiring nasi dan semangkok sayur. Tempat tidurnya terbuat dari beton dan hanya dilapisi tikar. Sel-kamarnya sangat lembab dan dingin karena tidak ada ventilasi. Memang didalam sel-kamar tersebut ada jendela kecil dari kaca yang letaknya diatas tempat tidur-beton, tapi berfungsi hanya untuk sedikit dapet penerangan dari luar. Jadi dengan kondisi sel-kamar seperti itu mengakibatkan kondisi kesehatan saya tidak bagus, seperti penyakit reumatik dan sesak nafas.

B. Kehidupan di penjara Bukit

Duri

Suasana awal kedatangan kami di penjara Bukit Duri terasa sangat tegang. Beberapa dari para penghuni anak-anak terkadang berteriak-teriak, bicara sendirian atau menangis yang menyayat hati saya. Memang kami semua mengalami nasib sama karena setiap hari sel-kamar selalu dalam keadan terkunci. Kami hanya diperkenankan dua kali sehari untuk pergi ke kamar mandi atau ke kamar kecil. Itupun dilakukan dengan cara berkelompok pada pagi dan sore hari.

Awal tahun 1967 saya didatangi ibu Polwan (Polisi wanita) dan memberitahukan bahwa ibu saya pernah datang ke penjara dengan tujuan untuk minta ketemu dengan saya tapi dia tidak di ijinkan untuk bertemu. Ibu berpesan supaya saya tidak usah mengkhawatirkan keadaan anak-anakku karena beliaulah yang mengurusnya dengan didampingi seorang pembantu yang setia. Setelah mendengar pesan tersebut, saya menjadi terharu serta mengucapkan banyak terima kasih kepada ibuku. Tidak berapa lama kemudian saya diperkenankan untuk menerima makanan dari keluarga, itu terjadi untuk setiap satu bulan sekali, dan kiriman makanan tersebut datangnya dari ibuku.

Akhir tahun 1967 untuk pertama kali saya diperkenankan bertemu dengan keluarga. Pada sa’at itu saya sangat gembira bisa bertemu dengan ibu dan anak-anakku. Dengan rasa gembira saya berjalan dari sel-kamar menuju ruangan pertemuan. Dari kejauhan saya melihat ibu sedang menggendong anak bungsuku yang sudah berusia 2 tahun. Sesampainya di ruang pertemuan saya mencoba untuk memeluk anak bungsuku tapi saya hanya bisa merasakan sentuhan jari tangannya yang halus dan mungil. Keinginan untuk memeluk serta mencium pipinya yang lembut tidak dapat kurasakan karena dibatasi oleh jeruji besi. Biar bagaimanapun hati saya tetap senang walaupun kesempatan pertemuan hanya diperbolehkan berlangsung sampai 10 menit.  Sejak sa’at itu pertemuan saya dengan keluarga dilakukan 1 kali sebulan.

Karena sel-kamar saya letaknya persis dipintu masuk untuk ke sel-kamar lainnya, jadi saya sering melihat melalui lobang pintu orang yang keluar dan masuk blok sel-kamar tersebut.  Dengan begitu saya mengikuti proses penambahan penghuni penjara dan ternyata kebanyakan mereka pindahan dari berbagai rumah tahanan militer lainnya, misalnya Ibu Suwardiningsih pindahan dari Palembang, Ibu Sundari pindahan dari Bengkulu. Ibu-ibu pendatang baru itu mengalami isolasi ketat dan ditempatkan di blok baru bernama blok A.  Setelah itu saya baru mengerti bahwa TAPOL G30S terbagi atas 3 bagian, yaitu blok  kategori A sampai kategori C. Blok kategori A dilihat sebagai kategori berat dan tempatnya terpisah dengan blok kategori lainnya. Pemisahan tersebut dilapisi dengan kayu tebal. Penghuni blok kategori A antara lain, Dokter Sumiarsih dikenal sebagai dokter yang ramah dan baik karena suka menolong orang-orang sakit, Sri Ambar, Dr Sutanti Aidit dan ny. Nyoto.

Pertengahan tahun 1970 Carmel Budiardjo, orang Inggris, masuk di penjara Bukit Duri. Saya sangat kaget dan marah karena kenapa perempuan asing juga ditangkap dan dimasukan ke penjara? Sebelum peristiwa G30S saya sering melihat Carmel di Deparlu (Departemen Luar Negri). Ketika itu saya bekerja di ANTARA.

C. Perubahan dalam penjara

Proses perjalanan kehidupan saya dipenjara tidak bisa ku hitung dengan cara penghitungan hari, bulan dan tahun tapi suasana kehidupannya tetap kami alami dengan melalui proses perubahan. Militer dari KODAM V Jaya yang mengontrol dan mengurus kami pada akhirnya mempunyai ruangan kantor tersendiri. Untuk itu golongan TAPOL mempunyai Komandan Blok yang disingkat DANBLOK.  Kantor DANBLOK berfungsi sebagai penghubung antara TAPOL dengan penguasa militer di penjara. Tujuan pokoknya ialah untuk mengontrol dan melaporkan kepada pihak yang berwajib bilamana TAPOL dalam keadaan sakit keras atau kecelakaan. Sebelumnya memang selalu ada pengawasan dua orang perempuan dari kepolisian tapi pengawasan tersebut tidak bisa dilakukan pada malam hari.

Disamping itu peranan DANBLOK juga dibutuhkan untuk penanganan secara langsung dari militer dalam urusan makanan. Misalnya diadakan pembagian kerja secara bergantian untuk memasak sedangkan para penjaga militer bertugas untuk belanja ke pasar.  Kemudian hari beberapa TAPOL secara bergantian pernah mendapat kepercayaan untuk pergi belanja dengan didampingi pengawalan militer.

Pembiayaan kebutuhan hidup di penjara sebagian didapat dari hasil penjualan barang-barang kerajinan tangan menyulam. Sulaman yang kami buat, seperti taplak meja lengkap dengan serbetnya, seprei beserta sarung bantalnya, saputangan dan pakaian dengan motief bagus dan indah. Sementara itu pegawai penjara menjualkannya ke luar penjara lalu hasil dari penjualan dibelikan bahan-bahan baru keperluan kerajinan tangan dan bahan makanan sebagai penambah gizi supaya bertahan hidup sehat.

D. Pengontrolan dan interogasi

Kehidupan didalam penjara tidak lepas dari pengontrolan ketat dan interogasi. Pengontrolan dilakukan oleh satuan militer angkatan darat dalam jumlah banyak, yang datang dari luar penjara. Mereka menginstruksi para TAPOL keluar dari sel-kamar masing-masing untuk berbaris dan kemudian disuruh berhitung. Sementara itu sebagian dari rombongan kesatuan militer lainnya masuk  ke dalam tiap sel-kamar dan memeriksa semua isi dalam sel-kamar tersebut. Suatu kali mereka menemui kertas-kertas tua didalam buku agama. Memang kehidupan kami dipenjara tanpa secarik kertas, bolpoin ataupun alat tulis lainnya. Buku bacaan yang diperbolehkan hanya terbatas pada buku-buku agama. Karena saya beragama islam maka buku bacaan kitab Al qur’an.  Pengontrolan dilakukan cukup sering jadi didalam penjarapun masih ada penggeledahan.

Interogasi dilakukan dengan cara satu persatu dipanggil untuk menghadap. Biasanya dilakukan pada malam hari sewaktu kami sedang tidur nyenyak. Dalam interogasi pertama terhadap saya ditangani oleh seorang kapten dari Angkatan Darat. Pertanyaan pertama yang diajukan a.l. ” Apakah anda sudah mengetahui bahwa anda termasuk golongan A?” Lantas saya menjawab: ” Saya belum mengetahui hal itu, lagi pula saya belum mengerti mengenai pembedaan kategori antara golongan A, B dan seterusnya.”  Rupanya pertanyaan saya dianggap sebagai pertanyaan lucu lalu dia menerangkan bahwa golongan A termasuk kategori berat untuk dihadapkan ke proses pengadilan dengan vonis hukuman seumur hidup atau hukuman mati, sedangkan golongan C termasuk kategori paling ringan serta tidak perlu melalui proses pengadilan. Selanjutnya saya bertanya kembali mengenai diri saya yang termasuk kategori berat dengan golongan A. Penjelasannya adalah bahwa D.P Karim (Ketua PWI Pusat, Persatuan  Wartawan Indonesia) juga termasuk kategori berat dengan golongan A. Lantas saya menjelaskan mengenai diri saya yang bekerja sebagai wartawan di ANTARA serta hubungannya dengan PWI sebagai organisasi Persatuan Wartawan yang berfungsi melindungi hak kerja wartawan. Untuk itu bagi orang bekerja sebagai wartawan dengan sendirinya ingin juga menjadi anggota PWI. Jadi saya di PWI hanya sebagai anggota biasa karena status pekerjaan saya sebagai wartawan dengan demikian hubungannya dengan pekerjaan dalam organisasi persatuan Wartawan sama sekali tidak ada. Kemudian Bapak kapten menyatakan bahwa saya memang tergolong dalam kategori B dan kedatangannya khusus untuk mengecek segala sesuatu yang diperlukan.

Interogasi ke dua saya berhadapan dengan seorang Letnan dari ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia). Rupanya dia pernah juga menginterogasi saya sewaktu saya masih berada di LIDIKUS. Setelah interogasi kedua, saya tidak tahu lagi sampai berapa kali saya musti berhadapan dengan Letnan tersebut dan yang jelas prosesnya cukup lama serta  pertanyaannyapun sangat teliti. Tini juga untuk beberapa kali di interogasi tapi ditangani oleh militer dari Angkatan Darat. Berapa lama kemudian Tini dibebaskan karena ternyata yang dicari bukannya dia yaitu seorang gadis lain bernama Hartinah bekerja sebagai sekretaris Direksi.

Sekitar tahun 1966 saya dipanggil kembali untuk datang keruang interogasi. Kali ini saya tidak berhadapan dengan Letnan-ALRI melainkan dengan beberapa ibu-ibu cantik berpakaian bagus, kemudian saya dipersilahkan untuk duduk. Dengan ramah mereka secara bergantian mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Dikemudian hari saya dengar bahwa mereka itu adalah para ahli Psychology yang bekerja men-screaning para TAPOL untuk menilai sampai seberapa jauh tahanan politik kena pengaruh ideologi Komunis.

E. Golongan C dan keputusan

mendadak

Masa interogasi saya rupanya sudah selesai sama sekali karena menurut petugas militer saya termasuk kategori golongan C dan diberitakan bahwa tidak lama lagi akan dibebaskan.  Akhir tahun 1968 suasana penjara Bukit Duri mengalami ketegangan dan sebab dari perubahan suasana tersebut tidak saya ketahui secara jelas. Kami mengalami pengontrolan ketat dan kesempatan secara bergantian untuk pergi belanja ke luar penjara ditiadakan. Pertemuan dengan keluarga untuk sementara tidak diijinkan jadi kami hanya bisa menerima kiriman makanan dari keluarga.

Sekitar tahun 70 an ada berita lain mengabarkan bahwa TAPOL-laki laki golongan B akan diberangkatkan ke pulau Buru. Tidak lama kemudian diberitakan kembali bahwa TAPOL-Perempuan golongan B juga akan diberangkatkan ke Plantungan. Dijelaskan bahwa Plantungan merupakan tempat di pegunungan, letaknya tidak jauh dari kota Semarang. Plantungan dinilai sebagai tempat penjara terbuka dan lebih baik dari penjara Bukit Duri.  Sementera itu saya tetap sibuk mempersiapkan diri untuk menunggu waktu pembebasan saya.  Biarpun suasana ketegangan dalam penjara masih belum pulih tapi saya tetap coba untuk mempunyai rasa kegembiraan serta pengharapan besar untuk bisa berkumpul kembali bersama anak-anakku.

Suatu kali kami dikunjungi oleh komandan dari penjara Salemba. Saya mempertanyakan diri mengenai kedatangan komandan tersebut ke penjara Bukit Duri. Tidak berapa lama kemudian keputusan untuk diberangkatkan ke Plantungan tiba waktunya. Ternyata saya beserta  2 orang golongan C lainnya juga diikut sertakan bersama golongan B. Kami diberangkatkan pada subuh pagi jam 4.

Plantungan periode 1971 – 1975

A. Berkenalan dengan lokasi pengasingan

Perjalanan cukup melelahkan, akhirnya kami sampai juga di Plantungan dimana tempat jaman pendudukan Kolonial Belanda dipakai sebagai tempat pengasingan orang-orang berpenyakit lepra. Memang letaknya sangat terpencil dan dikelilingi pegunungan.

Kedatangan kami diterima oleh Komandan Prayogo bersama stafnya di kantor komandan. Setelah itu kami dibawa ke salah satu tempat tidak berjauhan dengan kantor tersebut. Kesan pertama ketika kami datang, yaitu udara sejuk bisa memberikan rasa nyaman. Tapi sa’at itu perasaan saya hanya tertuju pada anak-anakku yang belum mengetahui keberadaan ibunya di pengasingan Plantungan. Akhirnya saya merasa lelah dan tertidur pulas.

Esok pagi harinya kami mulai berkenalan dengan lokasi dimana sebelumnya tidak pernah disentuh oleh kehidupan lingkungan manusia. Kami yang didatangkan dari Jawa tengah dan Jakarta merupakan rombongan pertama sebagai penghuni lokasi Pelantungan. Memang sejak berakhirnya penjajahan Belanda lokasi tersebut menjadi tempat penghuni binatang liar seperti ular berbisa, kelabang dan binatang berbisa lainnya. Dikatakannya bahwa dalam kompleks Blok sebelum kedatangan kami sudah dibersihkan oleh ahli pengusir ular tapi ternyata masih ditemukan satu ular.  Begitu juga dengan lokasi sekitarnya masih ditemukan beberapa binatang berbisa lainnya.

B. Kehidupan di pengasingan

Plantungan

Kehidupan di pengasingan Plantungan kami diharuskan menggarap tanah untuk menanam sayuran dan pohon bunga, pekerjaan dalam rumah seperti membersihkan kompleks blok, kantor komandan dan memasak untuk penghuni Plantungan. Untuk urusan kesehatan ditangani oleh dokter Sumiarsih dibantu Ibu Ratih. Praktek kerja untuk penanganan kesehatan tidak hanya terbatas buat penghuni lokasi tapi juga diperbolehkan melayani penduduk desa sekitar pegunungan. Dokter ramah itu kemudian dikenal dengan sebutan ‘Dokter baik dari kompleks TAPOL’ dan pasiennya pun banyak. Saya sendiri ditugaskan oleh komandan Prayogo untuk pemeliharaan Taman Plantungan.

Disamping itu kami tetap perlu dan diperbolehkan mencari nafkah dengan membuat pekerjaan tangan menyulam untuk membeli bahan makanan sebagai tambahan gizi dan keperluan bahan-bahan pekerjaan tangan menyulam.

Tidak seperti halnya di Penjara Bukit Duri, ternyata tempat pengasingan yang terpencil itu mendapat perhatian dari Internasional. Suatu kali kami di kunjungi oleh tamu para wartawan dari Belanda dimana waktu itu sedang mengikuti perjalanan kunjungan Ratu Juliana dan suaminya dalam kunjungan di Indonesia tahun 1971. Kami diperkenankan untuk menemui kunjungan para tamu tersebut. Merekapun diperbolehkan untuk mengadakan ‘percakapan secara bebas’ dengan beberapa TAPOL tapi saya sendiri tidak keluar dari blok karena saya harus menunggu salah seorang TAPOL dari Jawa Barat, berumur 67 tahun, yang sedang sakit. Tiba-tiba salah satu dari wartawan Belanda tersebut datang menghampiri blok kami dan setahu saya dia tidak membawa foto kamera. Lantas kami terlibat dalam percakapan dengan menggunakan bahasa Belanda. Pembicaraan hanya mengenai masalah umum karena masing-masing tahu bahwa tidak diperkenankan membicarakan masalah politik. Dalam percakapan ternyata dia dapat mengenali pengalaman fungsi pekerjaan saya sebagai wartawan tapi untungnya dia tidak sampai mengetahui latar belakang pengalaman pekerjaan saya di Surabaya pada zaman penjajahan Belanda sebagai wartawan “Soerabaya Handelsblad” .

C.  Kunjungan wakil

International Red Cross dan

pemindahan ke penjara Bulu

Untuk ke dua kalinya penjara pengasingan Plantungan dikunjungi oleh tamu asing dan kali ini kunjungan dari seorang Dokter sebagai wakil dari International Red Cross. Namanya saya lupa walaupun pada waktu itu saya diijinkan hadir dalam pertemuan dengannya.  Pertemuan diadakan di ruang tamu-besar, dan yang hadir tidak hanya kami bersama dokter tersebut tapi juga komandan Mayor Prayogo beserta para petugas lainnya. Selama dalam pertemuan bapak komandan dan para petugasnya duduk terpisah tapi tidak berjauhan dengan kami. Sepertinya komandan tersebut memberikan kelonggaran kapada kami yang duduk bergabung dengan tamunya. Dalam percakapan antara kami diawali dengan pembicaraan secara umum tapi dia juga menanyakan mengenai beberapa kebutuhan se hari-hari, seperti obat-obatan, kasur, sendal dan lain-lain yang pernah dikirimkannya. Memang kami menjawab dengan jujur dan seadanya bahwa kami belum menerima kiriman-kiriman tersebut. Selanjutnya suasana pertemuan tetap santai dan kadang-kadang kami tertawa sukaria.

Satu hari setelah kunjungan pertemuan, bapak komandan menunjukan sikap tidak senang terhadap kami bahkan kadang menunjukan sikap marahnya. Kami mulai merasa bahwa hasil pertemuannya rupanya tidak memberi kepuasan terhadapnya. Tiba tiba dia mengadakan pengontrolan ke semua blok. Sa’at beliau mendatangi dokter Sumiarsih, terlihat menunjukan sikap marahnya. Bapak komandan langsung mengeluarkan peringatan-peringatan keras, serta menuduh Dokter Sumiarsih memberi pernyataan hal-hal tidak benar kepada tamunya. Setelah itu kami dipanggil untuk berkumpul di Aula, dan di tempat itu bapak komandan masih tetap mencurahkan kemarahannya kepada kami. Sekali lagi dengan nada kemarahannya dia menuduh dr. Sumiarsih, dra. Murtiningroem dan saya yang berasal dari Jakarta sebagai dalang memberi informasi tidak benar kapada wakil International Red Cross. Selanjutnya dinyatakan bahwa ada keputusan mengenai pemindahan sebanyak 45 orang ke penjara Bulu-Semarang. Kemudian  pemindahan dilakukan pada akhir tahun 1975.

Bulu – Semarang periode 1975 – 1978

A. Serah terima dan isolasi

Suasana dalam perjalanan menuju Semarang agak tegang karena bapak Komandan masih kelihatan marah, sedangkan kami masih belum ada bayangan maupun gambaran mengenai nasib yang akan kami hadapi nanti di penjara Bulu-Semarang.

Setibanya di penjara Bulu kami diterima oleh ibu pimpinan penjara, yaitu seorang sarjana Hukum, yang penampilannya kelihatan anggun. Rombongan kami disambut oleh upacara serah terima, lalu kemudian dinyatakan oleh komandan Mayor Prayogo bahwa penyerahan rombongan sebanyak 45 orang tersebut adalah termasuk kategori golongan keras. Setelah upacara penyerahan selesai, lantas kami digiring ketempat gedung ruangan yang sudah dipersiapkan.

Saya merasa heran sekali ketika kami berjalan melalui halaman penjara, terlihat pagar tembok mengelilingi gedung yang akan kami tinggali. Untuk memasuki ruangan besar, kami berjalan melalui sepasang pintu terbuat dari besi tebal. Perasaan saya sa’at itu, sepertinya kami berada di penjara dalam penjara karena gedung yang kami tinggali sebenarnya terpisah dengan gedung penjara Bulu beserta penghuninya.

Gedung tempat tinggal kami letaknya memang berada dihalaman penjara Bulu, namun masih ada tiga tembok,  yang mengelilingi ruangan tempat kami untuk tidur. Tempat tidurnya terbuat dari papan dan dilapisi tikar. Hanya pegawai penjara datang mengontrol kami, selebihnya kami tidak diperbolehkan berhubungan dengan siapapun. Bahkan para petugas pembina rohanipun (kaum agamawan) tidak datang mengunjungi kami. Saya merasa khawatir karena ternyata kami dimasukan dalam ruang isolasi. Ketika itu pikiran saya hanya tertuju pada anak-anakku.

Proses isolasi tidak dapat kuhitung dengan jari karena kami tidak mengetahui lagi pembedaan antara  siang hari dan malam hari. Kamipun tidak diijinkan untuk menerima maupun mengirim surat kepada siapapun juga. Suatu ketika saya dipanggil untuk menghadap ibu kepala penjara. Dengan rasa tidak menentu saya berjalan dengan didampingi pengawal. Ketika saya menemuinya ternyata sikap ibu tersebut baik-baik saja bahkan menunjukan keramahannya sehingga rasa menjadi tenang kembali. Kemudian dia bilang bahwa ada kiriman ‘pos-tercatat’ buat saya, untuk itu saya diminta untuk membubuhi tandatangan. Saya mengira kiriman pos-tercatat tersebut dari anak-anak saya, tapi ternyata kirimannya berasal dari Hongkong yang nama pengirimnya saya tidak tahu. Setelah itu saya berkesimpulan bahwa surat tersebut berasal dari seorang, yang memperhatikan masalah Hak Azazi Manusia di Indonesia. Tentunya saya juga sangat gembira karena ini menandakan bahwa keberadaan kami sudah diketahui oleh Internasional. Untuk itu saya sangat senang serta mengucapkan rasa terimakasih biarpun kiriman pos-tercatat tersebut tidak sempat sampai ketangan saya.

B. Perubahan dan kunjungan di

penjara Bulu

Rupanya cuaca di penjara Bulu sudah mulai terang, ketika para pembina rohani mulai mengunjungi kami. Setelah itu kami diperbolehkan mengerjakan pekerjaan tangan menyulam bahkan hasil dari pekerjaan kami bisa di jual ke luar tembok penjara oleh para ibu petugas. Perubahan di penjara semakin baik setelah beberapa fasilitas seperti penyediaan mesin jahit  untuk bisa kami gunakan.

Disamping itu penjara Bulu di kunjungi tamu dari  International Red Cross, kali ini  kami juga di perkenankan untuk menemuinya. Suasana dalam pertemuan ternyata bisa lebih leluasa begitupun percakapannya dengan dr Sumiarsih. Tidak lama kemudian kami dapat kunjungan 2 wanita dari KOWAD (Korps Wanita Angkatan Darat) yang pernah bertugas di Plantungan. Dalam pertemuannya mereka tidak menunjukan sikap marah, sehingga dalam pertemuannya sangat memberikan perasaan lebih tenang.

Suasana dan kondisi di penjara menjadi lebih baik dengan adanya kunjungan dari kolonel Taswar Akib. Karena kunjungannya mempunyai tugas untuk menangani dan menyelesaikan masalah TAPOL golongan B. Beberapa lama kemudian, setelah kolonel tersebut mengunjungi kami, maka perubahan kehidupan di penjara semakin membaik, seperti kiriman sebuah televisi. Dengan adanya televisi di penjara, berarti menunjukan adanya  perkembangan menjadi lebih positif, juga dengan begitu kami paling sedikit bisa mendapat gambaran mengenai kehidupan di luar tembok penjara. Saya ingat betul pada waktu itu tahun 1977.

Akhir tahun 1977 penjara Bulu dikunjungi oleh seorang ibu yang tidak berpakaian militer. Sa’at beliau menemui saya sikapnya menunjukan seperti mengenali saya, sedangkan saya merasa sebelumnya tidak pernah berkenalan dengan ibu tersebut. Beliau mempernalkan diri sebagai pegawai Departemen Penerangan dan mengatakan bahwa sebelum peristiwa G30S beliau pernah melihat saya di Istana Merdeka. Lalu saya menjawab: ‘kemungkinan itu benar karena saya dulu menjabat sebagai wakil kepala Desk Dalam Negeri di Pusat Kantor Berita Antara, jadi saya punya kartu ijin masuk istana karena sehubungan dengan tugas kerja saya sebagai wartawan. Kadang saya ke Istana juga sifatnya menggantikan tugas rekan saya, yang berhalangan dalam menangani berita-berita istana. Disamping itu saya juga ditugaskan menangani berita luar negeri, untuk itu saya juga setiap hari harus pergi ke Departemen Luar Negeri.

Dibebaskan

Kunjungan kolonel Taswar Akib ke penjara Bulu dilakukan untuk beberapa kali. Setelah itu kami merasakan bahwa cuaca dalam penjara semakin cerah dan gembira. Karena tiba sa’atnya rombongan pertama dibebaskan untuk kembali kekeluarganya di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jakarta. Mengenai jumlahnya saya tidak ingat dan yang jelas saya belum termasuk dalam rombongan tersebut. Biar gimana pun juga, saya sudah merasa gembira karena pembebasan tersebut berarti akan dilanjutkan dengan pembebasan untuk semua TAPOL.

Tahun 1978, untuk pertama kali saya menghitung masa dikurung dalam penjara. Saya sama sekali tidak dapat menggambarkan keadaan kehidupan di luar penjara, karena 13 tahun berada di tempat pengasingan. Tapi pada sa’at itu hanya sekejap saja diliputi pikiran demikian. Saya dan ibu-ibu lainnya lebih sering mencurahkan rasa kegembiraan bilamana kami berkumpul kembali dengan keluarga. Hampir 100% pembicaraan kami mengenai gambaran perkembangan dan perubahan kehidupan anak-anak kami, umpamanya mengenai anaknya yang sudah menikah sehingga kami bisa merasakan menggendong cucu pertamanya. Ada pula yang mengira anaknya sudah menyelesaikan sekolah dan sudah bekerja. Masih banyak lagi bayangan-bayangan yang diperkirakan mengenai perkembangan anggota keluarganya.

Yang ditunggu-tunggu datang juga! Pembebasan bagi kami semua pada akhirnya diumumkan!  Luar biasa!  Lama sudah kami hidup terisolasi dalam penderitaan disatu ruangan dengan ibu-ibu dari berbagai tempat di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta dan juga dari Irian Barat.

Ke Jakarta

Pada hari dan jam yang ditentukan, kami diberangkatkan untuk dibawa menuju ke satu tempat di Semarang. Saya tidak tahu persis nama tempat tersebut, dugaan saya adalah kantor KODAM – Semarang. Sesampainya di kantor tersebut langsung diadakan pembagian dalam kelompok. Saya termasuk dalam kelompok kecil dipisahkan dari rombongan besar. Pada waktu itu saya merasa betul-betul panik. Beberapa dari kami dipisah sesuai asal dari berbagai daerah, serta dipindahkan ke suatu ruangan kecil. Hari berikutnya kami masih tetap menghuni tempat ruangan kecil tersebut. Tidak dapat saya uraikan kegelisahan saya pada waktu itu, karena sebelumnya tidak pernah ada pemberitahuan maupun penjelasan apapun dari pihak yang berwajib. Hari berikutnya masing-masing kelompok diberangkatkan dan dikawal untuk dibawa ketempat yang dituju. Saya termasuk dari kelompok kecil berjumlah 3 orang, yaitu saya dan 2 orang lainnya untuk siap diberangkatkan. Keberangkatan kami dikawal oleh seorang bapak berpakaian militer menuju ke Jakarta.

Sesampainya di Jakarta, kami di jemput oleh seorang militer dengan mobil Jib-Militer kemudian dibawa menuju gedung KODAM V Jaya. Sesampainya di gedung tersebut, kami diperingatkan supaya menuggu di mobil, sementara itu bapak militer turun dari mobil, dan tak lama kemudian kembali sambil memberi tahu pada kami, bahwa akan langsung dibawa ke penjara Salemba. Rupanya sudah diberitahu sebelumnya karena ketika kami sampai di penjara Salemba, dan turun dari mobil, lalu kami disambut oleh para Bapak dan Ibu. Disitu sudah tersedia minuman yang disediakan buat kami. Sementara itu para keluarga sudah hadir karena masing-masing telah menunggu untuk menjemput kami. Rasa gembira tidak bisa saya lukiskan, yang jelas pertemuan kami dengan keluarga penuh dengan kehangatan. Pertemuan ini terjadi sekitar bulan agustus 1978.

PULANG

Saya dan anak-anak langsung pulang menuju rumah keluarga di daerah Tebet, yaitu di kompleks perumahan Wartawan dari usaha PWI, Persatuan Wartawan Indonesia. Memang jauh sebelum peristiwa G30S daerah Tebet masih berupa daerah perkebunan bebas. Disitu masih banyak pohon buah-buahan. Waktu itu kami masih tinggal dirumah sewa di daerah Salemba-Jakarta Barat.

Di sepanjang perjalanan menuju rumah, saya melihat ke arah kiri dan ke kanan tapi saya sudah tidak lagi dapat mengenali sekitar daerah tersebut. Terasa benar betapa lamanya saya telah meninggalkan Jakarta, karena disamping itu Jakara juga merupakan kota kenangan sangat berharga buat saya. Terlintas daya ingatanku pada Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 agustus 1945. Ketika itu saya masih sekolah di salah satu universitas Jakarta. Terlintas penglihatan ingatanku masih terpaku pada masa lalu, padahal sa’at itu saya sedang berada dimasa kini.

Tidak lama kemudian sampailah kami di daerah kompleks perumahan wartawan serta berhenti dimuka pintu rumah. Begitu masuk rumah saya disambut oleh ibu saya yang usianya sudah senja, lantas saya memeluknya sambil mengucapkan beribu-ribu terimakasih karena beliaulah yang selama 13 tahun melindungi dan membesarkan anak-anakku. Begitu pula saya memeluk anak-anakku dan tanpa terasa airmataku berlinang karena gembira dan terharu. Si bungsu yang ku tinggalkan 13 tahun lalu di usia 5 bulan, sudah kelas satu SMP (Sekolah Menengah Pertama). Pertemuan kami berlangsung dalam suasana akrap dengan tangisan dan tawa karena gembira. Tiba saat makan bersama sekeluarga dalam suasana penuh cinta kasih. Mulailah masing-masing dari anak-anakku menceritakan pengalaman, dan ada pula yang sifatnya bertanya. Malam pertama penuh kenangan sangat indah, berkumpul kembali dengan keluarga tercinta.

Sekembali saya di rumah memang disambut sangat hangat oleh anak-anak yang telah dewasa. Anak tertua saya umurnya sudah mencapai 28 tahun, sedangkan ibu saya kelihatan mulai sakitan. Saya baru menyadarinya bahwa sudah sekian lama kami dipisahkan, dimana dalam proses perpisahan selama 13 tahun lamanya ternyata anak tertua dipaksakan oleh situasi dan kondisinya untuk dibebani tanggung jawab besar. Beban berat tidak hanya dipaksa untuk perperan sebagai Ayah maupun Ibu, tapi pula untuk membiayai hidup keluarga, serta membesarkan adik-adiknya. Ibu saya dengan setia mendampingi, melindungi dan mendidik anak-anakku. Saya sangat terharu dan bangga terhadap anak-anak yang pada akhirnya dapat berhasil melindungi, mendidik dan membesarkan dirinya dalam pendampingan Ibuku.

Di rumah saya mencoba membiasakan diri untuk membaca koran harian yang memakai huruf latin karena selama di dalam penjara, saya terbiasa membaca huruf Arab. Usaha mengenal anak-anakku, para tetangga dan lingkungan terdekat berjalan lancar, bahkan dalam waktu singkat saya sudah ikut serta kegiatan seperti arisan para Ibu-ibu di Kompleks kami. Yang paling terpenting buat saya ialah secara intensif belajar mengenal anak-anakku yang sudah besar dan mendewasa.

Kartu Penduduk

Esok harinya saya pergi ke KODIM (Komando Disrik Militer) karena sebelumnya telah disarankan oleh militer dari KODAM-Jakarta untuk mengunjungi Kantor KODIM.  Sesampainya saya di kantor KODIM suasana ruangan sangat sepi; saya satu-satunya tamu ketika itu, dan disitu yang bertugas hanya seorang Bapak Militer. Sebenarnya saya tidak mengetahui maksud dari kunjungan wajib saya ke Kantor KODIM karena sebelumya tidak ada penjelasan. Ternyata kedatangan saya dimaksudkan untuk diberi Kartu Penduduk, yang rupanya segala sesuatunya telah dipersiapkan terlebih dahulu dan diatur rapi.

Bapak Militer tersebut tidak memerlukan keterangan-keterangan lebih lanjut mengenai diri saya, maka tidak lama kemudian Kartu Penduduk sudah diberikan kepada saya. Dengan senang hati saya pulang kerumah, tapi setelah sampai dirumah saya perhatikan kartu penduduk tersebut terlihat tanda kode dengan huruf ET. Hanya seketika saya kaget dan heran sekali mengenai pencantuman kode ET, yang adalah singkatan dari Ex- TAPOL. Saya langsung merasa serta berpikir mengenai status baru saya sebagai seorang warga negara Republik Indonesia, yang mana status sipilnya di diskriminasi oleh pemerintah Orde Baru. Hal ini karena pengalaman saya pernah dihukum penjara selama 13 tahun tanpa proses pengadilan. Tapi setelah itu saya mencoba untuk langsung menutup pikiran dan perasaan saya, serta melihat kemasa depan, bagaimana pengalaman hidup nantinya dalam masyarakat bangsa Indonesia periode Orde Baru.

Persamaan dan perbedaan Indonesia dan negeri negeri Amerika Latin (AL).

Posted October 4, 2010
Filed under: Sejarah |
* Comments (1)

(Memperingati Dampak Peristiwa Berdarah 1965 Dan Problem Jalan Keluar )
Jika kita perhatikan situasi dan kondisi negeri negeri Amerika Latin (AL) dengan Indonesia, maka banyak sekali persamaan dan juga perbedaan, tetapi secara umum, kemiripan kemiripannya  lebih menonjol dari perbedaan  yang ada.

Pada dasarnya, Indonesia dan negeri negeri AL  adalah negeri negeri yang disebut negeri sedang berkembang (developing countries), satu terminologi penghalus yang diberikan oleh negeri negeri maju , yang dulunya mereka sebut negeri terbelakang (under developed countries) , yang GNP nya masih jauh dibawah GNP negeri negeri maju, terutama di barat.
Sebagai ciri negeri berkembang ini adalah, bila negeri ltu mempunyai resourse alam yang besar, maka ekonomi dan politik negeri itu akan menjadi korban acak acakan, oblok oblokan dan campurtangan licik dari tangan tangan kotor dan berdarah imperialisme dan kolonialisme sejak abad ke 16  maupun abad  ke 20 dan sampai sekarang abad ke 21 ini dalam upaya mereka untuk tetap langgeng dan lestari menyedot kekayaan alam seperti vampire menyedot darah korbannya dan menghisap tenaga kerja yang sangat murah, sehingga mereka dibarat bisa hidup makmur dan menimbun kekayaan hasil penyedotan dan penindasan negeri negeri dunia ketiga sampai kempis.
Siapa yang melawan dan menentang perbuatan nista mereka niscaya  akan segera dan selalu dipojokkan dengan mengecap mereka sebagai teroris dan komunis, manusia manusia yang harus dihapuskan dari muka dunia.
Kata “komunis” dijadikan kata umpatan , kata stigmatisasi bagi seseorang untuk mengucilkan dan membinasakan orang orang yang menganggap keadilan masih harus dipertahankan dalam hubungan antar manusia di masyarakat.
Bahkan orang orang tak tahu apa apa, bila diinginkan untuk dibinasakan, maka dengan gampang dicap “komunis” , selesai sudah , boleh dibunuh.

Dengan upaya licik, kaum imperialis dan kolonialis ini menggunakan orang orang setempat yang mereka sogok jasmani dan rochaninya dan menjadikan mereka menjadi OKB (Orang Kaya Baru) dan sekaligus menjadi kacung kacung setia mereka dalam usaha terus menindas negeri jajahannya dan menghisap  SDA dan SDM negeri tersebut sampai ludes.
Inilah ciri pokok politik mereka terhadap negeri jajahan atau 1/2 jajahan mereka.
Tak aneh juga, dalam perjalanan sejarah negeri negeri AL dan Indonesia, terbentuk bermacam macam pemerintahan yang menjadi perpanjangan tangan kaum penghisap SDA dan SDM asing ini yang biasanya berbentuk Junta (rejim) militer dimana mana didunia ini.  Usaha mengganti kekuasaan yang anti rakyat setempat itu dengan pemerintahan yang demokratis dan pro rakyat, biasanya kandas karena adanya intervensi yang tidak tahu malu dari imperialis dan kolonialis melalui agen agen rahasia mereka , terutama imperialis Amerika dan Inggris (misal : pemerintah yang syah dari Allende di Chili yang diganti oleh Pinochet, kacung militernya imperialis Amerika dan jangan lupa pemerintah syah Bung Karno yang dbunuh pelan pelan dan digantikannya dengan budak imperialis Suharto sejak tahun 1965/1966 ) !

Fasisme
Selain Eropa sebelum PD II, maka Amerika Latin adalah gudangnya fasisme dan diktatur militer.

Elemen elemen (bagian penyebab) pandangan dunia  fasisme  di Amerika Latin (menurut Spitta, pejabat DAAD** di Mexico) adalah:

1. Tradisionisme Katholik yang berasal dari Spanyol.
2. Nasionalisme ( Peng artian yang berlebihan dari nasionalisme)
3. Kultus (pemujaan) atas Militer sebagai ideailisme pendidikan
4. Rasísme
5. Antikomunisme

** DAAD = Deutscher Akademischer Austausch Dienst   = Dinas Pertukaran Akademi Jerman .

Untuk Indonesia, sepertinya tidak ada dasar dasar itu , mengingat tradisi suku suku bangsa Indonesia sejak dulu hidup berdasarkan gotong royong , hidup bersama damai diantara macam macam kepercayaan dan agama, saling menolong diantara mereka.
Tradisi agama yang fundamentalis baik islam (Wahabi) maupun kristen tidak menonjol seperti di AL, nasionalisme sempit (chauvinisme)  bukanlah tradisi bangsa Indonesia, kultus atas aturan militer, rasisme dan antikomunisme , semuanya adalah asing buat rakyat Indonesia.
Mungkin karena hal hal itulah, maka usaha imperialis USA dan Inggris untuk menjadikan Indonesia (setelah merdeka) sebagai sapi perahan mereka dengan mendirikan rejim militer di Indonesia selalu gagal, hal ini juga karena politik Bung Karno yang tepat dalam memberikan arah Revolusi Indonesia sejak merdeka , 17 Agustus 1945 dan dalam memberikan pendidikan karakter dan kebangsaan yang tak kenal lelah dari beliau.

Tetapi setelah adanya coup d’etat Suharto 1965/1966 , dengan me rekayasa menggunakan dalih dalih penipuan akan kekejaman kaum komunis membunuh para pahlawan dan menyiksa mereka dilubang buaya, kemudian menyebarkan bahwa komunis = anti agama islam, menyebarkan chauvinisme , bahwa keturunan Tionghoa adalah penyebab kekacauan ekonomi sehingga berakibat rasisme yang timbul di Indonesia, dan kemudian penyebaran tiap hari berita atau suara anti komunisme  secara histeris, maka klop, terciptalah syarat syarat untuk membentuk rejim fasis militer di Indonesia , periode 1965/66 sampai 1998 ! Syarat syarat yang tertulis diatas terdiri dari 5 butir, yang disimpulkan oleh Spitta, pejabat DAAD Mexico itu telah dari tidak ada menjadi ada !
Degan begitu sempurnalah sudah syarat syarat dan alasan kaum neoimperilis untuk membentuk junta militer di Indonesia tahun 1965/1966 bagi Suharto & Co. yang bisa berumur 32 tahun , jauh lebih lama dari rejim militer manapun didunia !
Untuk membangun dan membentuk dan mempertahankan pemerintahan  rejim dikatatur orba Suharto ini , tak segan segan para militer dan ekonom ekonom Indonesia ini membunuh, menyiksa dan menindas bangsanya sendiri, orang orang tidak bersalah dengan mengecap mereka komunis atau simpatisan komunis ! Satu bentuk sablon yang diterima dari tuan tuan mereka kaum neoimperialis,  cara menyisihkan lawan lawan politik mereka yaitu dengan menyebarkan teror lahir dan bathin, physisk dan psychik terhadap rakyat Indonesia, agar selalu serba ketakutan! Perbuatan biadab yang tak ada taranya dalam sejarah bangsa indonesia ini !

Kemiripan
Selain mempunyai resource kekayaan alam dan tenaga kerja yang murah, Indonesia mirip sekali dengan negeri negeri AL
dalam sejarahnya, yang sejak lama (abad ke 16-17)  menjadi koloni negeri negeri Eropa .
Persamaan yang  paling pokok adalah bahwa negeri negeri itu merupakan  negeri kaya raya akan resource alam yang berlimpah limpah.
Kesamaan lainnya juga, bahwa kaum intelektil mereka kebanyakan dididik di USA, juga calon calon perwira dan pimpinan Angkatan Perang , kebanyakan adalah didikan dan lulusan USA.
Maka sudah menjadi jargon umum dinegeri negeri Indonesia dan AL selama periode diktator militer , bahwa secara simbolis yang berkuasa adalah Westpoint dan Berkeley Mafia , Westpoint adalah tempat US Military Academy , sedangkan Berkeley adalah tempat Universitas , dimana para calon calon ekonom digembleng.
Maka untuk menguasai resource alam yang luar biasa itu, kaum neoimperialis USA ( bukan kaum progresif dan rakyat USA umumnya !) mempersiapkan manusia manusia dari negeri setempat untuk menjadi penguasa dan ahli ekonomi negeri negeri masing masing , yang menuruti kehendak kaum neoimperialis ini.  Hasil usaha mereka  yang dipersiapkan berpuluh puluh tahun ini kita lihat sendiri: di Indonesia, selama 32 tahun + 12 tahun sampai sekarang, USA dan modal asing lainnya dengan aman dan tenang telah dan terus mengeduk dan menyedot kekayaan alam menurut pola yang mereka ingini tanpa adanya gangguan apapun. Perusahaan perusahaan seperti Freeport dan lain lainnya, secara leluasa mengeduk dengan aman kekayaan alam  Indonesia tanpa adanya perlawanan dari pihak Indonesia.
Begitupun dinegeri negeri AL, semua mengalami nasib sama seperti Indonesia, Chili,Venezuela,Mexico,Ecuador,Peru,Argentina,Brasilia ,Bolivia dan lain lainnya, hampir semua negeri negeri di AL !
Blue print ( atau lebih baik sablon atau resep) nya gampang saja : Diktatur Militer plus para “pakar” ekonomi  titik !
Di Indonesia: Suharto+(Emil Salim,Widjojo Nitisastro,Ali Wardhana dll.) adalah resep mujarab untuk Indonesia yang pada pokoknya masih prinsip mereka berjalan terus sampai sekarang , dimana neo imperialis dunia masih dengan tenang tenang menyedot kekayaan alam Indonesia , hal yang sangat bertolak belakang  dengan pasal 33 UUD 1945 !
Prinsip dan resep neoimperialis ini juga “berhasil” dengan “sukses” dijalankan di AL sampai detik dimana di Venezuela ada Chavez, di Bolivia ada Morales, di Ecuador ada Correa, di Argentina ada suami-isteri Kirchner, di Brasilia ada Lula da Silva dan lain lainnya…..

Perbedaan
Mereka mereka ini, para pemimpin AL, walau kebanyakan ( tidak semua !) adalah juga hasil cetakan sekolah militer atau ekonomi USA, achirnya mempunyai pikiran dan jiwa yang bersih dari sifat serigala yang serakah, mempunyai jiwa, rasa dan pikiran yang patriotis , otaknya berjalan dan berani memikir sendiri, mengapa negeri dan rakyat mereka tetap atau makin terbelakang, makin melarat, sedangkan kekayaan alam negeri mereka sangat berimpah limpah.
Dalam waktu yang relatif singkat, mereka bisa menyimpulkan, bahwa kaum neo imperialislah yang menjadi penyabab keterpurukan, keterbelakangan dan kesengsaraan rakyat dan negara mereka !
Tindakan tindakan drastis mereka lakukan : pengembalian kekuasaan atas sumber kekayaan alam dan kedaulatan atas negeri mereka rampas dan kembalikan ketangan negeri dan rakyat masing masing.
Perusahaan perusahaan dan modal asing tidak lagi leluasa semaunya menyedot kekayaan alam dan mengatur ekonomi mereka, kesejahteraan rakyat setempat  menjadi perhatian utama dari kebijaksanaan pemerintah. Semuanya ditata dan diatur kembali dengan aturan yang menguntungkan rakyat setempat. Dan semua ini dilakukan oleh pemerintahan yang dipimpin oleh orang orang patriotis yang memunyai rasa cinta terhadap tanah air mereka ! Baik orang orang yang memang dari semula melawan beradanya  dominasi modal asing maupun oleh orang orang didikan USA tetapi yang patriotis dan berpikiran jernih, tidak kotor !
Perombakan besar besaran ini  terjadi di AL saat ini , tetapi mengapa,di Indonesia tidak ???
Mengapa para “pemimpin” Indonesia tetap mempunyai pikiran kotor yang membusuk, yakni hanya berlomba memikirkan kepentingan sendiri dan para kroni mereka ?
Mengapa di Indonesia seakan berlaku hukum inertia (kekekalan) energi seperti di ilmu Fisika ?
Jadi bagaimana penyelesaian problem keterpurukan bangsa dan negara Indonesia ini ?

Saya mengambil jawaban atas pertanyaan ini dari sebab bahwa rakyat Indonesia terlalu mencekam kebudayaan feodalisme jauh lebih hebat dari rakyat rakyat negeri AL.  Kebudayaan yang “nuwun sendiko” , “sumonggo kerso” *) atau kebudayaan ABS **) yang sangat berracun dan sangat mudah kemasukan propaganda palsu dari atas.
Misalnya semua propaganda palsu rejim orba sampai rejim reformasi ini, yang semuanya pada dasarnya  mengabdi kepentingan modal asing dan para penguasa , kepanjangan (sambungan) tangan kaum neoimperialis modal asing !
Sedang para elite politik dan militer Indonesia sedang kemaruk(mumpung) berfoya foya diatas kemelaratan dan kesengsaraan rakyat Indonesia, tradisi yang ditinggalkan rejim orba dan sukar dihilangkan dari otak mereka.

Sebab sebab lain atau perbedaan perbedaan lain antara rakyat dan sikon Indonesia dan AL saya belum bisa menemukan !
Mungkin ada dari para pembaca yang bisa memberipencerahan atau pendapat tambahan ?
Saya sangat menunggunya. Terima kasih sebelumnya !

*) nuwun sendiko = menurut ucapan(kata)  tuan –> ucapan meng”ya”kan kawula terhadap tuannya.
sumonggo kerso = terserah  maunya tuan

**) ABS = asal bapak senang

salam

iwamardi

Sumber: iwamardi <iwamardi@yahoo.de>, in: GELORA45@yahoogroups.com, Monday, 4 October 2010 12:54:43

 
Leave a comment

Posted by on January 5, 2012 in Bung Karno

 

Soekarno

“Aku adalah putra seorang ibu Bali dari kasta Brahmana. Ibuku, Idaju, berasal dari kasta tinggi. Raja terakhir Singaraja adalah paman ibuku. Bapakku dari Jawa. Nama lengkapnya adalah Raden Sukemi Sosrodihardjo. Raden adalah gelar bangsawan yang berarti “Tuan”. Bapak adalah keturunan Sultan Kediri… Apakah itu kebetulan atau suatu pertanda bahwa aku dilahirkan dalam kelas yang memerintah, akan tetapi apa pun kelahiranku atau suratan takdir, pengabdian bagi kemerdekaan rakyatku bukan suatu keputusan tiba-tiba. Akulah ahli-warisnya Sejak kecil, Soekarno sudah menyimpan mitos tentang diri-nya sebagai pejuang besar dan pembaru bagi bangsanya. Ibunya, Ida Nyoman Rai, menceritakan makna kelahiran di waktu fajar . “Kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, engkau akan menjadi pemimpin dari rakyat kita, karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi di saat fajar mulai menyingsing. Kita orang Jawa mempunyai suatu kepercayaan, bahwa orang yang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah ditakdirkan terlebih dulu. Jangan lupakan itu, jangan sekali-kali kau lupakan, nak, bahwa engkau ini putra dari sang fajar.” (Adams, 2000:24) “Hari lahirku ditandai oleh angka serba enam. Tanggal enam bulan enam. Adalah menjadi nasibku yang paling baik untuk dilahirkan dengan bintang Gemini, lambang kekembaran. Dan memang itulah aku sesungguhnya. Dua sifat yang berlawanan.” (Adams, 2000:25) Soekarno melihat dirinya yang terdiri dari dua sifat yang berlawanan sebagai satu kemungkinan pertanda nasibnya di dunia politik. “Karena aku terdiri dari dua belahan, aku dapat memperlihatkan segala rupa, aku dapat mengerti segala pihak, aku memimpin semua orang. Boleh jadi ini secara kebetulan bersamaan. Boleh jadi juga pertanda lain. Akan tetapi kedua belahan dari watakku itu menjadikanku seseorang yang merangkul semua-nya.” Kejadian lain yang dianggap pertanda nasib oleh Soekarno adalah meletusnya Gunung Ke-lud saat ia lahir. Tentang ini ia menyatakan, “Orang yang percaya kepada takhayul meramalkan, ‘Ini adalah penyambutan terhadap bayi Soekarno,” Selain itu, penjelasan tentang penggantian nama Kusno menjadi Karno pun memberi satu mitos lagi dalam diri Soekarno kecil tentang dirinya sebagai calon pejuang dan pahlawan bangsanya. Kepercayaan akan pertanda yang muncul di hari kelahiran Soekarno memberi semacam gambaran masa depan dalam benak Soekarno sejak masa kecilnya. Dalam kerangka pemikiran Adler, gambaran masa depan itu disebut fictional final goals (tujuan akhir fiktif). Meskipun fiktif (tak didasari kenyataan), tetapi gambaran masa depan ini berperan menggerakkan kepribadian manusia untuk mencapai kondisi yang tertuang di dalamnya (Adler, 1930:400).

Lebih jauh lagi ke masa kecilnya, Soekarno sering merasa sedih karena hidup dalam kemelaratan sehingga tak dapat menikmati benda-benda yang diidamkannya. Selain itu, di lingkungan sekolah ia harus berhadapan dengan anak-anak Belanda yang sudah terbiasa memandang remeh pribumi. Pengalaman yang cukup traumatis terjadi di masa lima tahun pertama. Soekarno pernah berturut-turut menderita penyakit seperti tifus, disentri, dan malaria yang berujung pada penggantian namanya dari Kusno menjadi Karno, nama seorang tokoh pewayangan putra Kunti yang berpihak pada Kurawa demi balas budi dan kewajiban membela negara yang menghidupinya. Sakit yang melemah-kan secara fisik dapat berpengaruh terhadap kondisi psikis. Sangat mungkin muncul perasaan lemah, tak berdaya, dan terasing pada diri Soekarno kecil. Penjelasan dari ayahnya tentang makna pergantian nama yang memberinya kebanggaan karena menyandang nama pejuang besar. Pengalaman sakit-sakitan dan hidup dalam kemiskinan tampak membekas kuat dalam ingatan Soekarno. Di masa tuanya, ia menafsirkan kegemarannya bersenang-senang sebagai kompensasi dari masa lalunya yang dirampas kemiskinan (Adams, 2000). Ada semacam dendam terhadap kemiskinan dan ketidakberdayaan yang telah berkilat dalam dirinya. Dendam yang kemudian menggerakkannya pada semangat perjuangan kemerdekaan dan keinginan belajar yang tinggi. Riwayat hidup Soekarno memperlihatkan bagaimana gambaran dirinya di masa depan dan persepsinya tentang Indonesia menggerakkannya mencapai kemerdekaan Indonesia. “Aku ini bukan apa-apa kalau tanpa rakyat. Aku besar karena rakyat, aku berjuang karena rakyat dan aku penyambung lidah rakyat.” Pengakuan ini meluncur dari Soekarno, Presiden RI pertama, dalam karyanya Menggali Api Pancasila. Sadar atau tidak sadar ia mengucapkannya, terkesan ada kejujuran di sana. Soekarno, sang orator ulung dan penulis piawai, memang selalu membutuhkan dukungan orang lain. Ia tak tahan kesepian dan tak suka tempat tertutup. Dari pidato dan tulisannya yang memperlihatkan betapa mahirnya ia menggunakan bahasa, tersirat sebuah kebutuhan untuk selalu mendapat dukungan dari orang lain.

Setelah menjadi presiden, Soekarno berpidato tiap tanggal 17 Agustus. Di sana dapat kita temukan kalimat-kalimat muluk, penggunaan perumpamaan elemen-elemen alam yang megah dan hiperbolisme bahasa. Dari tahun ke tahun pidatonya makin gegap-gempita, mencoba membakar semangat massa pendengarnya dengan retorika kata-kata muluk. Dari kalimat-kalimat itu dapat dibayangkan seperti apakah kondisi psikis orang yang menggunakannya. Dalam pidatonya tanggal 17 Agustus 1949, contohnya, ia berseru, “Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali.” Di sini ada indikasi ia menempatkan diri sebagai orang yang bersemangat elang rajawali sehingga memiliki hak dan kewajiban untuk menyerukan pada rakyatnya agar memiliki semangat yang sama dengannya. Seruan yang sering dilontarkan dalam pidatonya adalah tentang perjuangan yang harus dilakukan tak henti-henti. “Kemerdekaan tidak menyudahi soal-soal, kemerdekaan malah membangun soal-soal, tetapi kemerdekaan juga memberi jalan untuk memecahkan soal-soal itu.” (Pidato 17 Agustus 1948) “Tidak seorang yang menghitung-hitung: Berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya.” (Pidato 17 Agustus 1956) “Karena itu segenap jiwa ragaku berseru kepada bangsaku Indonesia: “Terlepas dari perbedaan apa pun, jagalah Persatuan, jagalah Kesatuan, jagalah Keutuhan! Kita sekalian adalah machluk Allah! Dalam menginjak waktu yang akan datang, kita ini se-olah-olah adalah buta.” (Pidato 17 Agustus 1966)

Selain ajakan untuk berjuang, tersirat juga dari petikan-petikan tersebut bahwa Soekarno memandang dirinya sebagai orang yang terus-menerus berjuang mengisi kemerdekaan. Pengaruh fictional final goals-nya terlihat jelas, Soekarno yang sejak kecil membayangkan diri menjadi pemimpin bangsanya dengan kepercayaan tinggi menempatkan dirinya sebagai guru bagi rakyat. “Adakanlah ko-ordinasi, ada-kanlah simponi yang seharmonis-harmonisnya antara kepentingan sendiri dan kepentingan umum, dan janganlah kepentingan sendiri itu dimenangkan diatas kepentingan umum.” (Pidato 17 Agustus 1951) “Kembali kepada jiwa Proklamasi …. kembali kepada sari-intinya yang sejati, yaitu pertama jiwa Merdeka Nasional… kedua jiwa ichlas… ketiga jiwa persatuan… keempat jiwa pembangunan.” (Pidato 17 Agustus 1952) “Dalam pidatoku “Berilah isi kepada kehidupanmu” kutegaskan: “Sekali kita berani bertindak revolusioner, tetap kita harus berani bertindak revolusioner…. jangan ragu-ragu, jangan mandek setengah jalan…” kita adalah “fighting nation” yang tidak mengenal “journey’s-end” (Pidato 17 Agustus 1956) Keinginannya untuk merengkuh massa sebanyak-banyaknya tampak dari kesenangannya tampil di depan massa. Bombasme-kecenderungan yang kuat untuk menggunakan kalimat-kalimat muluk dan ide-ide besar yang tidak disertai oleh tindakan konkret-praktis untuk mencapainya yang ditampilkannya dapat diartikan sebagai usaha memikat hati rakyat. Pidato-pidatonya banyak mengandung gaya hiperbola dan metafora yang berlebihan seperti “Laksana Malaikat yang menyerbu dari langit”, “adakanlah simfoni yang seharmonis-harmonisnya antara kepentingan sendiri dan kepentingan umum”, “Bangsa yang gila kemuktian, satu bangsa yang berkarat”, dan “memindahkan Gunung Semeru atau Gunung Kinibalu sekalipun.” Simak kutipan-kutipan berikut bagaimana gaya bahasa yang digunakan untuk memikat massa. “Janganlah melihat ke masa depan dengan Mata Buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca mata benggalanya dari pada masa yang akan datang.” (Pidato 17 Agustus 1966) “Atau hendakkah kamu menjadi bangsa yang ngglenggem”? Bangsa yang ‘zelfgenoegzaam’? Bangsa yang angler memeteti burung perkutut dan minum teh nastelgi? Bangsa yang demikian itu pasti hancur lebur terhimpit dalam desak mendesaknya bangsa-bangsa lain yang berebut rebutan hidup!” (Pidato 17 Agustus 1960) Kita mau menjadi satu Bangsa yang bebas Merdeka, berdaulat penuh, bermasyarakat adil makmur, satu Bangsa Besar yang Hanyakrawati, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kertaraharja, otot kawat balung wesi, ora tedas tapak palune pande, ora tedas gurindo. (Pidato 17 Agustus 1963)

Strategi universalisasi dalam tulisan dan karangan Soekarno melibatkan ajaran-ajaran agama kutipan dari tokoh ternama dalam sejarah dan peristiwa penting dalam peradaban manusia. Gagasan-gagasannya seolah berlaku universal dan diperlukan di mana-mana.”Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi pula gitamu: “Innallaha la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim” (Pidato 17 Agustus 1964) “Asal kita setia kepada hukum sejarah dan asal kita bersatu dan memiliki tekad baja, kita bisa memindahkan Gunung Semeru atau Gunung Kinibalu sekalipun.” (Pidato 17 Agustus 1965) “Tetapi Tanah Air kita Indonesia hanya satu bahagian kecil saja dari pada dunia! Ingatlah akan hal ini! Gandhi berkata: “Saya seorang nasionalis, tetapi kebangsaan saya adalah perikemanusiaan.” (Pidato Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945) Strategi naturalisasi merupakan usaha menampilkan sebuah ideologi atau kepercayaan sebagai sesuatu yang tampak alamiah. Ini banyak ditemukan dalam pidato-pidato Soekarno. Penjelasan-penjelasannya tentang Pancasila sangat jelas menggunakan naturalisasi. “Ke Tuhanan Yang Maha Esa, Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial. Dari zaman dahulu sampai zaman sekarang ini, yang nyata selalu menjadi isi daripada jiwa bangsa Indonesia.” (Pancasila sebagai Dasar Negara, hal:38) Bukan hal yang aneh jika Soekarno berkembang menjadi seorang ideolog. Kepercayaan sejak kecil tentang kemuliaan, kepeloporan dan kepemimpinannya, mendorong kuat Bung Besar ini menyebarkan kebenarannya. Gambaran diri yang fiktif dan mistis ini pula yang memberinya kepercayaan diri tampil berapi-api di depan lautan massa.

Merujuk Adler, benang merah perkembangan kepribadian Soekarno jadi begitu jelas. Masa dewasanya merupakan proyeksi dari keinginan masa kecil. Soekarno membayangkan dirinya sebagai pembaru bangsa sejak kecil. Ia tumbuh sebagai manusia yang penuh dengan gagasan-gagasan yang terbilang baru di masa hidupnya. Kegemaran akan buku dan belajar berbagai hal tak lepas dari cita-cita yang digenggamnya erat-erat: menjadi penyelamat bangsa. Disiplin belajar yang dibiasakan ayahnya berpengaruh besar terhadap hal ini. Hingga di usia melampaui 60 tahun, ia masih gemar membaca. Kamar tidurnya penuh dengan buku sekaligus kutunya (Adams, 2000). Daya serapnya pun luar biasa. Perpaduan berbagai aspek kepribadian dengan kualitas luar biasa inilah yang memungkinkannya tampil sebagai orator dengan wawasan begitu luas. Kondisi sosial dan budaya masyarakat Indonesia juga berperan penting bagi perkembangan Soekarno. Mitos akan datangnya Ratu Adil, kepercayaan terhadap titisan dewa dan kepemimpinan politik yang tak lepas dari aspek spiritualitas memompa Soekarno berkembang menjadi tokoh yang dikultuskan. Namun, sehebat-hebatnya ia mempengaruhi massa, seluas-luasnya wawasan di benaknya dan sebesar-besarnya kekuasaan yang dimilikinya, Bung Karno tak bisa lepas dari kebutuhannya untuk selalu memperoleh dukungan sosial. Kesepian menjadi derita yang menyakitkan hingga akhir hayatnya. Apa yang dilakukannya untuk memperoleh dukungan massa di sisi lain menjadikannya sebagai orang yang terasing, terpencil dari rakyat. Dari kacamata Alfred Adler (1930), penyakit yang diderita Soekarno kecil bisa jadi membekas pada kepribadiannya di masa-masa berikutnya. Kesakitan yang diderita Soekarno itu bisa menimbulkan perasaan lemah, tak berdaya, dan tersiksa yang disebut Adler sebagai pe-rasaan inferioriti. Jika perasaan ini tidak ditangani secara tuntas maka akan timbul kecemasan yang mendukung munculnya perasaan inferioriti baru di ta-hap berikutnya hingga terakumulasi menjadi kompleks inferioriti-sebuah kondisi kejiwaan yang ditandai dengan perasaan rendah diri berlebihan dan kecemasan yang tinggi terhadap lingkungan sosial.

Untungnya lingkungan keluarganya memberi perhatian dan semangat yang memadai, terutama ibu, sehingga ia dapat menemukan perasaan aman dan nyaman di sana. Ia lalu sering tampil sebagai pemimpin yang dominan. Namun, ini pun memunculkan suatu ketergantungan akan afeksi. Hingga dewasa kebutuhan afeksi itu tak jua tercukupi. Ia mengaku selalu membutuhkan wanita sebagai pegangan. Penggantian nama Kusno menjadi Karno dan penjelasan maknanya juga menjadi cara yang baik untuk menangani perasaan inferioriti yang dialami Soekarno kecil. Ia dapat menyusun sebuah pemahaman di benaknya bahwa apa yang dialami merupakan sesuatu yang wajar sebagai seorang calon pahlawan besar sekelas Karna putra Kunti. Demikian pula dengan mitos-mitos tentang dirinya. Namun, ini pun mengakibatkan dirinya cenderung terpaku pada hal-hal besar dan mengabaikan hal-hal kecil. Dalam kondisi-kondisi penuh dukungan lingkungan sosial, Soekarno bisa memperoleh perasaan superioritas, perasaan aman dan nyaman menghadapi dunia. Untuk itu, ia selalu berusaha menarik perhatian banyak orang agar selalu berada di sekelilingnya, berpihak padanya. Pidatonya yang penuh kalimat bombastis merupakan cara memikat hati orang lain seperti seorang perayu yang tak ingin kehilangan kekasihnya. Namun, di saat-saat kesepian ia bisa mengalami perasaan frustrasi dan depresi. Ia sangat tidak menyukai kesendirian. Tragisnya, hukuman ini yang ia terima di akhir hidup, menjadi seorang tahanan rumah dan meninggal dalam kesepian.

Soekarno adalah seorang cendekiawan yang meninggalkan ratusan karya tulis dan beberapa naskah drama yang mungkin hanya pernah dipentaskan di Ende, Flores. Kumpulan tulisannya sudah diterbitkan dengan judul Dibawah Bendera Revolusi, dua jilid. Namun, dari dua jilid ini hanya jilid pertama yang boleh dikatakan paling menarik dan paling penting karena mewakili diri Soekarno sebagai Soekarno. Dari buku setebal kira-kira 630 halaman tersebut tulisan pertama yang berasal dari tahun 1926, dengan judul “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme” yang paling menarik dan mungkin paling penting sebagai titik-tolak dalam upaya memahami Soekarno dalam gelora masa mudanya, seorang pemuda berumur 26 tahun-kira-kira pada umur yang sama ketika Marx, 30 tahun, dan Engels, 28 tahun, menulis Manifesto Partai Komunis. Marx dan Engels membuka manifestonya dengan kata-kata “a spectre is haunting Europe–the spectre of Communism”, ada hantu yang menggerayangi Eropa–hantu komunisme. Soekarno membuka tulisannya dengan suatu pernyataan keras, semacam Manifesto Soekarno-isch: Sebagai Aria Bima-Putera, jang lahirnja dalam zaman perdjoangan, maka Indonesia-Muda inilah melihat tjahaja hari pertama-tama dalam zaman jang rakjat-rakjat Asia, lagi berada dalam perasaan tak senang dengan nasibnja. Tak senang dengan nasib-ekonominja, tak senang dengan nasib-politiknja, tak senang dengan segala nasib jang lain-lainnja. Zaman “senang dengan apa adanja”, sudahlah lalu. Zaman baru: zaman m u d a, sudahlah datang sebagai fadjar jang terang tjuatja. Paralelisme antara manifesto Marxis dan manifesto Sukarno-isch bisa dilihat di sini. Soekarno membuka manifestonya yang sarat dengan simbolisme ketika di sana dikatakan tentang Suluh Indonesia Muda, majalah bulanan yang didirikannya sebagai organ organisasi Algemeene Studie Club, yang juga didirikannya: “Sebagai Aria Bima-Putera, jang lahirnja dalam zaman perdjoangan”. Dalam imaji Soekarno Suluh harus menjadi secerdik-cendekia Gatotkaca, sesakti dan seulet tokoh wayang itu yang menjadi orang terakhir yang mengembuskan napasnya di tangan pamannya sendiri. Imaji Soekarno tentang Gatotkaca tidak jauh dari imaji orang Jawa umumnya tentang Gatotkaca, yakni berani tak mengenal takut, teguh, tangguh, cerdik, waspada, tangkas dan terampil, tabah dan mempunyai rasa tanggung jawab yang besar. Ia sangat sakti, sehingga digambarkan sebagai ksatria yang mempunyai ‘otot kawat balung wesi’…sumsum gagala, kulit tembaga, drijit gunting, dengkul paron… (Ensiklopedi Wayang Purwa, BP, 1991)

“Hantu” Gatotkaca selalu kembali kalau diperlukan kerajaan Pandawa dalam keadaan krisis dan dalam kalangan keluarga Pandawa berlaku semacam standing order:”…bila sewaktu-waktu menghadapi bahaya, agar memanggil Gatotkaca”. Gatotkaca di sini tidak lain dari semacam “hantu”, spectre, das Gespenst dalam Manifesto Karl Marx, yang menurut Derrida hantu itu harus dipahami dalam arti hantologie-dan bukan ontologie sebagaimana Marx selalu ditafsirkan–sebagai keadilan yang tidak bisa diredusir lagi. Dalam manifesto Soekarno, maka dasar berpijak itu berada pada kemerdekaan dari mana tidak ada reduksi lagi-yaitu kemerdekaan dalam arti lepas dan melepaskan diri dari kolonialisme asing, Barat. Kemerdekaan memerlukan beberapa syarat dan salah satu syarat terpenting adalah persatuan. Hantu kemerdekaan itulah yang selalu kembali seperti Gatotkaca untuk menuntut keadilan dalam suatu masa ketika Asia merasa tak senang dengan nasibnya yaitu nasib kolonial yang tak adil. Dalam paham Soekarno kolonialisme tidak lain dari soal kekurangan rezeki dan “kekurangan rezeki itulah jang mendjadi sebab rakjat Eropah mentjari rezeki dinegeri lain!”. Dalam paham Soekarno di Asia sudah mulai tumbuh keinsyafan akan tragedi ketika “rakjat-rakjat Eropah itu mempertuankan negeri-negeri Asia” (untuk para pembaca muda “mempertuankan negeri-negeri Asia = menguasai, menjajah Asia-Penulis). Keinsyafan akan tragedi itulah yang sekarang menjadi nyawa pergerakan rakyat Indonesia yang walaupun dalam maksudnya sama “ada mempunyai tiga sifat: nasionalistis, Islamistis dan Marxistis-lah adanja”. Apa yang dipahami Soekarno tentang marxisme? Sebelum masuk ke dalam apa yang dipahami Soekarno, untuk itu baca Franz Magnis-Suseno, mari kita lihat beberapa hal teknis tentang orang yang disanjungnya dan paham yang dipuja. Sungguh mencengangkan bahwa menulis nama Karl Marx pun, Soekarno menulisnya terbalik, dalam suatu urutan nama Barat, dengan tiga suku bersama iddle name. Soekarno menulis bukan Karl Heinrich Marx, akan tetapi Heinrich Karl Marx. Ketika memberikan acuan kepada Manifesto Komunis Soekarno mengatakan, di tiga halaman berbeda, bahwa Manifesto ditulis dan diumumkan tahun 1847–tahun sesungguhnya adalah bulan Februari 1848. Semua kekeliruan “kecil” di atas harus dimaafkan karena lebih bisa diterima sebagai kealpaan seorang sarjana yang baru saja tamat Sekolah Tinggi Teknik di Bandung dengan gelar insinyur–kalau sudah tamat karena Soekarno menyelesaikan studinya 25 Mei 1926. (Edisi asli Soeloeh Indonesia Moeda, tidak diperoleh).

Nasionalisme Soekarno adalah jenis nasionalisme voluntaristik, dengan tekad sebagai modal dengan tujuan hampir satu-satunya yaitu persatuan tanpa mempedulikan realitas ekonomi-politik. Karena itu ketika Soekarno mengatakan bahwa: …asal mau sahadja…tak kuranglah djalan kearah persatuan. Kemauan, pertjaja akan ketulusan hati satu sama lain, keinsjafan akan pepatah “rukun membikin sentausa” …tjukup kuatnja untuk melangkahi segala perbedaan dan keseganan antara segala fihak-fihak dalam pergerakan kita ini lebih menjadi wishful thinking baik pada waktu itu maupun pada waktu ini. (Baca: Baskara Wardaya) Mengapa persatuan? karena itulah persyaratan bagi kemerdekaan. Dengan begitu semua yang lain atau tunduk kepada atau harus ditafsirkan kembali atas dasar persatuan. Persatuan pada gilirannya akan merumuskan jenis nasionalisme, Islam, dan marxisme. Hampir seluruh esoterisme Soekarno dan kekhilafan fundamental yang tersebar sana-sini ketika menafsirkan nasionalisme, Islam, dan marxisme berasal dari sana. (Baca: Vedi Hadiz) Semakin Soekarno diperiksa, semakin kita tidak mengerti siapa Soekarno itu selain bahwa suratan takdir itu sudah dipenuhinya yaitu memimpin Indonesia dalam waktu yang lama-bukan sekadar ketika menjadi presiden, akan tetapi jauh-jauh sebelum itu, sekurang-kurangnya sejak mengeluarkan manifesto Soekarno-isch tahun 1926 sampai dijatuhkan militer tahun 1966 di Jakarta. Setelah jatuh pun Orde Baru tidak mampu menghapus Soekarno dari kenangan publik dan pujaan massa yang tidak pernah mengenalnya. (Baca: Agus Sudibyo). Manifesto itu menjadi dasar geloranya, dan juga menjadi dasar ketidak-tentuan-nya. Namun, sejak itu Soekarno dan Indonesia hampir tidak terpisahkan, baik bagi bangsanya, maupun bagi dunia: bagi Asia, Afrika, dan Amerika Latin, Belanda kolonial, bagi fasisme Jepang, maupun bagi imperialis, Amerika dan Inggris-baik sebelum maupun sesudah Indonesia merdeka.

Secara intelektual dan politik ketika Soekarno menganalisa soal dia menjadi Marxis. Ketika dia ingin menghanyutkan massa Soekarno menjadi Leninis dalam jalan pikiran. Namun, ketika harus memecahkan soal dalam masa krisis, dia menjadi lebih dekat kepada sesuatu yang sangat dibencinya yaitu menjadi fasis dalam berpikir dan bertindak. Karena itu dia dan militer seperti aur dan tebing, yang satu membutuhkan yang lain, meski kemudian dia dikhianati militer. Dalam hubungan dengan gerak dan tindakan militer, Soekarno menempatkan persatuan jauh-jauh lebih penting, sesuatu yang sangat disukai militer, dari kemerdekaan, terutama dalam arti kebebasan-Soekarno menjadi anti-Soekarno-sesuatu yang mungkin lebih diperlukan warganya yang sudah lelah dan letih ditindas ratusan tahun, oleh tuan-tuan asing-putih-kuning, dan kelak tuan-tuan sawomatang dari bangsanya sendiri. Tidak ada orang lain yang lebih paham tentang penderitaan itu dari Soekarno. Di akhir masa kekuasaannya, Soekarno sering merasa kesepian. Dalam autobiografinya yang disusun oleh Cindy Adams, Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat, ia menceritakannya. “Aku tak tidur selama enam tahun. Aku tak dapat tidur barang sekejap. Kadang-kadang, di larut malam, aku menelepon seseorang yang dekat denganku seperti misalnya Subandrio, Wakil Perdana Menteri Satu dan kataku, ‘Bandrio datanglah ke tempat saya, temani saya, ceritakan padaku sesuatu yang ganjil, ceritakanlah suatu lelucon, berceritalah tentang apa saja asal jangan mengenai politik. Dan kalau saya tertidur, maafkanlah.’… Untuk pertama kali dalam hidupku aku mulai makan obat tidur. Aku lelah. Terlalu lelah.” (Adams, 2000:3) “Ditinjau secara keseluruhan maka jabatan presiden tak ubahnya seperti suatu pengasingan yang terpencil… Seringkali pikiran oranglah yang berubah, bukan pikiranmu.. Mereka turut menciptakan pulau kesepian ini di sekelilingmu.” (Adams, 2000:14)

Apa yang ditampilkan Soekarno dapat dilihat sebagai sindrom orang terkenal. Ia diklaim milik rakyat Indonesia. Walhasil, ia tak bisa lagi bebas bepergian sendiri menikmati kesenangannya (Adams, 2000:12). Namun, melihat ke masa mudanya, kita juga menemukan tanda-tanda kesepian di sana. Semasa sekolah di Hogere Burger School (HBS), ia menekan kesendiriannya dengan berkubang dalam buku-buku, sebuah kompensasi dari kemiskinan yang dialaminya. Kebiasaan ini berlanjut hingga masa ia kuliah di Bandung. Soekarno terkenal sebagai pemuda yang pendiam dan suka menarik diri (Adams, 2000:89-91). Indikasi kesepian juga kita dapatkan dalam ceritanya tentang penjara. Malam-malam di penjara menyiksanya dengan ruang yang sempit dan tertutup. Dinding-dinding kamar tahanannya terlalu menjepit dirinya. Lalu muncullah perasaan badannya yang membesar hingga makin terjepit dalam ruang tahanan itu. “Yang paling menekan perasaan dalam seluruh penderitaan itu adalah pengurungan. Seringkali jauh tengah malam aku merasa seperti dilak rapat dalam kotak kecil berdinding batu yang begitu sempit, sehingga kalau aku merentangkan tangan, aku dapat menyentuh kedua belah dindingnya. Rasanya aku tak bisa bernafas. Kupikir lebih baik aku mati. Suatu perasaan mencekam diriku, jauh sama sekali dari keadaan normal.” (Adams, 2000:135) Liku-liku kepribadian Soekarno menunjukkan bahwa ia adalah orang besar yang mampu melampaui banyak orang dengan kelebihannya sebagai manusia yang berjasa mendirikan Republik Indonesia, maupun sebagai pribadi yang selalu terus berusaha mencapai kebaikan bagi dirinya dan orang lain. Soekarno wafat pada tanggal 21 Juni 1970.

Sumber : http://tokoh-ilmuwan-penemu.blogspot.com/2009/08/tokoh-proklamator-indonesia.html

 
Leave a comment

Posted by on January 5, 2012 in Bung Karno

 

PBB di mata Soekarno

“Inggris kita linggis! Amerika kita setrika!”, atau “Go to hell with your aid” yang ditujukan kepada Amerika.

“Malaysia kita ganyang. Hajar cecunguk Malayan itu! Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu”, yang ini saat Indonesia berkonfrontasi dengan di negara boneka bernama Malaysia.

Bukan hanya itu. Organisasi dunia yang bernama Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pun pernah dilawan. Tanggal 20 Januari 1965, Bung Karno menarik Indonesia dari keanggotaan PBB. Ini karena ketidak-becusan PBB dalam menangani persoalan anggota-anggotanya, termasuk dalam kaitan konflik Indonesia – Malaysia. Ada enam alasan yang tak bisa dibantah siapa pun, termasuk Sekjen PBB sendiri, yang menjadi dasar Indonesia menarik diri dari keanggotaan PBB.

Pertama, soal kedudukan PBB di Amerika Serikat. Bung Karno mengkritik, dalam suasana perang dingin Amerika Serikat dan Uni Sovyet lengkap dengan perang urat syaraf yang terjadi, maka tidak sepatutnya markas PBB justru berada di salah satu negara pelaku perang dingin tersebut. Bung Karno mengusulkan agar PBB bermarkas di Jenewa, atau di Asia, Afrika, atau daerah netral lain di luar blok Amerika dan Sovyet.

Kedua, PBB yang lahir pasca perang dunia kedua, dimaksudkan untuk bisa menyelesaikan pertikaian antarnegara secara cepat dan menentukan. Akan tetapi yang terjadi justru PBB selalu tegang dan lamban dalam menyikapi konflik antar negara. Indonesia mengalami dua kali, yakni saat pembebasan Irian Barat, dan Malaysia. Dalam kedua perkara itu, PBB tidak membawa penyelesaian, kecuali hanya menjadi medan perdebatan. Selain itu, pasca perang dunia II, banyak negara baru, yang baru saja terbebas dari penderitaan penjajahan, tetapi faktanya dalam piagam-piagam yang dilahirkan maupun dalam preambule-nya, tidak pernah menyebut perkataan kolonialisme. Singkatnya, PBB tidak menempatkan negara-negara yang baru merdeka secara proporsional.

Ketiga, Organisasi dan keanggotaan Dewan Keamanan mencerminkan peta ekonomi, militer dan kekuatan tahun 1945, tidak mencerminkan bangkitnya negara-negara sosialis serta munculnya perkembangan cepat kemerdekaan negara-negara di Asia dan Afrika. Mereka tidak diakomodir karena hak veto hanya milik Amerika, Inggris, Rusia, Perancis, dan Taiwan. Kondisi yang tidak aktual lagi, tetapi tidak ada satu orang pun yang berusaha bergerak mengubahnya.

Keempat, soal sekretariat yang selalu dipegang kepala staf berkebangsaan Amerika. Tidak heran jika hasil kebijakannya banyak mengakomodasi kepentingan Barat, setidaknya menggunakan sistem Barat. Bung Karno tidak dapat menunjung tinggi sistem itu dengan dasar, “Imperialisme dan kolonialisme adalah anak kandung dari sistem Negara Barat. Seperti halnya mayoritas anggota PBB, aku benci imperialisme dan aku jijik pada kolonialisme.”

Kelima, Bung Karno menganggap PBB keblinger dengan menolak perwakilan Cina, sementara di Dewan Keamanan duduk Taiwan yang tidak diakui oleh Indonesia. Di mata Bung Karno, “Dengan mengesampingkan bangsa yang besar, bangsa yang agung dan kuat dalam arti jumlah penduduk, kebudayaan, kemampuan, peninggalan kebudayaan kuno, suatu bangsa yang penuh kekuatan dan daya-ekonomi, dengan mengesampingkan bangsa itu, maka PBB sangat melemahkan kekuatan dan kemampuannya untuk berunding justru karena ia menolak keanggotaan bangsa yang terbesar di dunia.”

Keenam, tidak adanya pembagian yang adil di antara personal PBB dalam lembaga-lembaganya. Bekas ketua UNICEF adalah seorang Amerika. Ketua Dana Khusus adalah Amerika. Badan Bantuan Teknik PBB diketuai orang Inggris. Bahkan dalam persengketaan Asia seperti halnya pembentukan Malaysia, maka plebisit yang gagal yang diselenggarakan PBB, diketuai orang Amerika bernama Michelmore.

Bagi sebagian kepala negara, sikap keluar dari PBB dianggap sikap nekad. Bung Karno tidak hanya kelua dari PBB. Lebih dari itu, ia membentuk Konferensi Kekuatan Baru (Conference of New Emerging Forces/ Conefo) sebagai alternatif persatuan bangsa-bangsa selain PBB. Konferensi ini sedianya digelar akhir tahun 1966. Langkah tegas dan berani Sukarno langsung mendapat dukungan banyak negara, khususnya di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan. Bahkan sebagian Eropa juga mendukung.

Sebagai tandingan Olimpiade, Bung Karno bahkan menyelenggarakan Ganefo (Games of the New Emerging Forces) yang diselenggarakan di Senayan, Jakarta pada 10 – 22 November 1963. Pesta olahraga ini diikuti oleh 2.250 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Selatan, serta diliput sekitar 500 wartawan asing.

Bung Karno dengan Conefo dan Ganefo, sudah menunjukkan kepada dunia, bahwa organisasi bangsa-bangsa tidak mesti harus satu, dan hanya PBB. Bung Karno sudah mengeluarkan terobosan itu. Sayang, konspirasi internasional (Barat) yang didukung segelintir pengkhianat dalam negeri (seperti Angkatan ’66, sejumlah perwira TNI-AD, serta segelintir cendekiawan pro Barat, dan beberapa orang keblinger), berhasil merekayasa tumbangnya Bung Karno.

Wallahu a’lam. (roso daras)

Sumber : http://rosodaras.wordpress.com

 
Leave a comment

Posted by on January 1, 2012 in Bung Karno

 

“PBB di mata Bung Karno”

“Inggris kita linggis! Amerika kita setrika!”, atau “Go to hell with your aid” yang ditujukan kepada Amerika.

“Malaysia kita ganyang. Hajar cecunguk Malayan itu! Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu”, yang ini saat Indonesia berkonfrontasi dengan di negara boneka bernama Malaysia.

Bukan hanya itu. Organisasi dunia yang bernama Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pun pernah dilawan. Tanggal 20 Januari 1965, Bung Karno menarik Indonesia dari keanggotaan PBB. Ini karena ketidak-becusan PBB dalam menangani persoalan anggota-anggotanya, termasuk dalam kaitan konflik Indonesia – Malaysia. Ada enam alasan yang tak bisa dibantah siapa pun, termasuk Sekjen PBB sendiri, yang menjadi dasar Indonesia menarik diri dari keanggotaan PBB.

Pertama, soal kedudukan PBB di Amerika Serikat. Bung Karno mengkritik, dalam suasana perang dingin Amerika Serikat dan Uni Sovyet lengkap dengan perang urat syaraf yang terjadi, maka tidak sepatutnya markas PBB justru berada di salah satu negara pelaku perang dingin tersebut. Bung Karno mengusulkan agar PBB bermarkas di Jenewa, atau di Asia, Afrika, atau daerah netral lain di luar blok Amerika dan Sovyet.

Kedua, PBB yang lahir pasca perang dunia kedua, dimaksudkan untuk bisa menyelesaikan pertikaian antarnegara secara cepat dan menentukan. Akan tetapi yang terjadi justru PBB selalu tegang dan lamban dalam menyikapi konflik antar negara. Indonesia mengalami dua kali, yakni saat pembebasan Irian Barat, dan Malaysia. Dalam kedua perkara itu, PBB tidak membawa penyelesaian, kecuali hanya menjadi medan perdebatan. Selain itu, pasca perang dunia II, banyak negara baru, yang baru saja terbebas dari penderitaan penjajahan, tetapi faktanya dalam piagam-piagam yang dilahirkan maupun dalam preambule-nya, tidak pernah menyebut perkataan kolonialisme. Singkatnya, PBB tidak menempatkan negara-negara yang baru merdeka secara proporsional.

Ketiga, Organisasi dan keanggotaan Dewan Keamanan mencerminkan peta ekonomi, militer dan kekuatan tahun 1945, tidak mencerminkan bangkitnya negara-negara sosialis serta munculnya perkembangan cepat kemerdekaan negara-negara di Asia dan Afrika. Mereka tidak diakomodir karena hak veto hanya milik Amerika, Inggris, Rusia, Perancis, dan Taiwan. Kondisi yang tidak aktual lagi, tetapi tidak ada satu orang pun yang berusaha bergerak mengubahnya.

Keempat, soal sekretariat yang selalu dipegang kepala staf berkebangsaan Amerika. Tidak heran jika hasil kebijakannya banyak mengakomodasi kepentingan Barat, setidaknya menggunakan sistem Barat. Bung Karno tidak dapat menunjung tinggi sistem itu dengan dasar, “Imperialisme dan kolonialisme adalah anak kandung dari sistem Negara Barat. Seperti halnya mayoritas anggota PBB, aku benci imperialisme dan aku jijik pada kolonialisme.”

Kelima, Bung Karno menganggap PBB keblinger dengan menolak perwakilan Cina, sementara di Dewan Keamanan duduk Taiwan yang tidak diakui oleh Indonesia. Di mata Bung Karno, “Dengan mengesampingkan bangsa yang besar, bangsa yang agung dan kuat dalam arti jumlah penduduk, kebudayaan, kemampuan, peninggalan kebudayaan kuno, suatu bangsa yang penuh kekuatan dan daya-ekonomi, dengan mengesampingkan bangsa itu, maka PBB sangat melemahkan kekuatan dan kemampuannya untuk berunding justru karena ia menolak keanggotaan bangsa yang terbesar di dunia.”

Keenam, tidak adanya pembagian yang adil di antara personal PBB dalam lembaga-lembaganya. Bekas ketua UNICEF adalah seorang Amerika. Ketua Dana Khusus adalah Amerika. Badan Bantuan Teknik PBB diketuai orang Inggris. Bahkan dalam persengketaan Asia seperti halnya pembentukan Malaysia, maka plebisit yang gagal yang diselenggarakan PBB, diketuai orang Amerika bernama Michelmore.

Bagi sebagian kepala negara, sikap keluar dari PBB dianggap sikap nekad. Bung Karno tidak hanya kelua dari PBB. Lebih dari itu, ia membentuk Konferensi Kekuatan Baru (Conference of New Emerging Forces/ Conefo) sebagai alternatif persatuan bangsa-bangsa selain PBB. Konferensi ini sedianya digelar akhir tahun 1966. Langkah tegas dan berani Sukarno langsung mendapat dukungan banyak negara, khususnya di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan. Bahkan sebagian Eropa juga mendukung.

Sebagai tandingan Olimpiade, Bung Karno bahkan menyelenggarakan Ganefo (Games of the New Emerging Forces) yang diselenggarakan di Senayan, Jakarta pada 10 – 22 November 1963. Pesta olahraga ini diikuti oleh 2.250 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Selatan, serta diliput sekitar 500 wartawan asing.

Bung Karno dengan Conefo dan Ganefo, sudah menunjukkan kepada dunia, bahwa organisasi bangsa-bangsa tidak mesti harus satu, dan hanya PBB. Bung Karno sudah mengeluarkan terobosan itu. Sayang, konspirasi internasional (Barat) yang didukung segelintir pengkhianat dalam negeri (seperti Angkatan ’66, sejumlah perwira TNI-AD, serta segelintir cendekiawan pro Barat, dan beberapa orang keblinger), berhasil merekayasa tumbangnya Bung Karno.

Wallahu a’lam. (roso daras)

Sumber : http://rosodaras.wordpress.com

 
Leave a comment

Posted by on January 1, 2012 in Bung Karno

 

Subronto Versi Tempo Edisi. 38/XII/20 – 26 November 1982

 

Subronto Kusumo Atmodjo meninggal dunia, pernah ditahan di Pulau Buru (G30.S/PKI), pencipta lagu Nasakom Bersatu. Komponis yang dikenal berpendirian teguh itu akhirnya harus menyerah. Di rumahnya, di kawasan Pondok Gede, Bekasi, Jumat 12 November, meninggal dunia karena tumor menyerang paru-parunya. Dialah Subronto Kusumo Atmodjo, 52 tahun, yang salah sebuah ciptaannya, entah berapa kali sehari, selalu dikumandangkan stasiun RRI di seluruh Indonesia di zaman Orla: Nasakom Bersatu.

Di tahun 50-an Subronto memang termasuk salah seorang komponis yang baik. Suburlah Tanah Airku, salah satu karyanya waktu itu, dianggap oleh beberapa musikus sebagai ciptaan yang enak didengar dan tahan zaman. Beberapa hari sebelum ia meninggal, sebuah grup paduan suara membawakan lagu itu di TVRI Jakarta. Bila di tahun 50-an itu nam. anya luas dikenal, karena ia memimpin grup paduan suara Merdeka. Di Jakarta. grup itu lebih populer dibanding grup paduan suara RRI, “karena yang dibawakan Pak Subronto kebanyakan lagu-lagu daerah, sementara grup RRI lebih banyak membawakan lagu klasik, lagu standar yang tidak populer,” tutur salah seorang wanita yang pernah tergabung dalam grup paduan suara RRI.Tapi sejak 1965 nama Subronto menghilang dari peredaran. Pada 1962 ia memang berangkat ke Jerman Timur untuk belajar tentang
paduan suara dan komposisi di Sekolah Musik Hanns Eisler. Begitu pulang ke tanah air, setelah lulus dengan cum laude, 1968, ia langsung ditahan. Apa mau dikata, ia memang anggota Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang dilarang. Dua tahun kemudian, 1970, ia dikirim ke Inrehab Pulau Buru. Baru Desember 1977, Subronto kembali ke masyarakat Jakarta.
Toh, semangat kesenimanannya tidak luntur. Di Inrehab Buru pun ia membentuk grup musik, yang dinamakan Wai Apu Nada yang menyanyikan Kudaku Lari (lagu Melayu), Come Back to Sorrento dan La Paloma. Kontaknya dengan musik yang tak pernah terputus itulah, yang agaknya membuat Subronto menerima tawaran Alfred Simanjuntak, Dir-Ut PT. BPK Gunung Mulia. Ia diminta menjadi redaktur musik di badan penerbit itu.

Tentu, orang kelahiran Margotuhu, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah itu, bukannya tidak pernah mengalami krisis kejiwaan. Dari sebuah lagu yang diciptakannya pada 1968, kembalilah, ia seperti hendak bercerita tentang pengalaman batinnya. Bila pribadi sudah hilang/ Hanyut ditelan pacuan rangsang/ Ke mana diri harus kaucari/ Ke mana diri harus kaucari. Bait pertama ini seperti bercerita tentang hilangnya kepercayaan diri. Dan di bagian penutup, Subronto seperti sudah menemukan pegangan: kembali, kembalilah pada dirimu. Di Inrehab Buru — seperti dituturkannya dalam bukunya yang
barusan diterbitkan PT. BPK Gunung Mulia, Bertemu Kristus dalam Penjara–ia menemukan iman dalam Kristen. Dan ini, setelah ia memasyarakat kembali, membawanya menjadi anggota inti nyanyian gereja dari Yayasan Musik Gereja. Di yayasan ini Subronto membuktikan pula kebolehannya. Dari lirik yang ditulis oleh rekannya, ia menciptakan musiknya, dan terbitlah sebuah rekaman kaset lagu gereja, Kantata Bintang Betlehem. Menurut H.A. Van Dop, orang Belanda anggota yayasan
tersebut, dalam kaset itu terasa benar napas keindonesiaannya. “Subronto mengkombinasikan gamelan dan alat gesek,” tutur Van Dop. Beberapa orang pemusik memang tidak melupakan Subronto, lepas dari warna politiknya waktu dulu. Grup paduan suara Svarna Gita, yang dibentuk pada 1980, memintanya untuk menjadi pelatih. “Kami ternyata cocok sekali dengan Pak Bronto,” tutur Wien Haryadi, sekretaris grup paduan suara yang cukup populer namanya di Jakarta itu. Bahkan wanita itu tidak melupakan kebaikan pelatihnya, yang tiap datang mendapat honorarium cuma Rp. 15 ribu, tapi selalu bersedia mengantar beberapa anggota grup sehabis latihan.

Sementara Subronto sendiri, seperti menemukan medan tantangan yang menggairahkan di Svarna Gita. Oktober 1981 di Studio V RRI Jakarta, grup paduan suara itu mempergelarkan opera karya Mendehlsson, Athalia, terjemahan Subronto. Ini termasuk
pergelaran yang sukses. Terakhir Subronto 29 Juli ’82 bersama Svarna Gita, muncul di depan umum, di Taman Ismail Marzuki, membawakan konser musik.
Tapi orang yang menurut Alfred Simanjuntak bisa menyesuaikan dengan lingkungan pergaulan itu, tak bisa diajak kompromi terhadap ciptaannya. Misalnya, pada 1962 sebuah grup paduan suara dalam membawakan ciptaan Subronto mengubah sebuah kata.
Langsung ia, yang mendengar dari seorang temannya, menyambar sepeda menuju tempat latihan. Entah bagaimana, akhirnya grup tersebut bersedia membawakan ciptaan Subronto sesuai dengan aslinya. Dalam catatan yang pernah ia berikan kepada TEMPO, Subronto mengaku telah menciptakan 20 nyanyian tunggal dengan iringan
piano, 15 lagu untuk paduan suara, 25 lagu gerejawi, tiga buah kantata dan oratoria, sebuah musik untuk sendra tari, dan puluhan aransemen atas lagu komponis lain. Belum termasuk beberapa lagu mars yang diciptakannya di zaman Orla, yang kini tak pernah lagi terdengar: Nasakom Bersatu, Resopim, Gotong Royong.

Subronto Kusumo Atmodjo meninggal dunia, pernah ditahan di Pulau Buru (G30.S/PKI), pencipta lagu Nasakom Bersatu. Komponis yang dikenal berpendirian teguh itu akhirnya harus menyerah. Di rumahnya, di kawasan Pondok Gede, Bekasi, Jumat 12 November, meninggal dunia karena tumor menyerang paru-parunya. Dialah Subronto Kusumo Atmodjo, 52 tahun, yang salah sebuah ciptaannya, entah berapa kali sehari, selalu dikumandangkan stasiun RRI di seluruh Indonesia di zaman Orla: Nasakom Bersatu.

Di tahun 50-an Subronto memang termasuk salah seorang komponis yang baik. Suburlah Tanah Airku, salah satu karyanya waktu itu, dianggap oleh beberapa musikus sebagai ciptaan yang enak didengar dan tahan zaman. Beberapa hari sebelum ia meninggal, sebuah grup paduan suara membawakan lagu itu di TVRI Jakarta. Bila di tahun 50-an itu nam. anya luas dikenal, karena ia memimpin grup paduan suara Merdeka. Di Jakarta. grup itu lebih populer dibanding grup paduan suara RRI, “karena yang dibawakan Pak Subronto kebanyakan lagu-lagu daerah, sementara grup RRI lebih banyak membawakan lagu klasik, lagu standar yang tidak populer,” tutur salah seorang wanita yang pernah tergabung dalam grup paduan suara RRI.Tapi sejak 1965 nama Subronto menghilang dari peredaran. Pada 1962 ia memang berangkat ke Jerman Timur untuk belajar tentang paduan suara dan komposisi di Sekolah Musik Hanns Eisler. Begitu pulang ke tanah air, setelah lulus dengan cum laude, 1968, ia langsung ditahan. Apa mau dikata, ia memang anggota Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang dilarang. Dua tahun kemudian, 1970, ia dikirim ke Inrehab Pulau Buru. Baru Desember 1977, Subronto kembali ke masyarakat Jakarta.
Toh, semangat kesenimanannya tidak luntur. Di Inrehab Buru pun ia membentuk grup musik, yang dinamakan Wai Apu Nada yang menyanyikan Kudaku Lari (lagu Melayu), Come Back to Sorrento dan La Paloma. Kontaknya dengan musik yang tak pernah terputus itulah, yang agaknya membuat Subronto menerima tawaran Alfred Simanjuntak, Dir-Ut PT. BPK Gunung Mulia. Ia diminta menjadi redaktur musik di badan penerbit itu.

Tentu, orang kelahiran Margotuhu, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah itu, bukannya tidak pernah mengalami krisis kejiwaan. Dari sebuah lagu yang diciptakannya pada 1968, kembalilah, ia seperti hendak bercerita tentang pengalaman batinnya. Bila pribadi sudah hilang/ Hanyut ditelan pacuan rangsang/ Ke mana diri harus kaucari/ Ke mana diri harus kaucari. Bait pertama ini seperti bercerita tentang hilangnya kepercayaan diri. Dan di bagian penutup, Subronto seperti sudah menemukan pegangan: kembali, kembalilah pada dirimu. Di Inrehab Buru — seperti dituturkannya dalam bukunya yang
barusan diterbitkan PT. BPK Gunung Mulia, Bertemu Kristus dalam Penjara–ia menemukan iman dalam Kristen. Dan ini, setelah ia memasyarakat kembali, membawanya menjadi anggota inti nyanyian gereja dari Yayasan Musik Gereja. Di yayasan ini Subronto membuktikan pula kebolehannya. Dari lirik yang ditulis oleh rekannya, ia menciptakan musiknya, dan terbitlah sebuah rekaman kaset lagu gereja, Kantata Bintang Betlehem. Menurut H.A. Van Dop, orang Belanda anggota yayasan tersebut, dalam kaset itu terasa benar napas keindonesiaannya. “Subronto mengkombinasikan gamelan dan alat gesek,” tutur Van Dop. Beberapa orang pemusik memang tidak melupakan Subronto, lepas dari warna politiknya waktu dulu. Grup paduan suara Svarna Gita, yang dibentuk pada 1980, memintanya untuk menjadi pelatih. “Kami ternyata cocok sekali dengan Pak Bronto,” tutur Wien Haryadi, sekretaris grup paduan suara yang cukup populer namanya di Jakarta itu. Bahkan wanita itu tidak melupakan kebaikan pelatihnya, yang tiap datang mendapat honorarium cuma Rp. 15 ribu, tapi selalu bersedia mengantar beberapa anggota grup sehabis latihan.

Sementara Subronto sendiri, seperti menemukan medan tantangan yang menggairahkan di Svarna Gita. Oktober 1981 di Studio V RRI Jakarta, grup paduan suara itu mempergelarkan opera karya Mendehlsson, Athalia, terjemahan Subronto. Ini termasuk pergelaran yang sukses. Terakhir Subronto 29 Juli ’82 bersama Svarna Gita, muncul di depan umum, di Taman Ismail Marzuki, membawakan konser musik. Tapi orang yang menurut Alfred Simanjuntak bisa menyesuaikan dengan lingkungan pergaulan itu, tak bisa diajak kompromi terhadap ciptaannya. Misalnya, pada 1962 sebuah grup paduan suara dalam membawakan ciptaan Subronto mengubah sebuah kata.
Langsung ia, yang mendengar dari seorang temannya, menyambar sepeda menuju tempat latihan. Entah bagaimana, akhirnya grup tersebut bersedia membawakan ciptaan Subronto sesuai dengan aslinya. Dalam catatan yang pernah ia berikan kepada TEMPO, Subronto mengaku telah menciptakan 20 nyanyian tunggal dengan iringan piano, 15 lagu untuk paduan suara, 25 lagu gerejawi, tiga buah kantata dan oratoria, sebuah musik untuk sendra tari, dan puluhan aransemen atas lagu komponis lain. Belum termasuk beberapa lagu mars yang diciptakannya di zaman Orla, yang kini tak pernah lagi terdengar: Nasakom Bersatu, Resopim, Gotong Royong.

***

Riwayat Hidup Subronto Kusumo Atmojo

 

Sekitar tahun 1920-1930, banyak terjadi pemberontakan melawan Belanda yang berorientasi kemerdekaan Indonesia. Karto Atmojo, salah seorang yang sangat diperhitungkan oleh Belanda pada saat itu, yang mempunyai pengaruh penting dalam bidang pembangunan di desa Margomulyo diantaranya membangun satu-satunya masjid di Margomulyo, beberapa jembatan, tanggul, dan bendungan-bendungan yang mengaliri sawah warga. Beliau berhasil menjadi seorang pengusaha di bidang penggilingan padi dan penggilingan tebu atau gula merah, walau tingkatannya rendah beliau sudah menggunakan mesin pada waktu itu. Terjadilah penangkapan terhadap para pejuang kemerdekaan, Karto Atmojo beserta teman-temannya ditangkap dan dibuang ke Boven Digul. Karena tidak tahu kapan dipulangkan, Karto Atmojo diizinkan membawa istrinya Sumilah beserta tiga orang putrinya. Tiga tahun di Boven Digul, Sumilah hamil. Karena tidak ada fasilitas kesehatan yang memadai, Sumilah diperkenankan pulang untuk melahirkan di Margomulyo. Dalam keberangkatan ke Jawa, Karto Atmojo berpesan “kalau kandunganmu nanti lahir perempuan, terserah kau beri nama siapa, tapi kalau laki-laki tolong beri nama SUBRONTO” .

RIWAYAT HIDUP
Nama : Subronto Kusumo Atmojo
Tanggal dan tempat lahir: Margomulyo, Tayu, Pati, Jawa Tengah, 12 Oktober 1929.
Sejak umur ± 5 tahun Subronto dititipkan oleh ibunya kepada kakaknya yang pertama (Sitti Kuntari) di Kudus, lalu bertempat tinggal pada kakaknya nomor 3 (Sitti Muntamah/istri dari Hadi Sumarto) di Surabaya dan kemudian tinggal dengan kakaknya no. 4.

Cerita kecil::
Di rumah Hadi Sumarto mempunyai seperangkat gamelan, mempunyai paguyuban karawitan yang diberi nama “Mardi Laras”. Diadakan latihan setiap Sabtu dan Kamis malam hari. Subronto sering tertidur di sela-sela gamelan. Kalau ada latihan, Subronto selalu nonton sampai larut malam, tidak mau tidur kalau latihannya belum selesai. Di hari latihan, kebetulan latihannya lengkap, dengan pembukaan lagu puspowarno. Yang pegang gambang harus membuka dulu dengan memukul wilahan 6 12 32 21 63 3 121 55 65. Ternyata wiyogonya berulang-ulang tidak bisa, pelatih marah seketika Subronto nyeletuk “Begitu saja kok nggak bisa?” diambilnya gambang dan tanpa ragu-ragu dan bisa. Semua yang hadir tercengang, anak kecil yang belum mengenal huruf bisa memainkan gambang, hafal wilahan di luar kepala.

1935-1941
HIS Semarang (SD)-tidak tamat
Ikut Hadi Sumarto yang waktu itu sebagai ketua SBKB (Serikat Buruh Kendaraan Bermotor) Semarang.
Mendekat datangnya Jepang ke Indonesia Subronto dipindahkan pada kelas 7 di Neutrale School Keboromo, Tayu Pati. Sesudah Jepang mendarat, Subronto dikirim kembali ke Semarang.
1942
Menamatkan pendidikan rendahnya di Taman Siswa Semarang (SD).
Mulai di Taman Siswa mendapat pendidikan kebudayaan/kesenian dan sejak itu aktif dalam berbagai kegiatan seni suara dan sandiwara. Kepanduan di KBI.
Cerita kecil:
Subronto mengajak keponakannya Hartadi Darono, nonton sepak bola di lapangan Citaru. Sepulang nonton di tengah jalan dicegat oleh sinyo kecil, lebih kecil dari Subronto. Sinyo kecil memukul Subronto dari belakang. Subronto reflek membalas pukul sinyo kecil. Sinyo kecil lari, seketika dari rumah keluar sinyo-sinyo yang jauh lebih besar sebanyak 4 orang berumur belasan tahun, ganti keroyok Subronto. Melihat gejala tidak sehat, Subronto memberi aba-aba kepada Hartadi untuk segera lari. Subronto melawan dengan pukulan sambil menjauh dari depan rumah mereka. Berakhir mereka tidak memburu Subronto. 10 menit berjalan, dari belakang datang sepeda motor dengan zijspan di samping (motor cinthung, yang biasa dipakai untuk mengambil orang) berhenti di depan Subronto, memberi kode Subronto dan Hartadi untuk naik. Militer Polisi (MP) itu tancap gas menuju ke Hoofd Beurau. Turun dari zijspan, polisi menggandeng mereka masuk kamar, duduk menunggu. 1,5 jam menunggu, mereka dipindah ke ruangan lain, di sana duduk Polisi Belanda. “Hai kamu orang inlander berani-beraninya mukul sinyo Belanda, kenapa kamu melawan, apa kamu tidak tahu kalau Belanda di sini mengatur negaramu dan menghidupimu?”. Subronto menjawab, “habis, saya tidak tahu apa-apa dari belakang saya dipukul sinyo kecil, ya saya balas malah saya dikeroyok saudara-saudaranya yang lebih besar”. Polisi berkata lagi, “lain kali kalau kamu ketemu sama sinyo harus ngalah, tidak boleh balas, kalau kamu ulangi lagi awas saya akan masukkan kamu di sel, lihat seberang sana ada sel dan kamu saya kumpulkan dengan maling-maling dan rampok”.
1943
Sebagai petani, Karto Atmojo ingin anak laki-lakinya menjadi petani juga. Subronto dimasukkan ke Noogyo-Gakko (Sekolah Pertanian Menengah), Pati-tamat pada tahun 1945.
1945-1946
Selama sekolah-sekolah ditutup di zaman berakhirnya Perang Dunia II tahun 1945, Subronto menggabungkan diri menjadi anggota Markas Pertahanan Pelajar di Pati.
Sampai tahun 1946 Subronto tidak bersekolah, kemudian dikirim oleh orang tuanya ke Jogja, tinggal dengan kakaknya no. 5 agar melanjutkan sekolah.

1946-Juli’47
Melanjutkan sekolah di Taman Madya Yogya.
Ketika liburan bulan Juli, pulang ke Margomulyo dan tidak bisa kembali ke Yogyakarta karena terhalang Clash pertama. Sampai akhir tahun 1947 berada di Margomulyo dan memimpin kesenian ketoprak, Karto Atmojo marah besar karena ini, pada permulaan 1948 Subronto dikembalikan ke Jogja untuk melanjutkan pendidikan.
1948-Juli 1950
Bersekolah Taman Madya, Yogyakarta.
Ketika peristiwa Madiun ia masih bersekolah di yogyakarta.
1948-Juli 1950
Selama Clash ke-II ia menggabungkan diri di TP (Tentara Pelajar) Batalyon 300. masuk regu mobil di bawah pimpinan Kapten Martono, kemudian ditempatkan pada K.O.D.M Sleman/Mlati Yogyakarta sebagai Kepala Staf Sekretariat dengan pangkat terakhir Letnan II. Di bawah komando Kapten Zidni Nuri dan Hisbullah.

1950-1951
Di pertengahan tahun 1950, Subronto meninggalkan Yogyakarta, pergi menengok orang tuanya di Tayu, dan melanjutkan sekolah di Taman Madya Semarang-tamat. Pada akhir tahun 1950 Taman Madya diambil alih oleh pemerintah dan menjadi SMA Negeri dan lulus di bagian A pada tahun 1951. Selama di SMA menjadi anggota koor Gereja Pantekosta Semarang dan aktif juga dalam berbagai kegiatan seni suara dan sandiwara. Ia mendaftarkan diri sebagai Demobilisan Pelajar memenuhi seruan pemerintah. Disamping aktif dan menjadi ketua IPPI (Kares) Semarang. Subronto berangkat ke Jakarta dengan maksud ingin melanjutkan pendidikan pada Fakultas Sastra UI, berhubung sudah lepas dari orang tuanya, maka harus bekerja dan pindah mencari pendidikan sore di Perguruan Tinggi Ilmu Jurnalistik.
1951-1952
Perguruan Tinggi Ilmu Jurnalistik, Jakarta-tidak tamat (sampai tingkat I).
Nov 1951-31 Januari 1954
Karyawan Kementrian PP&K, Jawatan Pendidikan Masyarakat Bagian Pemuda, Jakarta sebagai Ajun Komisaris/menulis di mass-media dan menjadi redaktur majalah ”PEMUDA” yang dikepalai oleh Suyono Atmo.
Februari 1952
Masuk anggota Paduan Suara ”Gembira” Jakarta.
Nov 1952-Juli 1962
Pemimpin Ansambel Nyanyi & Tari Gembira. Ansambel ini perkembangan dari Paduan Suara Gembira yang didirikan oleh 3 orang pemuda delegasi (Titi Kamaria, Sudharnoto, Bintang Suradi) sepulangnya dari Festival Pemuda/Mahasiswa Demokratik Sedunia di Berlin.
1952
Sejak bergabung dengan paduan suara Gembira dia mempelajari teori musik oleh Amir Pasaribu di majalah-majalah Zenith, Horison, dsb. Selain itu Subronto bergaul akrab dengan para tokoh-tokoh musik pada waktu itu, tanpa melewatkan kesempatan untuk berguru dan menimba ilmu pengetahuan musik dari beliau-beliau, tokoh-tokoh musik tahun 1952-54 antara lain Amir Pasaribu, Sutisna, RAJ Sujasmin, Sudharnoto, Muchtar Embut, yang serta merta memberinya nama ”Subakat”, karena dinilainya talenta musik Subronto sangat tinggi.
Dalam mengarang lagu, berprinsip, seperti halnya Cornel Simanjuntak bahwa musik/nada mengabdi pada lirik/kata-katanya: tekanan kata harus dinyatakan juga dalam tekanan musiknya. Kalau menjumpai suatu sajak/syair/puisi yang dinilainya kuat untuk dimusikkan, diungkapkannya dengan ”puisi ini menyanyi”. Sebelum menuntut ilmu musik berstudi di Jerman, ada karya puisi penyair-penyair yang digarapnya menjadi karya musik, antara lain berjudul ”Rukmanda”, ”Matinya Seorang Petani”. Untuk puisi karya Usmar Ismail berjudul ”Kemuning”, disusunnya dalam komposisi musik sebagai tugas persyaratan menyelesaikan studinya pada tahun 1964 di Hochschule fur Musik.
Subronto adalah pendukung Bung Karno yang luar biasa. Bung Karno menyatakan ”perang” terhadap musik ”ngak-ngik-ngok”, maka dia sangat tanggap dengan menggalakkan penggalian lagu-lagu rakyat/daerah yang diangkatnya/digarapnya menjadi lagu artistik dalam aransemen untuk paduan suara. Lagu-lagu pendek sederhana seperti Yamko Rambe Yamko, Cik-cik Periuk, O Inani Keke, dls. Apapun yang diserukan dalam statement politiknya bung Karno, serta merta dituangkannya dalam bentuk lagu, antara lain Nasakom Bersatu, Resopim, Sandang Pangan, Bebaskan Irian, dsb.
Juli 1953
Ikut dalam Delegasi Pemuda/Mahasiswa Demokratik Sedunia di Bukarest selama 3 bulan.
1953,1956, 1957
Sebagai utusan pemuda/mahasiswa/seniman ke Nederland, Uni Sovyet, RRT, Polandia, Republik Demokrasi Jerman, Cekoslowakia, Rumania, Hongkong, dan Republik Demokrasi Vietnam.
1954-1960
Kepala Sekretariat & Penerjemah Kedutaan Besar Cekoslowakia, Jakarta.
1954-1961
Pembantu siaran kesenian RRI-Studio Jakarta. Memimpin siaran radio Paduan Suara Gembira sebulan sekali.
1955
Utusan sebagai seniman bersama Subiarto selaku mahasiswa ke Republik Demokrasi Vietnam dan Republik Rakyat Tiongkok selama kurang lebih 3 bulan.
1957
Ikut dalam Delegasi Pemuda/Mahasiswa sebagai ketua kesenian ke Festival Pemuda & Mahasiswa Demokratik Sedunia di Moskow.
1961-1966
Penata Kebudayaan Golongan E/II pada Inspeksi Kebudayaan Daerah Jakarta Raya Jawatan Departemen PP&K.
Februari 1961
Dalam rangka perjuangan Trikora, Ansambel Nyanyi & Tari Gembira yang ke-10 dengan cara-acara sebagai berikut:
Malam pertama diadakan resepsi dengan mengundang para tokoh-tokoh instansi terkait dan tokoh-tokoh kebudayaan lainnya, yang diberi kesempatan untuk memberi sambutan, selesai setiap pidato disambut dengan alunan paduan suara.
Malam kedua dipagelarkan karya musiknya nyanyi dan tari gerak ”Bila Ale Kembale”. Menyusun suatu potpourri lagu-lagu Maluku menjadi jalinan karya musik dengan gerak, dengan dinamainya ”Sendra Nyanyi” bertemakan kehidupan nelayan yang diberinya judul ”Bila Ale Kembale”. Di dalamnya dimasukkan komposisinya sendiri yang bernafaskan nada-nada Ambon_Maluku untuk solo soprano dan solo Bariton. Pada pagelarannya yang dilaksanakan pada kesempatan ulang tahun dasawarsa ”Gembira” ditampilkan sebagi soprano Retno Anita Rahman (zaman Orde Baru menjadi penyiar TVRI) dan penyanyi bariton diserahkan kepada Kondar Sibarani (pemenang penyanyi Seriosa dari Medan pada waktu itu). Sebuah karya musik sendra-nyanyi, dengan adegan Soprano berpisah dari dan menantikan kekasihnya kembali (nelayan bariton) bersama kawan-kawannya pulang dari laut. Karya ini mendapat dukungan orkest symphonie dari RRI studio Jakarta di bawah kondaktor Lie Eng Liong (Adhidarma) yang terkenal waktu itu. Pergelaran perdana ”Bila Ale Kembale” bertempat di gedung kesenian Pasar Baru, Jakarta Pusat, yang kedua di Zandvoort, Tanjung Priok, dimana hadir juga Perdana Menteri RI Dr. Leimena. Seluruh partitur karya ini termasuk partij-partij untuk orkes hilang di gedung RRI Jakarta karena terbakar. Dalam menyusun karya ini, Subronto menghubungi tokoh-tokoh Ambon yang ada di Jakarta, a.l Ny. Siwabessy, dll.

Juli 1962-Agustus 1965
Sekolah Tinggi Musik ”Hanns Eisler” dalam Jurusan Kepemimpinan Paduan Suara dan Ansambel Kesenian di Berlin, Republik Demokrasi Jerman dengan predikat cum laude dalam rangka tugas belajar dari Kementrian PP&K Rep. Indonesia. Lulus pada bulan Juli 1965 dan pulang ke tanah air pada bulan Agustus 1965, disambut meriah oleh seluruh keluarga Ansambel Nyanyi dan Tari Gembira di Airport Kemayoran.
Dalam bulan Agustus itu pula rektornya, Prof. Dr. Eberhart Rebling bersama dengan istrinya Lin Yaldati, datang ke Indonesia atas undangan Lekra. Subronto menjadi pengantar dan penerjemah sampai ke pulau Bali.
1964
Sewaktu studi di Berlin mendapat kesempatan untuk menjadi aktor film bagi DEFA (TV-nya Jerman) bersama dengan seorang mahasiswi Indonesia, Sari dalam cerita perjuangan kemerdekaan Malaysia yang judulnya ”Das Madchen aus dem Dschungel” dalam adegan Subronto mengemudikan perahu kecil di sebuah danau dalan perannya sebagai kurir. Sutradaranya sangat puas atas aktingnya karena tidak pernah mengulang.
Dalam liburan panjang mengajar gamelan Jawa kepada para mahasiswa Denmark yang berminat dengan musik Jawa atas perintah Duta Besar RI di Kopenhagen.
Oktober 1965
Ditangkap dan ditahan di Markas BRGIEF di daerah Condet CIJANTUNG jaksel dengan tuduhan terlibat G30S, selama 28 hari.
1966-1967
Sopir bemo milik keponakannya Hartadi Darono dan guru privat piano.
Waktunya diisi dengan memerhatikan keadaan sekeliling yang gawat bagi ”golongan tertentu” pada masa itu, menyaksikan rumah Situmeang dikrutuk batu-batu dan bagaimana tingkah pola masa. Atas beberapa keadaan Subronto membuat komposisi-komposisi musik, karena takut adanya penggeledahan-penggeledahan rumah sewaktu-waktu, ciptaan-ciptaannya itu dititipkann kepada Toto yang bekerja di Kedutaan Besar Uni Sovyet.
1967-1968
Wartawan dari Cekoslowakian News-Agency CTK.
1967
Panitia peringatan hari Pattimura akan mengadakan acara “Floating Shop” diisi dengan pergelaran musik dan lain-lain mata acara. Atas permintaan panitia, Subronto menyusun suatu komposisi untuk koor dan orkes berjudul “Maluku dari Abad ke Abad” yang dibawakan oleh Group Kesenian Pattimura Muda yang terdiri dari mahasiswa dan sarjana Maluku. Komposisi dengan durasi 50 menit. Salah seorang ketua panitia, Commodor Udara Luhukai yang meninggal dunia pada saat pembakaran kembang-api, salah satu mata acara peringatan di pelabuhan Ambon pada tanggal 14 Mei 1967. karya ini tidak sempat lagi dipentaskan, seluruh scorenya masih ada ditulis dengan pensil.
2 April 1967
Membentuk paduan suara ”Jakarta” namun tidak bisa aktif.
30 April 1968
Mengadakan konser pertama di tanah air sejak pulang dari Jerman bertempat di Kedutaan Besar Republik Demokratik Jerman, Jakarta.
5 Agustus 1968
Pada waktu subuh pagi diambil dari rumah oleh militer Kalong (dituduh ada hubungan dengan rahmat, pelukis LEKRA) dan ditahan berpindah-pindah tempat, di Gunungsari, Tangerang (tanah abang) dan akhirnya dipenjara Salemba sampai 1920.
1970-Des 1977
di Pulau Buru.
Sebelum dikirim ke Pulau Buru, Subronto tinggal di satu sel dengan seorang evangelis Luhukai yang menginjilinya. Pengalamannya mendengarkan dakwah-dakwah di penjara mendorongnya untuk memilih Kristen. Karena ada sangsi bagi tapol yang pindah agama, maka setelah di pulau buru tanggal 27 April 1971 dibaptis Kristen Protestan.
Di Pulau Buru, tapol dijaga oleh tentara suku Maluku yang kejam; perasaan Subronto terhadap suku ini berbalik, yang dahulunya suka dengan lagu-lagu Maluku sehingga membuat karya musik berdasarkan nada-nada Maluku ”Bila Ale Kembale”.
Karya-karya Subronto waktu di pengasingan Buru, a.l menulis karangan tentang ”Lagu Rakyat”, tentang ”Keroncong”, juga naskah berjudul ”Pijitan Gitar Disertai Teori Musik Singkat”, yang belum sempat diterbitkan. Dan tentang ”Koor dirigent” yang akhirnya diterbitkan oleh BPK ”Gunung Mulia” pada tahun 1983.
1974-1977
Membentuk dan memimpin ”Bandko” (Kelompok Musik di Markas Komando) di pulau Buru. Mengadakan acara-acara musik di unit-unit.
Sebagai kristiani, Subronto memperkaya musik gereja dengan bertolak dari prinsip agar kekristenan Indonesia dapat dicerminkan a.l dari lagu-lagu pujian yang bernafaskan nada-nada khas Indonesia. Subronto berpendapat bahwa musik Indonesia kontemporer seyogyanya mengandung, atau berdasarkan nada-nada Indonesia.
Menjelang Natal tahun 1976 Subronto membuat komposisi musik Kantata Natal berjudul ”Bintang Bethlehem”, kelahiran Yesus. Lirik dari Amarzan Loebis, yang dipentaskan bersama kawan-kawan tapol di Pulau Buru dengan iringan orkes gesek dan gamelan Jawa: saron dan gong sebagai pagelaran pertama pada waktu perayaan Natal di Buru. Sejak tahun 1974, para tapol mendapat kelonggaran untuk mengadakan kegiatan sesuai dengan bidang mereka masing-masing. Mengenai komposisi ”Bintang Bethlehem”, banyak pihak yang berpendapat bahwa blending musik Jawa dengan musik Baratnya sangat mulus.
20 Des 1977
Tiba kembali di Jakarta pulang dari Pulau Buru.
25 Des 1977
Merayakan Natal ditengah-tengah keluarga.
Feb 1978 Nov 1982
Sebulan setelah pulang ke Jakarta, Subronto dijemput oleh Alfred Simanjuntak Direktur BPK ”Gunung Mulia” untuk bekerja sebagai penekun dari Yamuger (Yayasan Musik Gereja) merangkap di BPK Gunung Mulia Jakarta. Di Yamuger dia mempunyai wadah untuk pelayanannya kepada Tuhan Yesus Kristus dengan mengarang lagu-lagu rohani dengan bertolak prinsip agar supaya kekristenan orang Indonesia tercermin antara lain oleh lagu-lagu pujian yang bernafaskan nada-nada khas Indonesia yang berbhineka itu, antara lain gamelan Jawa, musik pentatonik. Di Yamuger ada satu tim yang menyaring lagu-lagu gerejawi, terjemahan dari lagu mancanegara, komposisi baru dari dalam negeri, Subronto menhadi anggota TING (Tim Inti Nyanyian Gereja) itu. Subronto menyelenggarakan pembinaan koor dirigen sampai beberapa angkatan.
Pimpinan BPK Gunung Mulia mengangkat Subronto menjadi penanggung jawab personalia, disamping tetap menjadi motor Yamuger.
1978
Karya musiknya yang digarap/dikarang di Pulau Buru, Kantata Natal ” Bintang Bethlehem”, yang adalah komposisi musik barat diblending dengan nada-nada gamelan Jawa: saron, kenong, kempul, gong, ditayangkan di TVRI, produksi YAKOMA. Nama dan figur pengarangnya tidak ikut ditayangkan (diblackout).
1978-1979
Pelatih paduan suara di Bina Vokalia, milik Pranajaya.
Rombongan koor wanita ”Bina Vokalia” yang mengikuti lomba koor internasional di Belanda pada tahun 1980, berhasil meraih juara III, tetapi Subronto tidak diikutsertakan dalam rombongan tersebut karena adanya larangan ke luar negeri.
Kelompok ibu-ibu ”Bina Vokalia” keluar dari ”Bina Vokalia” dan membentuk grup ”Svarna Gita”, mereka minta Subronto menjadi pelatih/dirigen nya.
1979-1980
Dikirim ke Tondano Sulawaesi Utara dalam rangka pembinaan dan pengarahan koor dirigen.
Mengikuti seminar, lokakarya musik gereja di Jakarta, di Sukabumi, menjadi moderator, menjadi anggota maupun ketua dewan juri lomba paduan suara gereja.
Mengadakan pembinaan dan pengarahan kepada para koor-dirigent di Jakarta. Bahkan juga dikirim ke Tomohon bersama Jerry Silangit untuk hal yang sama.
Mengadakan kerja sama dengan Chatarina Wiriadinata, pemusik, penyanyi yang mengelola Sanggar ”Suswara” di Bandung maupun Jakarta. Subronto sering diundang untuk menjadi dirigen tamu pada konser-konsernya baik di Bandung maupun di Jakarta.
Menjadi Choir Repetitor untuk pementasan konser Oratorium ”Requiem” W.A Mozart oleh paduan suara Svarna Gita dibawah kondaktor Ati Bagio, produksi Ati Bagio.

1979
Memprakarsai pendirian Yayasan ”Gita Persada” yang diketuai oleh Pdt. Marantika. Yayasan yang terletak di daerah Klender, Kebon Kelapa, Jakarta Timur ini memproduksi dan mereparasi alat musik petik/gesek seperti gitar, biola, cello, dsb. Dasar pemikiran pembentukan yayasan adalah memanfaatkan bahan-bahan baku untuk pembuatan alat musik tsb yang berlimpah di tanah, air, bambu, kayu. Para pengurus adalah dari PGI (Persatuan Gereja-gereja Indonesia). Setelah meninggalnya Subronto, ada sesuatu hal yang kurang beres dalam pengelolaan yayasan oleh pengurusnya, dengan rekening bank di Algemene Bank Nederland N.V.
1981
Mengadakan konser drama ”Athalia”, Felix Mendelson Bertholdu, yang dipimpinnya sendiri sepenuhnya, produksi ”Svarna Gita” di Studio RRI, Jakarta.
Juli 1982
Konser Piano ”Svarna Gita” di TIM; konsernya terakhir, paduan suara, produksi Svarna Gita.

Dalam pemimpinnya paduan suara Gembira berkembang menjadi Ansambel Nyanyi dan Tari Gembira dengan kegiatan-kegiatan seni antara lain atas order panitia negara penyambutan tamu-tamu luar negeri mengadakan pagelaran seni-suara dan tarian dengan lagu-lagu nasional, perjuangan, rakyat/daerah, juga lagu rakyat dari negara asal tamu juga tarian.

September-Oktober 1982
Dirawat di rumah sakit Pertamina karena terkena penyakit kanker otak dan sekaligus paru-paru.
12 November 1982
Meninggal dunia dan dimakamkan di Menteng Pulo.

KETERANGAN
Telah terdaftar sebagai calon Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia dengan nomor pendaftaran 4259/A/1/VII/59 tertanggal 15 Juli 1959.
Mengorganisir pemutaran-pemutaran film di gedung-gedung bioskop untuk anak-anak sekolah, akhirnya bersama dengan ibu Siwabessy dan Zus Fransisca Fangidey dan mendapat dukungan dari Bapak Brigjen Suharyo (yang memproduksi film ”Tangan-tangan Kotor”) membentuk Yayasan ”Kutilang” yang tujuannya memberikan Voeding mental/spiritual kepada anak usia sekolah dasar dan menengah melalui film yang bermutu dan sesuai.
Subronto sebagai pemimpin umum Ansambel Tari dan Nyanyi Gembira merangkap sebagai dirigen.

Sekitar tahun 1920-1930, banyak terjadi pemberontakan melawan Belanda yang berorientasi kemerdekaan Indonesia. Karto Atmojo, salah seorang yang sangat diperhitungkan oleh Belanda pada saat itu, yang mempunyai pengaruh penting dalam bidang pembangunan di desa Margomulyo diantaranya membangun satu-satunya masjid di Margomulyo, beberapa jembatan, tanggul, dan bendungan-bendungan yang mengaliri sawah warga. Beliau berhasil menjadi seorang pengusaha di bidang penggilingan padi dan penggilingan tebu atau gula merah, walau tingkatannya rendah beliau sudah menggunakan mesin pada waktu itu.
Terjadilah penangkapan terhadap para pejuang kemerdekaan, Karto Atmojo beserta teman-temannya ditangkap dan dibuang ke Boven Digul. Karena tidak tahu kapan dipulangkan, Karto Atmojo diizinkan membawa istrinya Sumilah beserta tiga orang putrinya. Tiga tahun di Boven Digul, Sumilah hamil. Karena tidak ada fasilitas kesehatan yang memadai, Sumilah diperkenankan pulang untuk melahirkan di Margomulyo. Dalam keberangkatan ke Jawa, Karto Atmojo berpesan “kalau kandunganmu nanti lahir perempuan, terserah kau beri nama siapa, tapi kalau laki-laki tolong beri nama SUBRONTO” .

RIWAYAT HIDUP
Nama
Subronto Kusumo Atmojo
Tanggal dan tempat lahir
Margomulyo, Tayu, Pati, Jawa Tengah, 12 Oktober 1929
Sejak umur ± 5 tahun Subronto dititipkan oleh ibunya kepada kakaknya yang pertama (Sitti Kuntari) di Kudus, lalu bertempat tinggal pada kakaknya nomor 3 (Sitti Muntamah/istri dari Hadi Sumarto) di Surabaya dan kemudian tinggal dengan kakaknya no. 4.
Cerita kecil::
Di rumah Hadi Sumarto mempunyai seperangkat gamelan, mempunyai paguyuban karawitan yang diberi nama “Mardi Laras”. Diadakan latihan setiap Sabtu dan Kamis malam hari. Subronto sering tertidur di sela-sela gamelan. Kalau ada latihan, Subronto selalu nonton sampai larut malam, tidak mau tidur kalau latihannya belum selesai. Di hari latihan, kebetulan latihannya lengkap, dengan pembukaan lagu puspowarno. Yang pegang gambang harus membuka dulu dengan memukul wilahan 6 12 32 21 63 3 121 55 65. Ternyata wiyogonya berulang-ulang tidak bisa, pelatih marah seketika Subronto nyeletuk “Begitu saja kok nggak bisa?” diambilnya gambang dan tanpa ragu-ragu dan bisa. Semua yang hadir tercengang, anak kecil yang belum mengenal huruf bisa memainkan gambang, hafal wilahan di luar kepala.

1935-1941
HIS Semarang (SD)-tidak tamat
Ikut Hadi Sumarto yang waktu itu sebagai ketua SBKB (Serikat Buruh Kendaraan Bermotor) Semarang.
Mendekat datangnya Jepang ke Indonesia Subronto dipindahkan pada kelas 7 di Neutrale School Keboromo, Tayu Pati. Sesudah Jepang mendarat, Subronto dikirim kembali ke Semarang.
1942
Menamatkan pendidikan rendahnya di Taman Siswa Semarang (SD).
Mulai di Taman Siswa mendapat pendidikan kebudayaan/kesenian dan sejak itu aktif dalam berbagai kegiatan seni suara dan sandiwara. Kepanduan di KBI.
Cerita kecil:
Subronto mengajak keponakannya Hartadi Darono, nonton sepak bola di lapangan Citaru. Sepulang nonton di tengah jalan dicegat oleh sinyo kecil, lebih kecil dari Subronto. Sinyo kecil memukul Subronto dari belakang. Subronto reflek membalas pukul sinyo kecil. Sinyo kecil lari, seketika dari rumah keluar sinyo-sinyo yang jauh lebih besar sebanyak 4 orang berumur belasan tahun, ganti keroyok Subronto. Melihat gejala tidak sehat, Subronto memberi aba-aba kepada Hartadi untuk segera lari. Subronto melawan dengan pukulan sambil menjauh dari depan rumah mereka. Berakhir mereka tidak memburu Subronto. 10 menit berjalan, dari belakang datang sepeda motor dengan zijspan di samping (motor cinthung, yang biasa dipakai untuk mengambil orang) berhenti di depan Subronto, memberi kode Subronto dan Hartadi untuk naik. Militer Polisi (MP) itu tancap gas menuju ke Hoofd Beurau. Turun dari zijspan, polisi menggandeng mereka masuk kamar, duduk menunggu. 1,5 jam menunggu, mereka dipindah ke ruangan lain, di sana duduk Polisi Belanda. “Hai kamu orang inlander berani-beraninya mukul sinyo Belanda, kenapa kamu melawan, apa kamu tidak tahu kalau Belanda di sini mengatur negaramu dan menghidupimu?”. Subronto menjawab, “habis, saya tidak tahu apa-apa dari belakang saya dipukul sinyo kecil, ya saya balas malah saya dikeroyok saudara-saudaranya yang lebih besar”. Polisi berkata lagi, “lain kali kalau kamu ketemu sama sinyo harus ngalah, tidak boleh balas, kalau kamu ulangi lagi awas saya akan masukkan kamu di sel, lihat seberang sana ada sel dan kamu saya kumpulkan dengan maling-maling dan rampok”.
1943
Sebagai petani, Karto Atmojo ingin anak laki-lakinya menjadi petani juga. Subronto dimasukkan ke Noogyo-Gakko (Sekolah Pertanian Menengah), Pati-tamat pada tahun 1945.
1945-1946
Selama sekolah-sekolah ditutup di zaman berakhirnya Perang Dunia II tahun 1945, Subronto menggabungkan diri menjadi anggota Markas Pertahanan Pelajar di Pati.
Sampai tahun 1946 Subronto tidak bersekolah, kemudian dikirim oleh orang tuanya ke Jogja, tinggal dengan kakaknya no. 5 agar melanjutkan sekolah.

1946-Juli’47
Melanjutkan sekolah di Taman Madya Yogya.
Ketika liburan bulan Juli, pulang ke Margomulyo dan tidak bisa kembali ke Yogyakarta karena terhalang Clash pertama. Sampai akhir tahun 1947 berada di Margomulyo dan memimpin kesenian ketoprak, Karto Atmojo marah besar karena ini, pada permulaan 1948 Subronto dikembalikan ke Jogja untuk melanjutkan pendidikan.
1948-Juli 1950
Bersekolah Taman Madya, Yogyakarta.
Ketika peristiwa Madiun ia masih bersekolah di yogyakarta.
1948-Juli 1950
Selama Clash ke-II ia menggabungkan diri di TP (Tentara Pelajar) Batalyon 300. masuk regu mobil di bawah pimpinan Kapten Martono, kemudian ditempatkan pada K.O.D.M Sleman/Mlati Yogyakarta sebagai Kepala Staf Sekretariat dengan pangkat terakhir Letnan II. Di bawah komando Kapten Zidni Nuri dan Hisbullah.

1950-1951
Di pertengahan tahun 1950, Subronto meninggalkan Yogyakarta, pergi menengok orang tuanya di Tayu, dan melanjutkan sekolah di Taman Madya Semarang-tamat. Pada akhir tahun 1950 Taman Madya diambil alih oleh pemerintah dan menjadi SMA Negeri dan lulus di bagian A pada tahun 1951. Selama di SMA menjadi anggota koor Gereja Pantekosta Semarang dan aktif juga dalam berbagai kegiatan seni suara dan sandiwara. Ia mendaftarkan diri sebagai Demobilisan Pelajar memenuhi seruan pemerintah. Disamping aktif dan menjadi ketua IPPI (Kares) Semarang. Subronto berangkat ke Jakarta dengan maksud ingin melanjutkan pendidikan pada Fakultas Sastra UI, berhubung sudah lepas dari orang tuanya, maka harus bekerja dan pindah mencari pendidikan sore di Perguruan Tinggi Ilmu Jurnalistik.
1951-1952
Perguruan Tinggi Ilmu Jurnalistik, Jakarta-tidak tamat (sampai tingkat I).
Nov 1951-31 Januari 1954
Karyawan Kementrian PP&K, Jawatan Pendidikan Masyarakat Bagian Pemuda, Jakarta sebagai Ajun Komisaris/menulis di mass-media dan menjadi redaktur majalah ”PEMUDA” yang dikepalai oleh Suyono Atmo.
Februari 1952
Masuk anggota Paduan Suara ”Gembira” Jakarta.
Nov 1952-Juli 1962
Pemimpin Ansambel Nyanyi & Tari Gembira. Ansambel ini perkembangan dari Paduan Suara Gembira yang didirikan oleh 3 orang pemuda delegasi (Titi Kamaria, Sudharnoto, Bintang Suradi) sepulangnya dari Festival Pemuda/Mahasiswa Demokratik Sedunia di Berlin.
1952
Sejak bergabung dengan paduan suara Gembira dia mempelajari teori musik oleh Amir Pasaribu di majalah-majalah Zenith, Horison, dsb. Selain itu Subronto bergaul akrab dengan para tokoh-tokoh musik pada waktu itu, tanpa melewatkan kesempatan untuk berguru dan menimba ilmu pengetahuan musik dari beliau-beliau, tokoh-tokoh musik tahun 1952-54 antara lain Amir Pasaribu, Sutisna, RAJ Sujasmin, Sudharnoto, Muchtar Embut, yang serta merta memberinya nama ”Subakat”, karena dinilainya talenta musik Subronto sangat tinggi.
Dalam mengarang lagu, berprinsip, seperti halnya Cornel Simanjuntak bahwa musik/nada mengabdi pada lirik/kata-katanya: tekanan kata harus dinyatakan juga dalam tekanan musiknya. Kalau menjumpai suatu sajak/syair/puisi yang dinilainya kuat untuk dimusikkan, diungkapkannya dengan ”puisi ini menyanyi”. Sebelum menuntut ilmu musik berstudi di Jerman, ada karya puisi penyair-penyair yang digarapnya menjadi karya musik, antara lain berjudul ”Rukmanda”, ”Matinya Seorang Petani”. Untuk puisi karya Usmar Ismail berjudul ”Kemuning”, disusunnya dalam komposisi musik sebagai tugas persyaratan menyelesaikan studinya pada tahun 1964 di Hochschule fur Musik.
Subronto adalah pendukung Bung Karno yang luar biasa. Bung Karno menyatakan ”perang” terhadap musik ”ngak-ngik-ngok”, maka dia sangat tanggap dengan menggalakkan penggalian lagu-lagu rakyat/daerah yang diangkatnya/digarapnya menjadi lagu artistik dalam aransemen untuk paduan suara. Lagu-lagu pendek sederhana seperti Yamko Rambe Yamko, Cik-cik Periuk, O Inani Keke, dls. Apapun yang diserukan dalam statement politiknya bung Karno, serta merta dituangkannya dalam bentuk lagu, antara lain Nasakom Bersatu, Resopim, Sandang Pangan, Bebaskan Irian, dsb.
Juli 1953
Ikut dalam Delegasi Pemuda/Mahasiswa Demokratik Sedunia di Bukarest selama 3 bulan.
1953,1956, 1957
Sebagai utusan pemuda/mahasiswa/seniman ke Nederland, Uni Sovyet, RRT, Polandia, Republik Demokrasi Jerman, Cekoslowakia, Rumania, Hongkong, dan Republik Demokrasi Vietnam.
1954-1960
Kepala Sekretariat & Penerjemah Kedutaan Besar Cekoslowakia, Jakarta.
1954-1961
Pembantu siaran kesenian RRI-Studio Jakarta. Memimpin siaran radio Paduan Suara Gembira sebulan sekali.
1955
Utusan sebagai seniman bersama Subiarto selaku mahasiswa ke Republik Demokrasi Vietnam dan Republik Rakyat Tiongkok selama kurang lebih 3 bulan.
1957
Ikut dalam Delegasi Pemuda/Mahasiswa sebagai ketua kesenian ke Festival Pemuda & Mahasiswa Demokratik Sedunia di Moskow.
1961-1966
Penata Kebudayaan Golongan E/II pada Inspeksi Kebudayaan Daerah Jakarta Raya Jawatan Departemen PP&K.
Februari 1961
Dalam rangka perjuangan Trikora, Ansambel Nyanyi & Tari Gembira yang ke-10 dengan cara-acara sebagai berikut:
Malam pertama diadakan resepsi dengan mengundang para tokoh-tokoh instansi terkait dan tokoh-tokoh kebudayaan lainnya, yang diberi kesempatan untuk memberi sambutan, selesai setiap pidato disambut dengan alunan paduan suara.
Malam kedua dipagelarkan karya musiknya nyanyi dan tari gerak ”Bila Ale Kembale”. Menyusun suatu potpourri lagu-lagu Maluku menjadi jalinan karya musik dengan gerak, dengan dinamainya ”Sendra Nyanyi” bertemakan kehidupan nelayan yang diberinya judul ”Bila Ale Kembale”. Di dalamnya dimasukkan komposisinya sendiri yang bernafaskan nada-nada Ambon_Maluku untuk solo soprano dan solo Bariton. Pada pagelarannya yang dilaksanakan pada kesempatan ulang tahun dasawarsa ”Gembira” ditampilkan sebagi soprano Retno Anita Rahman (zaman Orde Baru menjadi penyiar TVRI) dan penyanyi bariton diserahkan kepada Kondar Sibarani (pemenang penyanyi Seriosa dari Medan pada waktu itu). Sebuah karya musik sendra-nyanyi, dengan adegan Soprano berpisah dari dan menantikan kekasihnya kembali (nelayan bariton) bersama kawan-kawannya pulang dari laut. Karya ini mendapat dukungan orkest symphonie dari RRI studio Jakarta di bawah kondaktor Lie Eng Liong (Adhidarma) yang terkenal waktu itu. Pergelaran perdana ”Bila Ale Kembale” bertempat di gedung kesenian Pasar Baru, Jakarta Pusat, yang kedua di Zandvoort, Tanjung Priok, dimana hadir juga Perdana Menteri RI Dr. Leimena. Seluruh partitur karya ini termasuk partij-partij untuk orkes hilang di gedung RRI Jakarta karena terbakar. Dalam menyusun karya ini, Subronto menghubungi tokoh-tokoh Ambon yang ada di Jakarta, a.l Ny. Siwabessy, dll.

Juli 1962-Agustus 1965
Sekolah Tinggi Musik ”Hanns Eisler” dalam Jurusan Kepemimpinan Paduan Suara dan Ansambel Kesenian di Berlin, Republik Demokrasi Jerman dengan predikat cum laude dalam rangka tugas belajar dari Kementrian PP&K Rep. Indonesia. Lulus pada bulan Juli 1965 dan pulang ke tanah air pada bulan Agustus 1965, disambut meriah oleh seluruh keluarga Ansambel Nyanyi dan Tari Gembira di Airport Kemayoran.
Dalam bulan Agustus itu pula rektornya, Prof. Dr. Eberhart Rebling bersama dengan istrinya Lin Yaldati, datang ke Indonesia atas undangan Lekra. Subronto menjadi pengantar dan penerjemah sampai ke pulau Bali.
1964
Sewaktu studi di Berlin mendapat kesempatan untuk menjadi aktor film bagi DEFA (TV-nya Jerman) bersama dengan seorang mahasiswi Indonesia, Sari dalam cerita perjuangan kemerdekaan Malaysia yang judulnya ”Das Madchen aus dem Dschungel” dalam adegan Subronto mengemudikan perahu kecil di sebuah danau dalan perannya sebagai kurir. Sutradaranya sangat puas atas aktingnya karena tidak pernah mengulang.
Dalam liburan panjang mengajar gamelan Jawa kepada para mahasiswa Denmark yang berminat dengan musik Jawa atas perintah Duta Besar RI di Kopenhagen.
Oktober 1965
Ditangkap dan ditahan di Markas BRGIEF di daerah Condet CIJANTUNG jaksel dengan tuduhan terlibat G30S, selama 28 hari.
1966-1967
Sopir bemo milik keponakannya Hartadi Darono dan guru privat piano.
Waktunya diisi dengan memerhatikan keadaan sekeliling yang gawat bagi ”golongan tertentu” pada masa itu, menyaksikan rumah Situmeang dikrutuk batu-batu dan bagaimana tingkah pola masa. Atas beberapa keadaan Subronto membuat komposisi-komposisi musik, karena takut adanya penggeledahan-penggeledahan rumah sewaktu-waktu, ciptaan-ciptaannya itu dititipkann kepada Toto yang bekerja di Kedutaan Besar Uni Sovyet.
1967-1968
Wartawan dari Cekoslowakian News-Agency CTK.
1967
Panitia peringatan hari Pattimura akan mengadakan acara “Floating Shop” diisi dengan pergelaran musik dan lain-lain mata acara. Atas permintaan panitia, Subronto menyusun suatu komposisi untuk koor dan orkes berjudul “Maluku dari Abad ke Abad” yang dibawakan oleh Group Kesenian Pattimura Muda yang terdiri dari mahasiswa dan sarjana Maluku. Komposisi dengan durasi 50 menit. Salah seorang ketua panitia, Commodor Udara Luhukai yang meninggal dunia pada saat pembakaran kembang-api, salah satu mata acara peringatan di pelabuhan Ambon pada tanggal 14 Mei 1967. karya ini tidak sempat lagi dipentaskan, seluruh scorenya masih ada ditulis dengan pensil.
2 April 1967
Membentuk paduan suara ”Jakarta” namun tidak bisa aktif.
30 April 1968
Mengadakan konser pertama di tanah air sejak pulang dari Jerman bertempat di Kedutaan Besar Republik Demokratik Jerman, Jakarta.
5 Agustus 1968
Pada waktu subuh pagi diambil dari rumah oleh militer Kalong (dituduh ada hubungan dengan rahmat, pelukis LEKRA) dan ditahan berpindah-pindah tempat, di Gunungsari, Tangerang (tanah abang) dan akhirnya dipenjara Salemba sampai 1920.
1970-Des 1977
di Pulau Buru.
Sebelum dikirim ke Pulau Buru, Subronto tinggal di satu sel dengan seorang evangelis Luhukai yang menginjilinya. Pengalamannya mendengarkan dakwah-dakwah di penjara mendorongnya untuk memilih Kristen. Karena ada sangsi bagi tapol yang pindah agama, maka setelah di pulau buru tanggal 27 April 1971 dibaptis Kristen Protestan.
Di Pulau Buru, tapol dijaga oleh tentara suku Maluku yang kejam; perasaan Subronto terhadap suku ini berbalik, yang dahulunya suka dengan lagu-lagu Maluku sehingga membuat karya musik berdasarkan nada-nada Maluku ”Bila Ale Kembale”.
Karya-karya Subronto waktu di pengasingan Buru, a.l menulis karangan tentang ”Lagu Rakyat”, tentang ”Keroncong”, juga naskah berjudul ”Pijitan Gitar Disertai Teori Musik Singkat”, yang belum sempat diterbitkan. Dan tentang ”Koor dirigent” yang akhirnya diterbitkan oleh BPK ”Gunung Mulia” pada tahun 1983.
1974-1977
Membentuk dan memimpin ”Bandko” (Kelompok Musik di Markas Komando) di pulau Buru. Mengadakan acara-acara musik di unit-unit.
Sebagai kristiani, Subronto memperkaya musik gereja dengan bertolak dari prinsip agar kekristenan Indonesia dapat dicerminkan a.l dari lagu-lagu pujian yang bernafaskan nada-nada khas Indonesia. Subronto berpendapat bahwa musik Indonesia kontemporer seyogyanya mengandung, atau berdasarkan nada-nada Indonesia.
Menjelang Natal tahun 1976 Subronto membuat komposisi musik Kantata Natal berjudul ”Bintang Bethlehem”, kelahiran Yesus. Lirik dari Amarzan Loebis, yang dipentaskan bersama kawan-kawan tapol di Pulau Buru dengan iringan orkes gesek dan gamelan Jawa: saron dan gong sebagai pagelaran pertama pada waktu perayaan Natal di Buru. Sejak tahun 1974, para tapol mendapat kelonggaran untuk mengadakan kegiatan sesuai dengan bidang mereka masing-masing. Mengenai komposisi ”Bintang Bethlehem”, banyak pihak yang berpendapat bahwa blending musik Jawa dengan musik Baratnya sangat mulus.
20 Des 1977
Tiba kembali di Jakarta pulang dari Pulau Buru.
25 Des 1977
Merayakan Natal ditengah-tengah keluarga.
Feb 1978 Nov 1982
Sebulan setelah pulang ke Jakarta, Subronto dijemput oleh Alfred Simanjuntak Direktur BPK ”Gunung Mulia” untuk bekerja sebagai penekun dari Yamuger (Yayasan Musik Gereja) merangkap di BPK Gunung Mulia Jakarta. Di Yamuger dia mempunyai wadah untuk pelayanannya kepada Tuhan Yesus Kristus dengan mengarang lagu-lagu rohani dengan bertolak prinsip agar supaya kekristenan orang Indonesia tercermin antara lain oleh lagu-lagu pujian yang bernafaskan nada-nada khas Indonesia yang berbhineka itu, antara lain gamelan Jawa, musik pentatonik. Di Yamuger ada satu tim yang menyaring lagu-lagu gerejawi, terjemahan dari lagu mancanegara, komposisi baru dari dalam negeri, Subronto menhadi anggota TING (Tim Inti Nyanyian Gereja) itu. Subronto menyelenggarakan pembinaan koor dirigen sampai beberapa angkatan.
Pimpinan BPK Gunung Mulia mengangkat Subronto menjadi penanggung jawab personalia, disamping tetap menjadi motor Yamuger.
1978
Karya musiknya yang digarap/dikarang di Pulau Buru, Kantata Natal ” Bintang Bethlehem”, yang adalah komposisi musik barat diblending dengan nada-nada gamelan Jawa: saron, kenong, kempul, gong, ditayangkan di TVRI, produksi YAKOMA. Nama dan figur pengarangnya tidak ikut ditayangkan (diblackout).
1978-1979
Pelatih paduan suara di Bina Vokalia, milik Pranajaya.
Rombongan koor wanita ”Bina Vokalia” yang mengikuti lomba koor internasional di Belanda pada tahun 1980, berhasil meraih juara III, tetapi Subronto tidak diikutsertakan dalam rombongan tersebut karena adanya larangan ke luar negeri.
Kelompok ibu-ibu ”Bina Vokalia” keluar dari ”Bina Vokalia” dan membentuk grup ”Svarna Gita”, mereka minta Subronto menjadi pelatih/dirigen nya.
1979-1980
Dikirim ke Tondano Sulawaesi Utara dalam rangka pembinaan dan pengarahan koor dirigen.
Mengikuti seminar, lokakarya musik gereja di Jakarta, di Sukabumi, menjadi moderator, menjadi anggota maupun ketua dewan juri lomba paduan suara gereja.
Mengadakan pembinaan dan pengarahan kepada para koor-dirigent di Jakarta. Bahkan juga dikirim ke Tomohon bersama Jerry Silangit untuk hal yang sama.
Mengadakan kerja sama dengan Chatarina Wiriadinata, pemusik, penyanyi yang mengelola Sanggar ”Suswara” di Bandung maupun Jakarta. Subronto sering diundang untuk menjadi dirigen tamu pada konser-konsernya baik di Bandung maupun di Jakarta.
Menjadi Choir Repetitor untuk pementasan konser Oratorium ”Requiem” W.A Mozart oleh paduan suara Svarna Gita dibawah kondaktor Ati Bagio, produksi Ati Bagio.

1979
Memprakarsai pendirian Yayasan ”Gita Persada” yang diketuai oleh Pdt. Marantika. Yayasan yang terletak di daerah Klender, Kebon Kelapa, Jakarta Timur ini memproduksi dan mereparasi alat musik petik/gesek seperti gitar, biola, cello, dsb. Dasar pemikiran pembentukan yayasan adalah memanfaatkan bahan-bahan baku untuk pembuatan alat musik tsb yang berlimpah di tanah, air, bambu, kayu. Para pengurus adalah dari PGI (Persatuan Gereja-gereja Indonesia). Setelah meninggalnya Subronto, ada sesuatu hal yang kurang beres dalam pengelolaan yayasan oleh pengurusnya, dengan rekening bank di Algemene Bank Nederland N.V.
1981
Mengadakan konser drama ”Athalia”, Felix Mendelson Bertholdu, yang dipimpinnya sendiri sepenuhnya, produksi ”Svarna Gita” di Studio RRI, Jakarta.
Juli 1982
Konser Piano ”Svarna Gita” di TIM; konsernya terakhir, paduan suara, produksi Svarna Gita.

Dalam pemimpinnya paduan suara Gembira berkembang menjadi Ansambel Nyanyi dan Tari Gembira dengan kegiatan-kegiatan seni antara lain atas order panitia negara penyambutan tamu-tamu luar negeri mengadakan pagelaran seni-suara dan tarian dengan lagu-lagu nasional, perjuangan, rakyat/daerah, juga lagu rakyat dari negara asal tamu juga tarian.

September-Oktober 1982
Dirawat di rumah sakit Pertamina karena terkena penyakit kanker otak dan sekaligus paru-paru.
12 November 1982
Meninggal dunia dan dimakamkan di Menteng Pulo.

KETERANGAN
Telah terdaftar sebagai calon Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia dengan nomor pendaftaran 4259/A/1/VII/59 tertanggal 15 Juli 1959.
Mengorganisir pemutaran-pemutaran film di gedung-gedung bioskop untuk anak-anak sekolah, akhirnya bersama dengan ibu Siwabessy dan Zus Fransisca Fangidey dan mendapat dukungan dari Bapak Brigjen Suharyo (yang memproduksi film ”Tangan-tangan Kotor”) membentuk Yayasan ”Kutilang” yang tujuannya memberikan Voeding mental/spiritual kepada anak usia sekolah dasar dan menengah melalui film yang bermutu dan sesuai.
Subronto sebagai pemimpin umum Ansambel Tari dan Nyanyi Gembira merangkap sebagai dirigen.

 
Leave a comment

Posted by on January 1, 2012 in Bung Karno